Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika Niat Mendaki Novan Riski di Gunung Klotok Berakhir di Tangan Tim BPBD Kota Kediri

Ayu Ismawati • Rabu, 11 Juni 2025 | 17:00 WIB
Pendaki gunung klotok yang diselamatkan tim BPBD
Pendaki gunung klotok yang diselamatkan tim BPBD

Mendaki gunung jadi pengalaman pertamanya. Siapa sangka, menjadi sesuatu yang tak terlupakan. Terjebak di hutan hampir dua jam sebelum diselamatkan oleh tim penolong.

 Duduk di kursi ruang tamu, Novan Riski Dwi Saputra berbagi cerita. Masih mengenakan bawahan seragam putih abu-abu dengan atasan kaus. Jalannya masih nampak sedikit pincang. Meskipun sakit akibat lutut yang terkilir itu sudah jauh mereda.

“Baru saja pulang sekolah,” ujar pemuda 17 tahun itu, sembari mengumbar senyum.

Meskipun sehari sebelumnya mendapatkan pengalaman mencekam saat mendaki di Gunung Klotok, Novan tetap beraktivitas. Menjalani perannya sebagai pelajar di SMK Kertanegara Wates.

Pelajar kelas 11 ini kemudian mengenang lagi cerita yang tak akan dia lupakan tersebut. Berawal ketika dia dan empat temannya melakukan aktivitas yang tidak direncanakan sebelumnya. Mendaki Gunung Klotok!

Awalnya, Novan tak mengira akan diajak mendaki. Yang dia sangka adalah jalan-jalan di area Simpang Lima Gumul (SLG). Melepas penat di tengah musim ujian yang sedang berlangsung.

“Saya sendiri nggak tahu kalau diajak ke Klotok. Awalnya dikira hanya jalan-jalan keliling SLG,” akunya.

Tapi, mereka berlima tak ke SLG. Melainkan meluncur ke arah Gunung Klotok. Menumpang mobil Daihatsu Xenia yang dikemudikan salah satu temannya.

Rombongan ini tiba di kaki gunung tengah hari, hampir pukul 13.00. Setengah jam kemudian mereka mulai menjejakkan kaki ke jalur pendakian.

Bagi pelajar kelas XI SMK itu, mendaki Gunung Klotok hari itu menjadi pengalaman pertama. Tak seperti beberapa temannya yang sebelumnya sudah pernah menyusuri track di gunung tengah Kota Kediri itu. Praktis, kondisi fisiknya belum terbiasa. Apalagi medan menuju puncak Watu Bengkah juga relatif curam.

“Tinggal kurang sekitar 20 persen lagi perjalanan menuju puncak, sudah capek. Tapi tiga teman yang lain masih terus naik sampai ke puncak,” cerita Novan.

Hari semakin gelap. Lima sekawan itupun memutuskan untuk kembali. Diawali satu orang yang turun lebih dulu karena buru-buru ingin ke toilet. Disusul dua teman yang lain. Hingga tersisa Novan dan satu temannya di barisan paling belakang.

“Saat itu sudah gelap. Jalannya saja sudah nggak tahu (tidak terlihat, Red). Sempat nyasar juga itu karena gelap,” kenangnya.

“Terus turun ke bawah, di situ ada batu-batu. Kepeleset. Terus lutut kena batu,” lanjutnya.

Cedera di lututnya itu membuat kaki Novan kaku. Tidak bisa digerakkan sama sekali.

Situasi semakin mencekam karena turun hujan di puncak Klotok. Karena panik, Novan pun meminta satu temannya itu agar turun lebih dulu dan mencari pertolongan. Menyisakan Novan sendirian di tengah hutan yang gelap.

Keputusan itu ternyata sedikit disesali. Sebab, kepanikan dan ketakutan dirasakan remaja asal Desa Karanganyar, Kecamatan Wates itu saat sendirian. Lebih dari dua jam dia berada di tengah hutan tanpa teman. Hanya ada handphone-nya dengan baterai yang tersisa 30 persen. Karena tak ada persiapan, kaos dan celana pendek yang dikenakannya pun tak bisa menghalangi rasa dingin akibat terpaan hujan.

Belum lagi, lima remaja itu hanya membawa bekal satu botol air mineral yang mereka beli di warung sebelum mendaki Gunung Klotok. Air ukuran tanggung itupun sudah tandas. Bahkan sebelum insiden itu terjadi.

“Akhirnya saya lihat HP, telepon-telepon teman saya kan juga bawa HP tapi ternyata belum sampai di bawah. Karena panik, terus lihat Google akhirnya telepon itu (call center Lapor Mbak Wali 112, Red),” ucapnya.

“Awalnya salah nomer 113 dan nggak nyambung. Terus waktu 112, nyambung, saya langsung ngomong kalau terjebak di Klotok,” sambungnya.

Meski tim penyelamat sudah dalam perjalanan menuju lokasinya, remaja kelahiran 2007 itu tetap tak bisa tenang. Suasana hutan Gunung Klotok di malam hari cukup mencekam baginya. Dia hanya bisa mengarahkan senter dari ponselnya ke berbagai arah saat mendengar banyak suara-suara khas hutan.

“Sekeliling itu suara-suara monyet banyak. Mau panik juga gimana. Kalau ada apapun juga nggak bisa kabur. Akhirnya senter nyala terus hampir dua jam. Dan itu sisa 30 persen baterainya,” kenang pelajar SMK jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) itu.

Belum lagi suara-suara hewan buas seperti ular juga beberapa kali didengarnya. Suara khas hutan belantara itu didengarnya dari berbagai arah.

“Saya langsung senter ke belakang, nggak ada apa-apa. Terus lihat chat teman. Terus balik lagi lihat ke belakang. Gitu terus. Dan sempat pasrah juga. Tapi teman telfon terus untuk memastikan, nggak apa-apa kan, nggak apa-apa kan?” urainya.

Gayung bersambut, pencarian pertolongan oleh teman-temannya itupun mengarahkan mereka menuju tim pencari yang bersiap menuju ke puncak Gunung Klotok. Mereka pun kembali ke atas untuk menjemput Novan.

“Saat ditemui petugas, kondisinya sudah lemas. Waktu sampai di bawah juga pakaiannya sudah penuh lumpur,” ungkap Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Kediri Joko Arianto.

Bungsu dari dua bersaudara itupun berhasil dievakuasi di tempat aman sekitar pukul 20.23. Dan langsung disambut kakak dan pamannya yang sudah menunggu.

“Habis itu langsung urut soalnya semua badan rasanya sakit,” kelakarnya. (*)

Editor : Mahfud
#bpbd #gunung klotok