KEDIRI, JP Radar Kediri - Desa Canggu, Kecamatan Badas, dan Desa Kawedusan, Kecamatan Plosoklaten termasuk beberapa desa di Kabupaten Kediri yang menyandang status Kampung Pancasila. Bukan sekadar mendapat gelar saja, hingga kini nilai-nilai Pancasila masih melekat di keseharian masyarakat. Di antaranya, semangat gotong royongnya.
“Kebetulan di desa kami semua (nilai-nilai Pancasila) sudah ada. Jadi kami bukan mempersiapkan untuk meraih juara sebagai Kampung Pancasila melainkan melengkapi atau menyempurnakan yang sudah ada,” ujar Kepala Desa Canggu Saptonoko tentang status Kampung Pancasila di desanya.
Menurut Saptonoko, hampir semua unsur yang tertera dalam nilai-nilai Pancasila sudah diterapkan oleh masyarakat di sana. Salah satunya adalah nilai gotong royong.
Baca Juga: 1 Juni Hari Apa? Tanggal Merah Peringati Hari Lahir Pancasila dan Daftar Tanggal Merah 2026
“Gotong royong dan kerja bakti ini masih hidup di lingkungan kami. Anak-anak mudanya juga kami upayakan untuk selalu terlibat. Misalnya ketika ada yang sedang menikah maka rewang-nya karang taruna ini,” lanjutnya.
Ada pula tradisi jimpitan untuk kematian hingga jimpitan untuk pelaksanaan kegiatan Agustusan yang masih aktif hingga sekarang. Bahkan, sistem keamanan lingkungan (siskamling) juga masih eksis. Setiap malam, anak muda hingga orang tua turut menjaga keamanan lingkungannya.
Ketahanan pangan juga jadi salah satu pilar utamanya. Karenanya, Saptonoko juga menggerakkan warga untuk gotong-royong mengoptimalkan lahan pekarangan dan potensi lokal. Yakni untuk mewujudkan kemandirian ekonomi, mengatasi kemiskinan, hingga menekan angka stunting di lingkungan masyarakat.
Baca Juga: Tugu Garuda Raksasa di Desa Kawedusan Plosoklaten jadi Ikon Desa, Cerminkan Kampung Pancasila
“Yang dinilai (kampung Pancasila, Red) adalah ketahanan pangan, kekompakan karang taruna, UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah, Red), linmas (perlindungan masyarakat, Red), dan kegiatan posyandu. Itu semua sudah tersedia di Desa Canggu,” bebernya.
Tak hanya unggul di ketahanan pangan karena menjadi sentra pembenihan dan pembesaran ikan nila, Desa Canggu juga kaya akan sejarah dan kebudayaan. Salah satunya ditunjukkan dengan keberadaan Candi Surowono yang merupakan peninggalan bercorak Hindu dari Kerajaan Majapahit.
Selebihnya, Saptonoko menyadari ancaman perkembangan teknologi yang bisa mengikis nilai-nilai Pancasila. Karenanya, dia berupaya melibatkan anak muda dalam setiap kegiatan desa. “Hampir 90 persen yang terlibat adalah anak muda. Karena mereka yang nantinya berperan dalam menyukseskan program pemerintah dan menjaga tradisi daerah asalnya,” tandasnya.
Senada dengan Saptonoko, Lailatur, 25, warga Desa Canggu mengakui jika lingkungannya masih menjaga nilai-nilai Pancasila. “Terkadang kalau ada yang menikah kami rewang. Meskipun intensitasnya tidak lama tapi tradisi ini kan semakin ke sini sudah jarang dilakukan,” ungkap perempuan yang akrab disapa Lala itu.
Dia juga senang karena kegiatan karang taruna di desanya sangat aktif. Setiap momentum peringatan hari besar nasional (PHBN) maupun peringatan hari besar Islam (PHBI) selalu ada kegiatan baru. “Panitianya ya kami anak muda ini. Saling gotong royong menghidupkan tradisi,” tandasnya.
Riko, 28, warga Desa Canggu lainnya menyebut kegiatan siskamling yang masih aktif tidak hanya jadi sarana menjaga keamanan saja. “Melalui kegiatan siskamling ini secara tidak langsung jadi srawung. Baik tua maupun muda Insya Allah saling tahu dan mengenal,” bebernya bangga.
Baca Juga: Upacara Hari Lahir Pancasila, Mbak Wali Vinanda Ajak Warga Hidupkan Nilai Pancasila di Segala Sektor
Sementara itu, di Desa Kawedusan, Kecamatan Plosoklaten, nilai-nilai Pancasila tidak hanya tertuang di monumen yang terletak di pertigaan jalan penghubung Gurah–Plosoklaten saja. Selain patung garuda setinggi sekitar enam meter itu, masyarakat benar-benar menerapkan nilai di dalamnya.
