Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Mengapa Petani Enggan Migrasi ke Pupuk Organik? (2): Serapan Pasar Tinggi, Petani Butuh Pendampingan

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Senin, 25 Mei 2026 | 07:06 WIB
Ilustrasi pertanian organi. (Ilustrasi Afrizal)
Ilustrasi pertanian organi. (Ilustrasi Afrizal)

Apakah keengganan banyak petani beralih ke padi organik karena pasar yang masih sempit?

Tidak juga. Sebab, serapan untuk beras organik masih tinggi. Konsumennya datang dari berbagai kalangan.

Baik yang tengah diet, penderita diabetes, maupun ibu yang memberi makanan pada bayinya. Apalagi, orang yang beralih ke hidup sehat semakin banyak.

Dari 157 hektare lahan organik, setiap panen bisa menghasilkan 1.000 ton beras organik. Hampir semuanya diserap perusahaan-perusahaan besar seperti KFC, Amazing Farm, hingga produsen bubur bayi.

Agar menguatkan pemasaran, para petani organik bergabung dalam kelompok. Seperti petani di Kecamatan Purwoasri yang membentuk kelompok usaha bersama (KUB) Panjalu Organik sejak 2023.

Baca Juga: Lipsus Ketika Kartini-Kartini Masa Kini Menghadapi Tantangan yang Lebih Kompleks (1): Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati Melawan Pingitan Baru Bernama Stereotip Gender

“Awal orientasi ke bisnis itu di tahun 2019. Saat itu petani masih tergabung di gapoktan (gabungan kelompok tani, Red) dan di Purwoasri luasan tanahnya masih 7 hektare,” ungkap Wahyu Sutiarno, penyuluh pertanian lapangan (PPL) sekaligus pengurus KUB Panjalu Organik.

Wahyu bercerita, pada 2019 mereka bisa kerja sama dengan swalayan terkenal di Kediri. Kemudian bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan di Jakarta saat Covid-19.

Setahun kemudian KUB mengirim ke PT Amazing Farm. Kemudian berencana mengembangkan market ke Eropa. Sayang, produk beras organik Purwoasri belum lulus indeks diabetes rendah.

“2020 sampai 2022 kerja sama dengan perusahaan bubur bayi di surabaya kami rutin permintaan setiap bulan 8 ton,” lanjutnya.

Setelah itu mereka menjalin kerja sama dengan PT Padi Organik Indonesia. Menyuplai kebutuhan KFC di Jawa Bali. Hingga petani pun diajak terlibat lebih dalam.

“Petani diajak berbisnis dengan menanam saham, satunya Rp 500 ribu,” ujarnya.

Selain memperluas pasar, KUB juga berusaha menambah produksi. Mereka berusaha menjaring petani agar lebih banyak yang terjun ke organik. Namun, pendekatannya bukan soal lingkungan sehat, melainkan bisnis.

Gabah petani dibeli oleh KUB dengan modal saham tersebut. Kemudian dipasarkan dan labanya jadi sisa hasil usaha.

Baca Juga: Lipsus Macan Balongjeruk yang Kehilangan Pamor: Pengamat Sebut Harus Kaya Inovasi agar Ramai Lagi

Sehingga, ada dua keuntungan bagi petani, profit dan benefit. Profitnya adalah SHU sedangkan benefitnya bantuan dalam bentuk drone, benih, dan pupuk gratis.

Saat ini, jumlah petani yang bergabung mencapai ratusan. Tepatnya 220 petani yang menjadi anggota aktif serta 80 orang anggota pasif.

Yang disebut terakhir itu adalah petani yang hanya menanam saham tapi tanpa bertani.

Berapa harga beras organik? Menurut Wahyu, di pasaran, harga per kilogramnya mencapai Rp 16 ribu hingga Rp 18 ribu.

Itu untuk beras curah yang dikemas ulang pemesan. Bila kemasan langsung oleh KUB harganya Rp 20 ribu per kilogram.

