KEDIRI, JP Radar Kediri- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri mendatangi Rumah Sakit Aura Syifa.
Menyusul laporan yang mereka terima soal dugaan pencemaran yang dikeluhkan warga sekitar rumah sakit di Jalan Joyoboyo, Dusun Doko, Desa Karangrejo, Kecamatan Ngasem itu.
Mereka juga mendatangi warga yang rumahnya berada di sekitar rumah sakit. Hasilnya? Ini menariknya, warga yang didatangi tim DLH mengaku tidak merasakan dampak dari limbah rumah sakit.
Mereka juga merasa tidak pernah mengeluh karena mencium bau tak sedap hingga batuk-batuk.
“Tidak ada bau. Ini saya juga sehat, tidak batuk-batuk. Saya juga tidak gatal-gatal, alhamdulillah sehat,” kata Yuliani, 53, salah seorang warga yang didatangi tim DLH.
Rumah wanita ini tidak jauh dari instalasi pengolahan air limbah (IPAL) milik rumah sakit Aura Syifa.
Wanita ini mengaku tinggal di tempat itu sejak 1998. Meskipun demikian, ketika awal pendirian rumah sakit, Yuliani mengakui ada beberapa keluhan.
Salah satunya seperti suara genset yang keras dan mengganggu. Namun, ketika melaporkannya ke pihak manajemen, hal itu langsung ditangani.
“Langsung dibangunkan ruangan. Jadi tidak ada suaranya,” jelasnya. Tiga tahun lalu, memang pernah ada permasalahan sampah.
Sampah yang bertumpuk di area RS sempat bau dan mengganggunya. Namun seperti sebelumnya, setelah diadukan ke manajemen, hal itu langsung ditangani.
“Setiap keluhan selalu langsung ditangani,” jelasnya. Hal serupa juga disampaikan oleh Umi, 45, warga yang rumahnya di belakang RS Aura Syifa.
Dia mengatakan hal yang sama. Tidak ada keluhan bau ataupun sejenisnya seperti yang sedang viral di media sosial (medsos).
“Ini juga tidak batuk-batuk,” jelasnya. Hal serupa juga disampaikan Widodo, ketua RT 020 RW 003. Menurutnya tidak ada keluhan dari warga. Mulai dari bau maupun batuk-batuk akibat dampak operasional RS Aura Syifa.
“Itu juga bukan tanda tangan saya,” jelasnya terkait adanya nama Widodo yang tanda tangan pengaduan ke DLH terkait dugaan pencemaran.
Terpisah, Sekretaris Desa Karangrejo, Ngasem Fajar Lutfi mengatakan, bahwa pihaknya juga sudah melakukan penelusuran.
Hasilnya, tidak ada warganya yang alami keluhan akibat operasional RS Aura Syifa. “Tidak ada yang mengeluh bau ataupun batuk,” jelasnya.
Dia menambahkan, dari hasil penelusuran, tidak ada warganya yang melakukan pelaporan ataupun turut melakukan aksi protes ke pihak RS.
Memang dalam surat aduan ada atas nama yang mirip dengan warganya. Namun, ketika diklarifikasi, warga yang namanya sama itu tidak melakukan tanda tangan pengaduan.
“Sejauh ini tidak ada warga yang komplain. Awal pembangunan memang ada. Namun sekarang tidak ada. Karena memang ketika ada keluhan langsung dilaporkan ke perangkat, baru disampaikan di RS, dan itu biasanya langsung ditindaklanjuti,” jelasnya.
Kepala DLH Kabupaten Kediri Putut Agung Subekti mengatakan, bahwa ada surat aduan terkait keluhan limbah. Baik ke bupati maupun DLH.
“Sebagai tindak lanjut kami lakukan verifikasi lapangan,” jelasnya. Dia mengatakan, verifikasi lapangan tidak hanya sekali kemarin saja.
Namun, akan dilakukan beberapa kali. Termasuk berkoordinasi dengan dinas terkait, seperti dinkes. Hal itu dilakukan untuk memastikan benar tidaknya adanya limbah yang mengganggu lingkungan.
“Terkait keluhan batuk-batuk, dari dinkes juga tidak ada lonjakan data terkait di wilayah itu. Tapi kami tak bisa gegabah. Harus sinkronkan lagi. Biar informasi tidak simpang siur. Yang jelas ini bukan terakhir, akan ada tindak lanjut lagi,” tegasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita