Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Aramco Vs Adidas

Kurniawan Muhammad
Penulis: Kurniawan Muhammad❯

 


Advertisement

 

By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Ini masih tentang perhelatan Piala Dunia 2026. Kali ini saya mengutip hasil analisis yang dikeluarkan oleh Brand Finance terhadap 21 sponsor resmi FIFA. Brand Finance adalah lembaga konsultan valuasi dan strategi merek independen terkemuka di dunia yang berpusat di London. Ada yang menarik dari hasil analisis tersebut: Dari 21 brand yang menjadi sponsor resmi FIFA, yang memiliki kenaikan nilai merek terbesar adalah Aramco, perusahaan energi asal Arab Saudi, perusahaan yang tidak berhubungan langsung dengan olahraga atau bola. Brand yang berhubungan langsung dengan olahraga atau bola, yaitu Adidas, malah berada di peringkat ke 12. 

Advertisement

Aramco mencatat estimasi kenaikan nilai brand-nya sebesar USD 1,1 miliar. Tambahan ini membuat nilai brand-nya meningkat dari sekitar USD 47,3 miliar pada awal 2026 menjadi sekitar USD 48,4 miliar pada Juli 2026. 

Peringkat kedua, ketiga, keempat dan kelima berturut-turut adalah Verizon, Hyundai, Coca-Cola, dan Bank of America. Semuanya ini bukan lah brand yang berhubungan langsung dengan olahraga. Bagaimana hal ini dapat dijelaskan? Sebuah perhelatan olahraga terbesar di dunia, tapi malah melambungkan nilai brand-brand yang tak berkaitan langsung dengan olahraga? 

Ini lah yang disebut dengan anomali komersial. Sebuah ajang yang dirayakan lewat keringat, sepatu bola, dan jersey, justeru memberikan “return on brand investment” terbesar bagi perusahaan minyak, telekomunikasi, dan perbankan.

Advertisement

Baca Juga: Marketing Piala Dunia 2026

Melalui tulisan ini, saya akan mencoba menjelaskan dalam konteks marketing. Dalam hal ini, saya mengutip dari buku “How Brands Grow: What Marketers Don’t Know” yang ditulis oleh Byron Sharp (Profesor of Marketing Science di Ehrenberg-Bass Institute). Di antara isi dari buku tersebut menjelaskan bahwa pertumbuhan nilai merek ditentukan oleh perluasan “physical availability” dan “mental availability” kepada audiens yang belum terjangkau (light buyers atau non-buyers). 

Sharp menegaskan, bahwa kunci utama pertumbuhan nilai merek atau brand bertumpu pada dua pilar utama: “Mental Availability” (seberapa mudah brand muncul di benak  konsumen saat situasi pembelian) dan “Physical Availability” (seberapa mudah brand ditemukan dan dibeli secara fisik maupun digital).  

Merujuk pada konsep itu, bagaimana brand seperti Adidas bisa kalah pamor dalam hal nilai brand dengan brand-brand yang bukan secara langsung terkait dengan olahraga? 

Sharp berargumen, bahwa brand bertumbuh bukan dengan cara memperkuat loyalitas pelanggan lama (heavy buyers), melainkan dengan merebut “light buyers” dan “non-buyers” (audiens yang jarang atau belum pernah membeli produk tersebut).

Advertisement

Artikel Terkait

Timnas Argentina Hadapi 4 Dugaan Pelanggaran di Piala Dunia 2026, FIFA Resmi Buka Investigasi

Timnas Argentina Hadapi 4 Dugaan Pelanggaran di Piala Dunia 2026, FIFA Resmi Buka Investigasi

Induk sepak bola dunia, FIFA, secara resmi membuka proses disipliner terhadap Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA). Langkah tegas ini diambil menyusul sejumlah inside

Viral Taruhan Piala Dunia 2026, Jumlahnya Fantastis 3 Hektar Kebun Sawit Rp 420 Juta 

Viral Taruhan Piala Dunia 2026, Jumlahnya Fantastis 3 Hektar Kebun Sawit Rp 420 Juta 

Belakangan ini beredar sebuah foto yang memperlihatkan surat perjanjian taruhan fantastis menjelang laga final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina.

Cetak Sejarah Baru, FIFA Raup Pendapatan Rekor Rp269 Triliun dari Piala Dunia 2026

Cetak Sejarah Baru, FIFA Raup Pendapatan Rekor Rp269 Triliun dari Piala Dunia 2026

Piala Dunia 2026 juga mencatatkan sejarah baru dari sisi bisnis. Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) diperkirakan membukukan pendapatan sekitar US$15 miliar.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer