Meredupnya kawasan patung macan di Desa Balongjeruk, Kunjang tak lepas dari hilangnya rasa penasaran warga akan kondisi patung setelah berkunjung ke sana.
Karena itu pula, lonjakan pengunjung hanya bersifat sementara. Pengamat ekonomi Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri Subagyo menilai, daya tarik utama patung macan tersebut sejak awal karena didorong rasa penasaran masyarakat.
Pengunjung datang untuk melihat langsung dan berfoto. Bukan karena ada rangkaian aktivitas atau pengalaman wisata yang bisa dinikmati lebih lama. “Wisata berbasis viral tanpa pengelolaan dan ekosistem yang kuat biasanya hanya menghasilkan lonjakan sesaat. Bukan pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ada sejumlah faktor yang membuat kunjungan cepat meredup. Selain efek viral yang memang tidak bertahan lama, minimnya objek pendukung di sekitar lokasi membuat pengunjung tidak memiliki alasan untuk datang kembali.
Ditambah lagi, promosi yang tidak berkelanjutan serta fasilitas yang belum optimal turut mempercepat penurunan minat. Meski demikian, menurut Subagyo kawasan tersebut tidak akan sepenuhnya mati.
Selama patung masih ada di sana, potensi kunjungan tetap terbuka. Terutama dari warga lokal atau pengguna jalan yang kebetulan melintas. Hanya saja, tanpa inovasi baru kawasan itu berpotensi turun kelas menjadi sekadar titik singgah biasa.
“Kalau tidak ada pembaruan, ya akan jadi tempat lewat saja. Bukan lagi tujuan utama,” bebernya. Untuk menghidupkan kembali kawasan patung macan Balongjeruk, menurut Subagyo perlu langkah yang lebih terarah.
Salah satunya dengan menghadirkan event rutin yang mampu menarik kunjungan berulang. Selain itu, perlu dibangun paket wisata yang terintegrasi dengan potensi lain di sekitar wilayah tersebut.
Branding kawasan juga harus dilakukan secara terus-menerus. Tidak hanya mengandalkan momen viral saja. Pengembangan kawasan, tutur Subagyo, tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada paguyuban atau pengelola lokal.
Melainkan Peran pemerintah tetap dibutuhkan sebagai pengungkit. Terutama terkait penyiapan infrastruktur, promosi, hingga penguatan kelembagaan. “Paguyuban bisa mengelola harian, tapi pemerintah harus hadir sebagai fasilitator. Misalnya lewat perbaikan akses jalan, penataan pedagang, rambu penunjuk arah, sampai promosi terpadu,” pintanya.
Dari sisi pengelola, menurut Subagyo berbagai upaya juga sudah dilakukan untuk menjaga agar kawasan tersebut tetap hidup. Ketua pengelola monumen Ichsan mengakui bahwa jumlah pengunjung saat ini memang menurun cukup drastis, terutama pada hari-hari biasa.
“Kalau sekarang memang turun jauh. Tapi untuk car free day (CFD) setiap Minggu masih tetap jalan,” ujarnya. Menurutnya, penurunan itu tidak lepas dari faktor kejenuhan masyarakat.
Selain itu, munculnya berbagai kegiatan lain di desa sekitar. Misalnya, pertunjukan jaranan maupun hiburan musik yang turut memecah konsentrasi pengunjung.
Meski demikian, pengelola tetap berupaya menjaga aktivitas agar kawasan tidak benar-benar mati. Salah satunya dengan rutin menggelar CFD yang diisi kegiatan senam bersama. “Kami tetap adakan setiap Minggu. Itu yang paling aman, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya. tandasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita