KEDIRI - RN adalah pelajar di salah satu SMA di Kota Kediri. Usianya 18 tahun. Soal pil koplo dia mengaku sudah kenal cukup lama. Sejak dia duduk di kelas X.
“Biasanya disebut grasak, Mas,” terang RN.
RN mengaku bukan pecandu. Tapi sudah tak asing dengan aneka pil koplo. Selain pernah mengonsumsi, banyak rekan-rekan satu kelasnya yang kecanduan. Bahkan, berdasarkan informasinya di kelasnya ada lebih dari lima orang di kelasnya yang aktif sebagai pemakai.
Faktor teman itulah yang membuat RN terpengaruh. “Kalau saya sih tidak ada depresi atau apa. Masalah keluarga saya juga tidak punya. Waktu itu ya cuma ikut-ikutan saja,” aku RN.
Biasanya, mereka mengonsumsi pil koplo saat jam istirahat pertama. Tempat favorit adalah kamar mandi sekolah. Sambil mengonsumsi LL, kamar mandi juga jadi tempat favorit untuk merokok. Tak hanya teman sekelasnya, tapi juga dari kelas-kelas lain. “Sekali konsumsi antara empat sampai delapan butir, Mas,” terangnya.
Sesaat setelah meminum pil itu, RN mengaku kepala terasa ringan. Sangat nyaman untuk digunakan melamun. Namun, setelahnya baru terasa efek buruknya. Tubuh bisa gemetaran, susah tidur, pandangan kabur, dan yang paling parah, daya ingat jadi berkurang. Dia jadi sulit melakukan konsentrasi.
Itulah mengapa setiap usai mengonsumsi dobel L, RN jadi sulit menerima pelajaran. Dan, yang membuat dia menyesal, setelah tak mengonsumsi selama setahun ternyata dampak itu masih terasa. “Mau bagaimana lagi Mas. Saya pikir bisa berhenti saja sudah anugerah,” ujarnya.
Karena pernah mengonsumsi narkoba, RN pun tak sulit membedakan siapa pengguna dan yang bukan. Ciri yang paling gampang dilihat adalah tatapan mata. Tatapan mata seorang pengguna akan terlihat kosong. Kemudian, tangannya juga sering gemetar.
Selain jadi tempat mengonsumsi, sekolah juga jadi lahan bertransaksi. Bahkan, di sekolah menurut RN bisa lebih aman. Dulu, RN juga membeli dari teman sekelas.
Memang, harganya lebih mahal. Tapi lebih aman dibanding harus beli dari Bandar. Setiap delapan butir harganya Rp 10 ribu. Sedangkan bila beli di Bandar tiap 100 butir harganya Rp 75 ribu. “Delapan butir itu nilainya sama dengan uang saku saya sehari. Kadang kalau uangnya tidak cukup cuma beli empat butir saja. Harganya Rp 5 ribu,” terang RN.
Menurut RN ada berbagai macam cara untuk menyelinapkan LL ke dalam area sekolah. Di antaranya dimasukan ke dasi, saku baju atau celana, dompet, sela topi, dan diselipkan di antara gigi dan gusi. “Makanya, kadang ada teman-teman yang giginya keropos itu biasanya makai,” ujar RN.
Sementara saat menyelundupkan LL, RN sendiri mengaku hanya cukup memasukan butiran pil berwarna putih itu ke dalam saku bajunya. Meski berbahaya, RN mengaku tak pernah khawatir. “Ukurannya kecil dan tidak tampak jika dilihat sekilas. Lagipula guru kami tidak pernah merazia. Buktinya, selama tiga tahun saya sekolah di situ tidak ada yang ketahuan bawa grasak,” ujar RN.
RN mengaku ia dan kawan-kawannya justeru tidak pernah menyelundupkan LL di dalam tas. Sebab, tas tidak selalu mereka bawa. Razia justru dilakukan pada barang bawaan di tas. Dan sasarannya biasanya konten porno di hape (telepon selular). Tapi kalau sampai ketahuan ada LL ya bisa repot mas. Nggak Cuma dikeluarkan, bisa urusan sama polisi juga,”ujarnya.
RN sendiri merasa cukup beruntung bisa lepas dari jeratan ketergantungan terhadap dobel L. “Jujur ya mas, mungkin kalau bukan karena cewek saya akan tetap terjebak. Toh yang kadang saya miris itu, banyak kakak kelas saya yang sudah lulus tapi masih saja berkecimpung di situ (pemakai dan peredaran LL),”ujar RN.
Narkoba di Sekolah
- Penyebab : Masalah keluarga, faktor pergaulan
- Tempat Favorit Pemakai : Kamar Mandi
- Cara Selundupkan LL : Masukkan ke dasi, saku, dompet, di sela topi, dan di sela gigi dan gusi.
- Harga : Rp 10 ribu per 8 butir
Editor : adi nugroho