Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Telur

Mahfud • Kamis, 11 Juni 2026 | 13:35 WIB
ikon titik nol
ikon titik nol

Mengapa telur? Karena komoditas ini sempat bikin geger. Terutama telur ayam ras. Harganya anjlok tidak karuan. Padahal, di sisi lain, harga-harga penopang produksinya-seperti pakan dan obat-naik tajam.

Lho? Inilah anehnya. Ketika peternak terjepit di antara harga pakan dan obat-obatan yang mahal, eh, harga jual ternyata tak sepadan. Pasar tak mampu menyerap dengan harga yang tinggi. Jadinya, telur pun tak laku. Sampai-sampai, ada peternak di salah satu kota yang memilih membagi-bagikan telur secara gratis. Bukan untuk tujuan sosial sebenarnya. Melainkan bentuk protes dan keputusasaaan.

Apakah masyarakat sudah jarang mengonsumsi telur? Ah, tidak juga. Hingga saat ini saya yakin telur adalah makanan atau lauk favorit setiap keluarga di Indonesia. Setelah tempe dan tahu, serta kerupuk.

Pasar juga sebenarnya terbuka lebar. Buktinya, banyak ibu-ibu yang berburu telur di market-place. Memborong telur yang harganya sanga gila murahnya! Hanya Rp 16 ribu per kilogram. Padahal di pasar ‘nyata’ harganya masih menyentuh Rp 30 ribu per kilogram! Waduh!

Mengapa ini? Teori apa yang bisa menjelaskan fenomena aneh ini? Soal tata kelola seperti yang ramai diarahkan pada program MBG saat ini?

Baca Juga: Permintaan Telur Melonjak Tajam di Kediri, Dipicu Konsumsi dan Program MBG

Mungkin, banyak ekonom yang bisa menjelaskan problematikanya. Namun, yang pasti, tentu ada rantai proses soal telur yang salah. Bila tidak, tak mungkin akan terjadi seperti sekarang ini. Telur banyak tapi tak laku. Ongkos produksi mahal tapi harganya murah. Bikin peternak jadi semaput. Tak peduli dia skala besar, menengah, atau bahkan kecil.

Saya jadi teringat ketika awal program MBG-makan bergizi gratis, bukan maling berkedok gizi seperti yang digaungkan banyak orang lho-digulirkan. Pembuat kebijakan koar-koar bahwa MBG akan menciptakan multiplier effect yang luas di masyarakat. Salah satunya telur. Karena lauk telur yang disiapkan akan dibeli dari peternak lokal.

Buktinya? Ah, pembaca tahu sendiri. Bila teori multiplier effect itu terjadi tentu tak ada cerita peternak bagi-bagi telur gratis sebagai ekspresi keputusasaan.

Lalu, mengapa ini terjadi? Bahkan, sering berulang-ulang bak dejavu. Terjadi lagi, lagi, dan lagi. Setiap kali justru terasa parah tanpa ada upaya serius menanggulanginya.

Akhirnya, bila kita telusuri hingga ke pangkalnya, problemnya adalah bukan soal tata kelola saja. Itu adalah sebagian kecil dari kubangan masalah. Ada lagi ketidakpedulian pada ekonomi rakyat. Serta peta jalan-istilah kerennya road map-yang nihil.

Nyaris seperti petani kita yang hanya dituntut produktif tanpa ada kejelasan nasib dan masa depannya, demikian pula para peternak ayam petelur-dan mungkin peternak-peternak lain. Tak ada upaya untuk memberi arahan dan jalan bagi mereka agar tercipta sustainable kehidupan. Maksud saya, petani maupun peternak bisa hidup berkelanjutan.

Sudah rahasia umum bila masyarakat kita adalah pelatah. Suka ikut-ikutan ketika ada sisi bisnis yang berhasil dan mendatangkan laba menggiurkan. Namun, mereka lupa bahwa ada titik jenuh pada bisnis itu. Bila semua menerjuni bidang yang ramai tersebut, dan pasar tidak dikembangkan, yang terjadi adalah kebuntuan pasar pada akhirnya.

Apakah dunia ternak ayam petelur seperti itu? Ah, entahlah. Yang pasti, banyak terjadi yang seperti itu.

Baca Juga: Peternak Telur Puyuh Kediri Banjir Pesanan MBG, Sampai Ratusan kg Perhari

Persoalan lain adalah perhatian pemerintah yang terkesan apa adanya. Tidak ada keseriusan yang dilakukan. Setidaknya, bagaimana menolong peternak agar mendapatkan pakan yang tidak mahal. Juga rasa aman pada fase pemasaran. Tentu ini tugas pemerintah. Karena mereka punya otoritas membuat regulasi. Kalau perlu subsidi. Bila rentan dikorupsi, ya harus dipilih bantuan lain yang dampaknya bisa langsung dirasakan peternak.

Bila kemudian ada yang bertanya, kenapa ada harga telur di market-place yang murah banget? Ini juga yang harus jadi perhatian. Bukan hanya oleh pemerintah, juga untuk masyarakat.

Lalu, mengapa harga di market-place bisa semurah itu? Bisa jadi  itu strategi bakar uang. Atau, wujud dominasi peternak besar yang menguasai hulu hingga hilir. Konglomerasi mereka sejak bibit ayam, konsentrat, hingga jalur distribusi telur dimiliki. Jadinya, bila kita membeli telur dari yang beginian ini, uang kita disedot oleh si raksasa ini.

Sudah saatnya kita tidak berpikir pingin untung sendiri. Kita harus sadar bahwa tindakan sepele seperti itu, membeli telur dari marketplace yang harganya supergila murahnya adalah Langkah kurang bijak. Karena bisa membunuh peternak skala kecil dan menengah. Yang di dalamnya juga ada pekerja yang butuh penghasilan.

Kalau ada yang bilang, eh, kok peternak enak saja minta masyarakat yang peduli? Sementara mereka tak mampu menyelesaikan masalahanya sendiri? Toh, masyarakat sudah dipusingkan dengan harga-harga yang kian melambung? Sedangkan pemerintah sibuk berdalih bahwa fundamental ekonomi kita masih fine-fine saja?

Oke, setuju! Peternak juga tak boleh tinggal diam. Mereka juga harus bertindak. Menolak untuk kalah oleh keadaan dan pasar. Ada baiknya pula mereka berkumpul-terutama peternak kecil-menjadi satu. Membentuk koperasi. Menghilangkan ego dan mementingkan kebersamaan.

Koperasi-koperasi yang terbentuk dari situasi inilah yang berpotensi menjadi koperasi sebenarnya. Yang memiliki marwah dari, oleh, dan untuk anggota. Dibentuk karena kesamaan nasib dan kesamaan keinginan memperbaiki nasib. Bukan koperasi yang dibentuk khusus. Yang anggotanya ditunjuk khusus. Yang modalnya diberi khusus. Yang model bisnisnya dipilih khusus. Yang pengurusnya ditunjuk bukan oleh anggota. Yang manajemennya dibentuk bukan oleh  pengurus.

Ah, adakah koperasi yang seperti itu? Coba kita tanya pada Sang Saka Merah Putih! Merdeka! (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

Editor : Shinta Nurma Ababil
#ekonomi #kenaikan harga bahan pokok #harga telur #telur #kenaikan harga