Bukber sebagai Tradisi Sosial di Ramadhan
Secara historis, buka bersama merupakan bagian dari nilai kebersamaan dalam Islam. Momentum berbuka dimanfaatkan untuk mempererat hubungan, memperbaiki komunikasi, dan menjaga silaturahmi. Dalam konteks sosial, bukber juga menjadi ruang untuk berhubungan kembali dengan orang-orang yang jarang ditemui. Tidak heran jika tradisi ini dianggap positif karena memperkuat jaringan sosial.
Di Indonesia, budaya kolektif membuat kegiatan seperti bukber memiliki makna yang kuat. Banyak orang memanfaatkan momen ini untuk meminta maaf, mempererat hubungan keluarga, dan membangun hubungan profesional. Dalam beberapa kasus, buku bahkan membuka peluang kerja atau kolaborasi.
Baca Juga: Puasa Ramadhan 2026 Jatuh Tanggal Berapa? Jawabannya Menurut Muhammadiyah, NU, dan Pemerintah
Perubahan Makna di Era Media Sosial
Masalah muncul ketika bukber tidak lagi didorong oleh kebutuhan hubungan sosial, tetapi oleh tekanan sosial. Media sosial mempercepat perubahan ini. Unggahan foto bukber, outfit Ramadan, dan tempat makan estetik membuat banyak orang merasa perlu ikut serta. Tidak hadir dalam satu acara terkadang menimbulkan rasa tertinggal.
Fenomena ini sering disebut sebagai Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut ketinggalan pengalaman yang dianggap penting oleh lingkungan sosial. Dalam konteks bukber, FOMO membuat seseorang menghadiri acara bukan karena ingin bertemu, tetapi karena takut dianggap tidak solid atau tidak update .
Dampak Finansial dan Mental
Tekanan sosial ini berpotensi menimbulkan dampak yang nyata. Salah satunya adalah pengeluaran yang meningkat. Banyak orang merasa perlu mengikuti standar tertentu, seperti memilih restoran mahal, pakaian baru, hingga transportasi tambahan. Padahal, Ramadhan seharusnya menjadi momentum pengendalian diri.
Selain itu, jadwal buka puasa yang padat bisa memicu kelelahan, kurang beribadah, dan bahkan stres. Seseorang mungkin merasa menyesal jika menolak undangan, meskipun sebenarnya membutuhkan waktu istirahat atau ingin fokus beribadah.
Bukber bukan masalahnya. Yang perlu dikritisi adalah motivasi di baliknya. Jika didasari niat mempererat hubungan, buku itu tetap relevan. Namun, jika hanya untuk validasi sosial, maka maknanya perlu ditanyakan kembali.
Baca Juga: Ramadan 2026 Berapa Hari Lagi? Simak Prediksi dan Jadwal Penetapannya
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian