Berawal dari kegemaran menggambar sejak kecil, Rachma berhasil mengubah hobinya menjadi peluang usaha yang terus berkembang.
Bhayangkari yang sehari-hari bekerja di Kejaksaan Negeri Kota Kediri itu kini dikenal sebagai owner Hello Finger.
Usaha kreatif yang tak hanya melayani buket dan parcel. Tetapi juga face painting yang kian diminati masyarakat.
Perempuan kelahiran Nganjuk, 1 September 1996 tersebut mengaku ketertarikannya pada dunia seni sudah muncul sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Hampir setiap tugas menggambar maupun mewarnai selalu menjadi yang terbaik. Bahkan ia beberapa kali dipercaya mewakili sekolah mengikuti berbagai lomba kreativitas hingga tingkat kabupaten.
“Memang dari kecil sudah suka menggambar. Rasanya seru, terus dari contoh yang ada saya coba kembangkan sendiri,” ujar istri dari Aderay Putra Perdana itu.
Memasuki bangku kuliah di Universitas Islam Kadiri (Uniska), Rachma mulai mencoba berwirausaha.
Pada 2016 saat menunggu waktu masuk kuliah, ia memberanikan diri membuka usaha buket secara mandiri dari kamar kos.
Berbekal promosi melalui media sosial dan rekomendasi dari teman ke teman, pesanan datang di luar dugaan.
Dalam sebulan, ia mampu menerima hingga lebih dari seratus pesanan ketika musim wisuda.
Bahkan pada awal merintis, ia kerap harus begadang semalaman demi menyelesaikan seluruh pesanan yang masuk.
“Awalnya saya pikir bisa dikerjakan sendiri. Ternyata pesanan banyak sekali sampai harus lembur semalaman,” kenangnya.
Tidak ingin berhenti di satu jenis usaha, Rachma terus berinovasi. Usaha buket berkembang menjadi dekorasi balon, parcel Lebaran dan Natal, hingga berbagai produk kerajinan lainnya.
Sifatnya yang mudah bosan justru menjadi alasan untuk terus mencari tantangan baru.
Baca Juga: Mengenal Sosok Galuh Panggalih Dewanti, Atlet Voli Berbakat Asal Kediri
Sekitar tiga hingga empat tahun terakhir, ia mulai tertarik mencoba face painting setelah sering melihat konten serupa di media sosial.
Tanpa mengikuti kursus, ia membeli sendiri perlengkapan yang dibutuhkan lalu belajar secara otodidak melalui berbagai video tutorial.
“Semua saya belajar sendiri. Dari buket, balon sampai face painting tidak pernah kursus,” katanya.
Agar kemampuannya semakin terasah, Rachma menjadikan anak-anak tetangga, teman, hingga kerabat sebagai model latihan.
Ia bahkan tidak memungut biaya demi membangun portofolio. Dari situ, hasil karyanya mulai dikenal dan dipercaya untuk mengisi berbagai kegiatan.
Kesempatan besar datang ketika ia mencoba membuka stan face painting di kawasan Simpang Lima Gumul saat Car Free Day (CFD).
Bermodal satu banner sederhana dan hanya ditemani seorang rekan, ia semula tidak berekspektasi tinggi.
Namun kenyataannya, dalam sehari mereka melayani sekitar 80 anak yang rela mengantre untuk dilukis wajahnya.
“Sampai enggak sempat sarapan. Baru pertama ikut CFD ternyata antreannya panjang sekali,” ujarnya.
Sejak saat itu, permintaan face painting terus berdatangan. Mulai dari pesta ulang tahun, karnaval, festival anak, hingga berbagai event besar di Kediri.
Bahkan dalam penyelenggaraan acara berskala besar selama beberapa hari, omzet yang diperoleh bisa mencapai dua digit sehingga ia harus melibatkan sejumlah tenaga freelance untuk membantu melayani pengunjung.
Selain menambah pundi-pundi rupiah, Rachma mengaku ada alasan lain menggeluti usaha tersebut.
Dia mengaku bahagia melihat anak-anak atau customer senang dengan karya buatannya.
Terkadang, senyum mereka jauh lebih berharga dari cuan yang didapat. “Lihat wajah customer bahagia saya juga jadi ikut senang,” akunya.
Rachma mengatakan, kualitas menjadi hal yang selalu dijaga. Ia tidak ingin sekadar menggambar asal jadi.
Tetapi memastikan setiap detail memiliki bentuk dan komposisi warna yang baik. Standar tersebut juga ia terapkan kepada seluruh anggota tim yang dilatihnya.
Menurut istri anggota Polri itu, media sosial menjadi salah satu kunci perkembangan usahanya.
Konten-konten yang diunggah di TikTok dan Instagram berhasil menarik perhatian masyarakat. Sehingga semakin banyak penyelenggara acara yang menghubunginya.
Selain aktif mengembangkan usaha, Rachma juga pernah memperkenalkan karya face painting miliknya dalam kegiatan UMKM Bhayangkari Polres Kediri Kota.
Baginya, kreativitas yang dimiliki seorang Bhayangkari dapat menjadi nilai tambah untuk terus berkarya sekaligus membuka peluang usaha.
“Saya ingin terus berkembang. Selama masih mau belajar, hobi itu bisa menjadi sesuatu yang menghasilkan dan bermanfaat untuk orang lain,” pungkasnya.
Editor : MahfudSumber : Radar Kediri