JP Radar Kediri - Bagi kebanyakan orang hewan reptil seperti ular, biawak, hingga iguana adalah hewan yang menakutkan dan dianggap berbahaya. Namun berbeda dengan Nanang Maarif yang telah belasan tahun hidup berdampingan dengan hewan-hewan melata itu.
Stan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri di Festival Kuno-kini 2026 lalu menjadi salah satu yang paling ramai diserbu pengunjung. Bukan hanya karena promosi desa wisata yang ditampilkan, tetapi juga kehadiran dua ular berwarna kuning pucat dan seekor iguana yang sukses mencuri perhatian. Banyak pengunjung rela mengantre demi berfoto bersama reptil-reptil tersebut.
Reptil yang dipamerkan itu ternyata milik Nanang Maarif, anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Bringin, Kecamatan Badas. Bersama anggota Pokdarwis lain, dia sebenarnya datang untuk mempromosikan Kampung Madu, wisata edukasi di desanya. Namun, justru reptil-reptil peliharaannya yang paling diingat pengunjung.
Di balik tampilannya yang tenang, Nanang ternyata telah belasan tahun hidup berdampingan dengan berbagai jenis satwa. Rumahnya di Desa Bringin dipenuhi hewan peliharaan unik. Mulai kalong berukuran besar yang bebas bergantungan di pohon depan rumah, musang, hingga belasan ular piton dari berbagai variasi genetika (gen) menghuni deretan akuarium besar yang tertata rapi.
Baca Juga: Yakuza Maneges, Cara Gus Thuba Merangkul yang Terpinggirkan dan Membongkar yang Batil
“Semua hewan di sini dijamin jinak. Untuk ular, seluruh koleksi saya adalah jenis yang tidak berbisa, jadi sangat aman bagi pengunjung maupun anak-anak,” ujar Nanang ramah.
Kecintaan Nanang pada dunia fauna sudah terpupuk sejak ia kecil. Menariknya, hobi ini bermula dari sebuah rasa iba. Belasan tahun lalu, Nanang menemukan seekor kalong berukuran bentang sayap hampir satu meter yang terkulai lemas di tepi sungai akibat luka tembak. Karena tidak tega melihat hewan tersebut sekarat dan tak bisa terbang, Nanang membawanya pulang untuk diobati.
Siapa sangka, berkat ketelatenannya, kalong tersebut tidak hanya sembuh, tetapi juga enggan pergi. Hewan nokturnal itu justru beranak-pinak dan menetap di pohon halaman rumahnya.
"Jinak, bahkan kalau dipanggil, mereka bisa langsung datang mendekat, dari situ saya jadi suka hewan. Lama-lama tertarik juga memelihara reptil seperti ular,” kenangnya.
Baca Juga: Kisah Wahyudi Purniawan, Pelukis Otodidak yang Karyanya Melanglang Buana hingga Luar Negeri
Dulu Nanang memelihara berbagai jenis ular, beberapa didapatkannya dari evakuasi dan mencari. Bahkan, ia sempat memelihara ular berbisa, termasuk kobra. Namun hobinya itu akhirnya dibatasi oleh sang ibu.
“Kata beliau, boleh memelihara ular, asal yang tidak berbisa, sejak saat itu saya beralih total ke piton. Padahal dulu paling suka sama kobra,” ujarnya.
Di antara belasan reptilnya, ada satu ekor ular piton Sumatra berukuran raksasa yang sempat dipamerkan di Festival Kuno-Kini 2026. Ular bermotif eksotis tersebut telah dirawat Nanang selama 15 tahun dan menjadi koleksi tertuanya. Beberapa piton bermutasi warna kuning pucat bahkan berhasil ia tangkarkan sendiri secara mandiri.
Merawat belasan satwa tentu menuntut komitmen dan biaya yang tidak sedikit. Untuk pakan 11 ekor ular piton dan beberapa biawaknya saja, Nanang harus menyediakan sedikitnya 15 kilogram daging ayam potong setiap minggu. Itu belum termasuk pasokan buah-buahan harian untuk menu makanan kalong dan hewan-hewan lain.
Pria yang sehari-hari mengais rezeki sebagai pengrajin rumah antik ini mengakui, tantangan terbesar memelihara banyak satwa adalah konsistensi biaya pakan.
“Kalau urusan hewan, misalkan sedang pas-pasan tetap saya utamakan pakan mereka dulu,” ujar pria yang sehari-hari bekerja sebagai pengrajin bangunan antik ini.
Hewan-hewan milik Nanang juga kerap ditawar orang setiap kali ia membawanya ke Car Free Day (CFD) atau pameran desa wisata. Pada Festival Kuno-Kini lalu misalnya, iguana miliknya terpaksa lepas ke tangan kolektor.
“Waktu itu ada yang mau beli. Saya sengaja sebut harga tinggi yang asal-asalan supaya dia mundur. Eh, ternyata dia malah langsung mau bayar. Ya sudah, Kalau semua dilepas ya habis gak jadi tampil,” ceritanya lantas tertawa.
Sejatinya, berat bagi Nanang untuk mengomersialkan hewan-hewannya karena telanjur sayang. Atas dasar empati itu pula, ia menolak untuk tampil di TV hal itu karena shooting TV membutuhkan banyak footage dan memakan waktu berhari-hari.
“Kasihan hewannya bisa stres,” pungkasnya.
Kini ia lebih fokus pada edukasi reptil di Kampung Madu. Pengunjung yang datang bisa melihat langsung koleksi satwanya sekaligus belajar mengenal reptil dengan aman.
Tak hanya itu, pengunjung juga bisa melihat koleksi barang-barang lawas yang ditata di halaman belakang rumahnya. Tempat itu kini menjadi salah satu sudut favorit pengunjung yang datang ke Kampung Madu.
Editor : Andhika Attar Anindita