JP Radar Kediri – Pernah merasa sudah membaca materi pelajaran berkali-kali, tetapi ketika diminta menjelaskannya dengan kata-kata sendiri justru bingung?
Kondisi tersebut bisa menjadi tanda bahwa seseorang baru mengenali informasi, tetapi belum benar-benar memahami konsepnya.
Salah satu cara untuk menguji sekaligus memperdalam pemahaman adalah Teknik Feynman.
Metode belajar ini mengajak seseorang menjelaskan kembali suatu konsep menggunakan bahasa sesederhana mungkin, seolah-olah sedang mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahui materi tersebut.
Metode ini dikaitkan dengan fisikawan peraih Nobel, Richard Feynman. Namun, istilah “Teknik Feynman” dan format empat langkah yang populer saat ini sebenarnya dirumuskan kemudian, bukan metode yang secara formal diterbitkan Feynman sendiri.
Baca Juga: Sekolah dan Cuaca Panas: Apakah Suhu Kelas Bisa Mengganggu Belajar?
Apa Itu Teknik Feynman?
Sederhananya, teknik ini mengubah proses belajar dari sekadar membaca menjadi proses menjelaskan kembali. Ketika mencoba menerangkan suatu konsep tanpa melihat catatan, bagian yang belum dipahami biasanya akan lebih mudah terlihat.
Misalnya, seorang siswa sedang mempelajari fotosintesis. Alih-alih menghafalkan definisi dari buku, siswa tersebut mencoba menjelaskan, “Fotosintesis adalah proses tumbuhan membuat makanan menggunakan energi cahaya.”
Jika kemudian muncul pertanyaan seperti bagaimana proses tersebut berlangsung, apa peran cahaya, atau dari mana bahan yang digunakan berasal, siswa dapat mengetahui bagian mana yang masih perlu dipelajari.
Teknik ini memanfaatkan aktivitas seperti active recall, yaitu berusaha mengambil kembali informasi dari ingatan, bukan hanya mengenalinya ketika melihat catatan.
Upaya menjelaskan juga dapat membantu menemukan bagian materi yang masih belum dikuasai.
Cara Menerapkan Teknik Feynman
1. Pilih satu konsep
Jangan langsung memilih materi yang terlalu luas. Tentukan satu topik spesifik yang ingin dikuasai.
Contohnya bukan “Biologi”, melainkan “proses fotosintesis” atau bukan “Matematika”, tetapi “cara menghitung luas lingkaran”.
Setelah menentukan topik, tuliskan semua hal yang sudah diketahui mengenai konsep tersebut.
Baca Juga: Weekend Tanpa Agenda, Kenapa Tidak Melakukan Apa-Apa Kadang Justru Dibutuhkan?
2. Jelaskan dengan bahasa sendiri
Tutup buku atau catatan, kemudian coba jelaskan konsep tersebut seolah-olah sedang mengajarkannya kepada seseorang yang belum pernah mempelajarinya.
Gunakan bahasa sehari-hari dan hindari penggunaan istilah rumit jika istilah tersebut sebenarnya belum dipahami. Penjelasan dapat ditulis di kertas, disampaikan dengan suara keras, atau dilakukan kepada teman.
Tujuannya bukan membuat penjelasan terdengar pintar, melainkan memastikan konsep dapat diterangkan dengan jelas.
3. Cari bagian yang masih membingungkan
Perhatikan bagian ketika mulai berhenti, lupa, menggunakan istilah tanpa bisa menjelaskannya, atau memberikan jawaban yang terlalu umum.
Bagian tersebut merupakan tanda bahwa masih terdapat celah dalam pemahaman. Tidak perlu mengulang seluruh materi. Fokuskan kembali pembelajaran pada bagian yang belum dikuasai.
4. Buka kembali materi dan sederhanakan
Setelah menemukan bagian yang belum dipahami, kembali ke buku, catatan, atau sumber pembelajaran. Pelajari bagian tersebut, kemudian coba jelaskan kembali.
Jika masih menggunakan istilah yang sulit, ubah menjadi bahasa yang lebih sederhana. Analogi juga dapat digunakan untuk membantu menjelaskan konsep yang abstrak.
Setelah itu, lakukan pengujian sekali lagi tanpa melihat catatan. Siklus menjelaskan, menemukan kesenjangan, mempelajari kembali, dan menjelaskan ulang inilah yang menjadi inti teknik tersebut.
Baca Juga: Kenapa Memulai Tugas Terasa Lebih Mudah ketika Teman Sudah Mengerjakan?
Tidak Harus Punya Teman untuk Praktik
Teknik Feynman tidak mengharuskan siswa memiliki teman belajar. Seseorang dapat menjelaskan materi kepada diri sendiri, menuliskannya di kertas, atau berbicara seolah-olah sedang mengajar.
Jika memiliki teman, metode ini bisa dibuat lebih menarik. Satu orang berperan sebagai “guru”, sementara temannya menjadi siswa yang boleh mengajukan pertanyaan ketika ada bagian yang belum jelas.
Yang terpenting, penjelasan dilakukan tanpa terus-menerus melihat catatan. Dengan begitu, siswa dapat mengetahui apakah benar-benar memahami materi atau hanya merasa familiar karena sudah sering membacanya.
Baca Juga: Mengerjakan PR di Rumah, Bagaimana Orang Tua Bisa Mendukung tanpa Mengambil Alih?
Bukan Berarti Semua Materi Harus Dijelaskan
Teknik Feynman paling berguna ketika siswa perlu memahami konsep dan hubungan antargagasan. Metode ini bukan pengganti seluruh strategi belajar, terutama untuk materi yang memang membutuhkan latihan menghafal atau mengerjakan soal.
Karena itu, teknik ini dapat dikombinasikan dengan strategi lain. Setelah mampu menjelaskan konsep, siswa dapat melanjutkannya dengan latihan soal atau melakukan pengulangan materi secara berkala.
Pada akhirnya, belajar bukan hanya tentang seberapa sering seseorang membaca sebuah materi. Salah satu pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah saya bisa menjelaskan materi ini dengan kata-kata sendiri?”
Jika jawabannya belum, mungkin sudah waktunya berhenti membaca sejenak dan mulai mencoba menjelaskannya.
Editor : Shinta Nurma Ababil