Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Menelisik Kasus Teror Pocong di Kediri, Terencana atau Sekadar FOMO? (1) Awalnya Ngeprank, Akhirnya Ditangkap Warga  

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Selasa, 2 Juni 2026 | 06:48 WIB
Ilustrasi prank pocong viral (Ilustrasi Afrizal)
Ilustrasi prank pocong viral (Ilustrasi Afrizal)

Aksi para remaja ini muncul bersamaan dengan gencarnya peringatan teror pocong di media sosial. Menjadikan ada kekhawatiran bahwa tindakan tersebut terencana dan terstruktur. Benarkah? Atau hanya sekadar ikut-ikutan tren?

Mad, sebut saja demikian, mau saja ketika diajak teman sebayanya melakukan pekerjaan iseng.

Remaja 15 tahun itu diminta ikutan nge-prank beberapa bocah yang tengah tidur di musala saat malam takbir Idul Adha lalu.

“Pas takbir itu kan teman-teman di musala. Recananya mau ngeprank yang tidur,” aku warga Kandat, Kabupaten Kediri tersebut.

Ide itu muncul dari salah satu temannya. Perlengkapan pun disiapkan. Kain mori warna putih hingga rafia.

Setelah itu dia pun dibungkus mirip jenazah yang hendak dimakamkan.

“Saya hanya ikutan. Yang punya ide teman, yang beli rafia juga teman,” dalihnya.

Saat itu tengah malam, sekitar pukul 00.30. Rencananya sederhana saja, menakuti teman-temannya yang tidur setelah bertakbiran.

Maka, ‘kostum’ pun dikenakan ke dirinya. Sekujur badannya dibungkus kain putih dan diikat tali rafia.

Baca Juga: lipsus Label Nutri-Level Pada Minuman Manis Kekinian, Urgensi atau Cuma Formalitas?(1)

Mirip pocong di film-film horor Indonesia. Setelah itu foto dan videonya diposting di story WhatsApp.

Ternyata, sebelum melaksanakan niatnya itu terjadi modifikasi pada rencana awal. Tidak langsung menakuti teman-temannya, Mad justru dibonceng menggunakan sepeda motor berkeliling kampung.

Si pocong mengaku sempat meronta. Berteriak-teriak selama dibawa berkeliling. Toh, teman-temannya tetap melanjutkan aksi tersebut.

Mad mengaku sempat meronta dan berteriak selama dibawa berkeliling. Namun teman-temannya tetap melanjutkan aksi tersebut.

Saya sudah minta turun tapi tetap saja digas, kilahnya.

Masalah muncul ketika melintasi jalanan kampung. Warga yang melihat pun merasa curiga. Beberapa orang mengejar. Mengira teror pocong yang meresahkan, seperti yang muncul di medsos.

Akhirnya, mereka dihentikan dan dimarahi warga. Saat proses memarahi itu juga dividio warga dan viral di sosial media.

Baca Juga: Lipsus Ketika Industri Tahu-Tempe Kembali Terjerat Kurs Dolar yang Kian Menguat (1): Mending Untung Sedikit daripada Hilang Pelanggan

Dia menegaskan bahwa tujuan awal aksi tersebut bukan untuk meneror warga. Sasaran prank hanya teman-teman mereka sendiri yang sedang berada di musala.

Namun situasi berkembang di luar perkiraan ketika warga lebih dulu melihat sosok pocong yang dibawa berkeliling kampung.

“Teman-teman awalnya (melakukan prank pocong) karena tahu viral di sosmed,” jelasnya terkait perbuatan itu karena terinspirasi dari sosmed.

Setelah kejadian itu, para bocah yang terlibat langsung dipanggil dan diklarifikasi oleh perangkat desa serta kepolisian. Mereka diberi pembinaan agar tidak mengulangi perbuatan serupa.

Aksi pocong juga sempat membuat geger warga Desa Brenggolo, Kecamatan Plosoklaten, pada Sabtu (23/5) lalu.

Saat sekelompok remaja sengaja mengenakan kostum pocong untuk menakut-nakuti pengguna jalan yang melintas. 

Sebenarnya, pekerjaan iseng tersebut direkam untuk dijadikan konten. Namun warga yang merasa terganggu akhirnya turun tangan dan memergoki mereka.

Lima remaja kemudian diamankan bersama aparat kepolisian untuk dimintai keterangan.

Motifnya membuat konten. Biar viral, jelas Kasi Kesra Pemdes Brenggolo Irfan Wahyudi.

Baca Juga: Lipsus Potensi Parkir Kota Kediri (1) : Ketika Parkir Liar Mendulang Cuan di Ceruk yang ‘Tak Terjangkau’ Pemkot Kediri

Hasil pendalaman menunjukkan motif mereka tidak jauh berbeda dengan kasus di Kandat. Para remaja itu mengaku hanya ikut-ikutan tren yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial.

Karena terpengaruh medsos, jelas Kasatreskrim Polres Kediri AKP Joshua Peter Krisnawan.

Akibat perbuatannya, para remaja tersebut sempat diamankan polisi untuk menjalani klarifikasi. Orang tua mereka juga dipanggil agar ikut terlibat dalam proses pembinaan.

Kami undang orang tuanya sebagai pembelajaran, terang Joshua.

Joshua memastikan serangkaian kejadian tersebut bukanlah aksi teror seperti yang sempat dikhawatirkan masyarakat.

Sebaliknya, peristiwa itu lebih merupakan bentuk kenakalan remaja yang dipicu tren viral di media sosial.

Baca Juga: Lipsus Daycare (1): Bangun Kepercayaan, Daycare di Kediri Ramai-Ramai Pasang CCTV

Karena itu, dia mengimbau masyarakat tidak mudah terpancing isu teror pocong yang beredar.

Di sisi lain, para remaja juga diminta tidak membuat konten ataupun aksi yang berpotensi mengganggu ketertiban dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. 

Editor : Andhika Attar Anindita
#pocong viral #fomo #konten viral #kenakalan remaja #teror