“Warga di sini sangat beragam. Dalam Islam ada NU, Muhammadiyah, LDII, sampai kelompok-kelompok lainnya. Untuk agama Kristen juga ada Protestan dan Katolik. Belum lagi ada masyarakat dengan latar budaya yang berbeda-beda. Tapi semuanya tetap bersatu di bawah Pancasila,” ujar Kepala Desa Kawedusan Dedy Santosa.
Keberagaman juga terlihat dari asal-usul warganya. Selain suku Jawa sebagai mayoritas, terdapat warga keturunan Madura, Kalimantan, Jawa Barat, hingga Betawi yang telah lama menetap di Kawedusan.
Karenanya, nilai-nilai toleransi benar-benar dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya di Dusun Kawarasan yang dihuni sekitar 60 persen warga Muslim dan 40 persen warga Kristen.
Saat Ramadan dan Idul Fitri, warga non-muslim kerap memasang banner ucapan selamat menunaikan ibadah puasa dan Hari Raya Idul Fitri di sejumlah titik desa. Sebaliknya, ketika Natal tiba, umat Islam juga ikut membantu menjaga keamanan dan mendukung kegiatan perayaan umat Kristiani.
“Yang membuat banner ucapan Lebaran itu justru warga Kristen. Begitu juga saat Natal, muslim ikut membantu. Itu sudah biasa di sini,” beber Dedy.
Kebersamaan juga tampak dalam berbagai kegiatan sosial. Mulai kerja bakti, pembangunan fasilitas umum, hingga program bedah rumah bagi warga kurang mampu. Dalam kegiatan tersebut, warga tidak pernah mempersoalkan perbedaan agama maupun suku.
Baca Juga: 1 Juni Hari Apa? Tanggal Merah Peringati Hari Lahir Pancasila dan Daftar Tanggal Merah 2026
Desa menyediakan material bangunan. Sedangkan tenaga kerja berasal dari gotong royong masyarakat. Semua bahu-membahu membantu warga yang membutuhkan. “Kalau ada rumah yang perlu diperbaiki, ya semua turun tangan. Tidak pernah melihat agamanya apa atau dari kelompok mana,” jelasnya.
Di Kawedusan juga berdiri sebuah gereja besar yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Kehadirannya diterima sebagai bagian dari keberagaman yang dijaga bersama. “Masyarakat kompak dan rukun. Itu juga nilai-nilai dari Pancasila,” tandas Dedy.
Pancasila kerap dipahami sebagai dasar negara yang diajarkan di bangku sekolah. Namun bagi masyarakat di sejumlah desa di Kabupaten Kediri, nilai-nilai Pancasila justru hidup dalam praktik sehari-hari. Mulai dari gotong royong, saling membantu saat hari raya, hingga menjaga kerukunan di tengah perbedaan agama dan latar belakang budaya.
Baca Juga: Ajak Generasi Emas Amalkan Pancasila
Terpisah, Sosiolog UIN Syekh Wasil Kediri Taufik Alamin menilai toleransi dan semangat gotong royong di desa-desa Kabupaten Kediri itu merupakan hasil proses panjang yang telah berlangsung lintas generasi. “Desa-desa yang sejak lama dihuni masyarakat dengan latar agama, budaya, dan suku yang beragam biasanya sudah memiliki model internalisasi nilai toleransi yang kuat. Nilai itu tumbuh dari bawah, dari keluarga, lingkungan, hingga diwariskan antar generasi,” paparnya.
Masyarakat yang hidup di lingkungan plural selama puluhan tahun, secara tidak langsung membentuk norma sosial yang mengajarkan pentingnya saling menghormati. Karena telah menjadi kebiasaan bersama, nilai tersebut terus bertahan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Taufik menilai, banyak masyarakat desa yang sebenarnya telah menjalankan nilai-nilai Pancasila tanpa harus menyebut atau mendiskusikannya secara formal. Mereka mempraktikkannya melalui kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Wali Kota Kediri Wajibkan Pemutaran Mars Pancasila Tiap Hari
“Ketika ada Idul Fitri, Natal, atau hari besar lainnya, masyarakat saling menghormati dan memberi dukungan. Hal-hal sederhana seperti itu sebenarnya menjadi bentuk nyata implementasi nilai Pancasila,” jelasnya.
Menurutnya, toleransi tidak bisa lahir hanya karena seseorang tinggal di suatu daerah. Lingkungan sosial yang damai merupakan hasil perjuangan panjang para pendahulu yang berhasil membangun budaya saling menghargai di tengah perbedaan.
Karena itu, menciptakan masyarakat yang toleran menurutnya bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan keteladanan, pendidikan dalam keluarga, serta kebiasaan sosial yang terus dipelihara dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Kukuhkan Kembali Nilai-Nilai Pancasila saat Pandemi Covid-19
“Toleransi bukan sekadar konsep di kepala. Itu harus menjadi tindakan nyata yang dilakukan setiap hari. Lingkungan yang damai tidak terbentuk begitu saja, tetapi dibangun dan dirawat oleh masyarakatnya,” tegasnya. (hilda nurmala risani/diana yunita sari/ut)
Editor : Andhika Attar Anindita