Fidelity Beri Sinyal, Harga Emas Berpotensi Kembali Bullish pada 2027

JP Radar Kediri – Sejumlah factor utama yang sebelumnya mendorong harga emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran US$5.600 per ons pada awal tahun ini dinilai masih tetap bertahan. Kondisi tersebut diperkirakan dapat membawa emas Kembali memasuki bull market atau tren kenaikan harga berkelanjutan pada 2027.
Proyeksi tersebut disampaikan Manajer Portofolio Multi-Aset Fidelity International, Ian Samson, sebagaimana dilansir Kitco News dan dikutip Minggu (19/7/2026). Menurutnya, prospek ini bisa menjadi dasar bagi investor untuk mengubah posisi alokasi emas dalam portofolio, dari netral menjadi overweight atau porsi yang lebih besar dari bobot acuan.
"Kami memiliki rencana untuk kembali mengambil posisi overweight pada emas," kata Samson. "Pertanyaannya sekarang adalah kapan waktu yang tepat untuk melakukannya," tambahnya.
Meski emas sempat mencatat kinerja kuartalan terburuk dalam lebih dari satu dekade terakhir, Samson menegaskan dasar pemikiran yang menopang prospek jangka panjang logam mulia tersebut belum berubah.
Pada awal tahun ini, Samson sempat memutuskan menurunkan posisi emas Fidelity dari overweight menjadi netral. Penyesuaian tersebut dilakukan pada periode Januari-Februari, tepat sebelum tren kenaikan harga emas yang telah berlangsung selama beberapa tahun akhirnya terhenti.
Harga emas mulai terkoreksi dari rekor tertinggi mendekati US$5.600 per ons pada akhir Januari, dan penurunannya semakin tajamn sekitar sebulan berikutnya seiring dimulainya perang di Iran.
"Dari perspektif taktis, saat ini jumlah faktor penghambat relatif seimbang dengan faktor pendorong," ujar Samson.
Ia memperkirakan harga emas pada akhir 2026 akan sedikit lebih tinggi dibandingkan level saat ini, meski kenaikan tersebut kemungkinan belum cukup kuat untuk menandai dimulainya kembali tren kenaikan jangka panjang. Namun, keyakinan Fidelity terhadap prospek emas dalam jangka panjang tidak berubah perusahaan manajer investasi global yang juga aktif berinvestasi di berbagai negara termasuk Indonesia ini tetap memperkirakan emas akan kembali memasuki bull market pada suatu waktu sepanjang 2027.
Menurut Samson, prospek positif emas akan tetap terjaga selama kondisi makroekonomi global tidak mengalami perubahan mendasar. Skenario kenaikan harga emas berpotensi melemah apabila pemerintah di berbagai negara kembali menerapkan kebijakan fiskal yang lebih konvensional dan disiplin, serta bank sentral benar-benar berupaya menekan inflasi secara berkelanjutan.
"Selama pemerintah tidak kembali pada kebijakan fiskal yang ortodoks dan bank sentral tidak melakukan upaya nyata untuk menekan inflasi, alasan untuk tetap optimistis terhadap emas tidak akan hilang," jelas Samson. "Namun, saya tidak melihat kita sedang hidup dalam kondisi seperti itu saat ini," lanjutnya.