Sementara itu, peneliti bioteknologi tanaman Dr Agus Muji Santoso MSi menilai, kecenderungan petani memilih pupuk kimia karena faktor kepraktisan. Mereka ingin yang mudah, cepat, dan langsung berdampak pada tanaman.

“Nah, itu ada di pupuk komersial. Jadi, kenapa mereka cenderung memilih pupuk kimia ya karena tidak punya waktu untuk membuat pupuk organik,” ujar doktor Pendidikan Biologi lulusan Universitas Negeri Malang lewat Beasiswa Unggulan itu.

Baca Juga: Lipsus Tantangan Menjaga Kebersihan Kawasan Sumpang Lima Gumul KediriBegini Kata Pengamat

Selain itu, keterbatasan pengetahuan dan keterampilan juga menjadi penyebab. Petani memilih cara yang dianggap paling aman menjaga produksi stabil, yaitu pupuk kimia.

Pilihan itu tak bisa langsung disalahkan. Magister Biologi lulusan Universitas Airlangga lewat beasiswa BCF-IGN itu menyebut, solusinya adalah pendampingan intensif dan berkelanjutan. Khususnya dari pemerintah.

“Selama ini kalau ada program memang ada pendampingan, tapi tidak tuntas. Tidak secara terus-menerus,” kata lelaki kelahiran 1986 itu.

Menurutnya, pendampingan yang terus-menerus membuat petani memahami manfaat sistem organik berdasarkan data nyata di lapangan.

Mulai dari kondisi tanah, hasil produksi, hingga kualitas tanaman. Pendekatan berbasis data empiris efektif mengubah pola pikir petani.

Ketika petani melihat sendiri perbandingan hasil tanah sehat dengan penggunaan organik secara bertahap, mereka akan mulai percaya.

Baca Juga: Ini Tanggapan Pengamat Ekonomi Soal Maraknya Kredit Fiktif di BRI, Bank BUMN

“Kalau sudah melihat datanya, membandingkan dengan kimia, mereka akan termotivasi menggunakan organik,” imbuhnya.

Agus juga menekankan bahwa seluruh pihak harus ikut terlibat menjadi. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga akademisi, guru, hingga media massa.

Menurutnya, pertanian sehat tidak bisa dipisahkan dari kondisi tanah yang sehat.

“Pangan sehat hanya akan tercipta kalau tanahnya sehat,” tandasnya.

Berbagai penelitian ilmiah sudah lama membuktikan, penggunaan pupuk kimia terus-menerus dapat merusak tekstur tanah dan mengganggu kestabilan kandungan hara.

Namun, menurut dosen Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri itu, tanah yang terlalu lama bergantung pada pupuk kimia akan “shock” saat dialihkan ke sistem organik penuh. 

 

INFOGRAFIS LIPSUS :

 

INFOGRAFIS 1 : 

Tentang Indeks Kesuburan Tanah

-       C-Organik di atas 4 persen:           Tanah sangat subur

-       C-Organik 3,51 – 4 persen:            Kesuburan sangat tinggi

-       C-Organik 2,51 - 3,50 persen:       Kesuburan tinggi

-       C-Organik 1-2,50 persen:               Tanah kurang subur

-       C-Organik di bawah 1 persen:       Tanah kritis

 

INFOGRAFIS 2 : 

Tentang Padi dan Beras Organik

-       Padi organik cenderung tumbuh lebih lambat meskipun usia panen sama dengan an-organik.

-       Warna tanaman lebih menguning.

-       Lebih tahan hama, baik wereng maupun tikus.

 

INFOGRAFIS 3 : 

Perkembangan Lahan Sawah Organik di Kabupaten Kediri 

2016:  0,5 hektare

2019:  7 hektare

2021:  20 hektare

2023:  80 hektare

2026:  157 hektare 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#bioteknologi #petani #un #panen anjlok #pupuk organik