Alih-alih ngerumpi, para perempuan ini punya cara lain mengisi waktu setiap kali bertemu. Memanfaatkan benang dan alat songket. Hasil akhirnya adalah gemerincing cuan yang masuk ke dompet.
HILDA NURMALA RISANI, Kota, JP Radar Kediri
Sekumpulan perempuan ini rutin tampil saat berlangsungnya car free day (CFD), setiap Minggu pagi, di Jalan Dhoho. Bukan dengan cara meliuk-liukkan badan mengikuti irama senam pagi yang berlangsung di salah satu sudut. Melainkan menjaga lapak jualan berukuran 3x2 meter.
Lokasinya di utara Hotel Grand Surya. Tidak ada tenda atau tempat khusus. Lapak itu hanya ditandai dengan meja bertingkat. Tempat display beberapa barang yang dijual. Ada boneka, tas, dompet, hingga bucket hat-topi berbentuk mirip ember yang pinggirannya melebar ke bawah-. Ada juga dua standing ram, tempat meletakkan dagangan berupa gantungan kunci.
Baca Juga: Warna "Ngejreng" Jadi Daya Tarik, Produk Rajutan Asal Kediri Ini Laris Manis Diburu Bule
“Produk yang kami jual beragam. Mulai dari gantungan kunci, tas, dompet, bucket hat, sepatu. Kami juga menerima request,” ucap salah seorang di antaranya dengan panjang lebar.
Perempuan yang menjelaskan itu adalah Santi Dwi Susanti. Dia adalah salah satu anggota kelompok yang bernama Komunitas Nyongket Bareng (KNB). Komunitas inilah yang memiliki lapak tersebut.
Sesuai nama komunitas itu, barang-barang yang dijual semuanya dari hasil songket. Semuanya juga produk dari anggota komunitas.
Baca Juga: Choirur Roziqin, Tekuni Kerajinan Tenun Songket dari Dalam Penjara
Dari Santi pula diketahui asal mula komunitas ini. Berawal ketika ada pelatihan untuk ibu rumah tangga pada 2018 silam. Pelatihan yang digelar oleh Pemkot Kediri. Pesertanya boleh siapa saja.
Setahun kemudian terbentuklah KNB. Tujuannya untuk mewadahi ibu rumah tangga yang ingin tetap berkarya. Di tengah kesibukan mengurus rumah, anak, dan suami.
“Hasil karyanya disarankan untuk di jual,” Lanjut Santi.
Anggota KNB tidak banyak. Hanya sepuluh orang. Mayoritas berstatus ibu rumah tangga. Masing-masing anggota itu punya keahlian crochet sendiri-sendiri.
Baca Juga: Kerajinan Alat Pijat Dari Kayu
Crochet adalah teknik membuat kain dari benang dengan menggunakan jarum kait atau hakpen. Biasa pula disebut merenda. Dari cerita Santi, setiap anggota punya keahliannya sendiri. Ada yang spesialis gantungan kunci, ada pula yang ahli tas, dompet, ataupun sepatu.
Sebagai ibu rumah tangga, mereka melakukan keahliannya itu juga di rumah masing-masing. Tidak ada tempat khusus bagi mereka berkumpul saat berproduksi. Mereka juga memasarkan hasil karyanya sendiri-sendiri.
“Kebetulan masing-masing dari kami memiliki keahlian sendiri-sendiri. Sehingga untuk produksi dilakukan di rumah masing-masing. Menyesuaikan dengan waktu longgarnya,” beber perempuan berusia 34 tahun itu.
Tiadanya waktu khusus untuk berproduksi bersama, menurutnya, terkait waktu longgar yang mereka miliki. Biasanya pada saat anak sedang bersekolah atau suami bekerja. Setelah urusan rumah beres, mereka memanfaatkan waktu senggangnya untuk menyongket.
“Kami kemana-mana bawa benang dan alat songket. Karena waktu adalah uang makanya benar-benar harus dimanfaatkan. Bahkan, menunggu antrean di Puskesmas saja tetap menyongket,” ujarnya disertai gelak tawa.
Berapa lama membuat satu karya? “Tergantung ukuran dan tingkat kesulitannya,” jawab wanita yang berdomisili di Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota ini.
Bila karya itu ukurannya kecil, satu hari bisa selesai. Namun, untuk membuat produk yang ukurannya besar bisa satu minggu. Lebih-lebih bila ada permintaan khusus dari pelanggan.
Harga? Tak mahal. Santi menyebut di kisaran Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu untuk gantungan kunci. Bila boneka atau topi kisarannya Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. Yang mahal adalah outer-baju luar-bisa mencapai Rp 700 ribu.
Semua anggota komunitas menyadari permintaan pasar selalu berkembang. Taste fashion juga berbeda. Karena itu, mereka berusah up to date terkait gaya fashion maupun asesoris.
“Seperti waktu zamannya boneka labubu, itu kami juga dapat pesanan untuk membuat itu. Cukup sulit membuatnya. Pokoknya harus mengikuti perkembangan zaman dan harus sering buka media sosial,” sambung Binti Wahidah Suryati, anggota yang lain.
Baca Juga: Kerajinan Rajut Karya Warga Desa Tugurejo Ngasem Kediri Ini Laku Sampai Jadi Suvenir di Australia
Menurutnya, mereka harus pintar mencari waktu untuk berkarya. Seringkali mengerjakan sampai larut malam. Padahal pagi harinya harus memasak untuk keluarga.
“Kalau saya biasanya mengerjakan ketika anak tidur malam. Biasanya tengah malam itu idenya justru lancar. Nanti kalau belum selesai dilanjutkan pagi hari setelah memasak,” ungkapnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri.
Meskipun harus bersusah-susah seperti itu, Binti dan kawan-kawan tetap bersemangat. Selain jadi penghibur prospek penjualan juga menjanjikan. Setiap kali berjualan di pameran, bazar, ataupun event tertentu omzetnya bisa jutaan rupiah.
Baca Juga: Kerajinan Peralatan Masak dan Gantungan Kunci Rajut Banyak Dibeli
“Sekelompok bisa dapat omset Rp 6 juta dalam kurun waktu 3 hari. Tapi kalau hari biasanya seperti ini paling ramai Rp 500 ribu sampai dengan Rp 1 juta,” bebernya perempuan berusia 56 tahun itu.
Tak ada kendala? Tentu saja ada. Menurutnya, problem besar adalah modal, waktu, dan pemasaran. Modal mereka tak terlalu besar. Kadang kesulitan bila ada produk yang sudah jadi namun dikoreksi oleh pelanggan. Namun, semua itu mereka hadapi dengan kesabaran tinggi.
Tak heran jika kesabaran dan keuletannya dalam membuat karya itu banyak disukai oleh pelanggannya. Baik dari dalam kota maupun luar kota. Bahkan, juga luar pulau.
Baca Juga: Gantungan Kunci Jenis Dompet Jadi Buruan Pengunjung Kuno Kini Fest 2025 Kediri
“Terjauh kami bisa mengirim sampai dengan Kalimantan Tengah. Kalau ke Jakarta juga sering. Yang ke luar negeri paling karena sebelumnya mereka berlibur ke sini terus dibawa. Tapi selalu repeat order,” pungkasnya sembari menyebut jika produk favorit mereka adalah gantungan kunci bentuk jamur dan landak.
Editor : Andhika Attar Anindita