Bagi Galuh Panggalih Dewanti, olahraga voli telah mengubah hidupnya. Dari lapangan voli, dia mampu membiayai sekolahnya sendiri. Yang juga tak pernah dia bayangkan, impiannya satu per satu terwujud.
Mulai dari merasakan atmosfer kompetisi di luar negeri hingga beribadah umrah ke Tanah Suci.
Perempuan kelahiran Kediri, 29 Juni 1998 itu mengaku tak pernah menyangka pilihan yang diambilnya sejak kecil akan membawanya sejauh ini.
Semua itu berawal saat dia duduk di bangku kelas 4 SD. Guru olahraganya mengajak Galuh bergabung dengan klub voli setelah melihat ada bakat terpendam dari perempuan asal Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri itu.
Tak disangka, latihan di klub jauh lebih berat dibanding bermain voli di sekolah. Fisiknya dikuras setiap hari hingga membuatnya sempat berpikir untuk berhenti.
“Awal masuk klub kaget. Latihannya berat, capek. Sempat kapok juga,” kenangnya.
Bahkan, dia sempat kabur karena lelah dengan atmosfer latihan yang berat. Saat memasuki SMP, orang tuanya memberikannya dua pilihan keterampilan untuk dikembangkan. Bidang fashion atau olahraga, khususnya voli.
Saat itu, ia mantap memilih olahraga. Keputusan itu lahir karena sejak kecil, ia merasa lebih menikmati tantangan di lapangan dibanding aktivitas lainnya. Apalagi, dia sudah punya pengalaman di bidang voli.
“Kalau olahraga itu ada tantangannya. Capek memang, tapi justru bikin ketagihan,” ujar putri dari pasangan Erwin Yohanes dan Eni itu.
Keputusan tersebut menjadi titik balik kariernya. Setelah kembali bergabung ke klub, kemampuannya berkembang sangat cepat.
Dari kelas pemula, hanya butuh waktu singkat baginya untuk naik ke kelas yang lebih tinggi, sampai dipercaya bermain bersama para senior dalam kejuaraan resmi. Prestasi demi prestasi pun ia torehkan.
Tak hanya membela Kota Kediri di berbagai ajang, tapi juga tampil di laga profesional lainnya.
Di antaranya, empat kali mengikuti Livoli Divisi I bersama sejumlah klub berbeda, hingga menjadi bagian tim yang meraih medali pada Porprov Jawa Timur.
Meski gelar juara Livoli belum berhasil diraih, konsistensinya membuat namanya dikenal di kalangan pevoli nasional.
“Ada Juara 2 Kejuaraan Dispora Ponorogo 2022, Juara 2 Kejuaraan PTKIN di Aceh 2017, Juara 2 Kejuaraan Porprov di Bojonegoro 2019, Juara 1 Kejurprov Tingkat Junior se-Jatim di Banyuwangi 2014,” urainya, mengingat-ingat prestasi yang pernah dia dapatkan.
Bagi spiker itu, voli juga membuka banyak pintu yang sebelumnya hanya menjadi angan-angan.
Berbagai turnamen membawanya mengunjungi banyak daerah di Indonesia. Mulai dari Aceh hingga Papua.
Berkat skill bermainnya, Galuh banyak didatangkan sebagai pemain bon-bonan atau disewa berbagai klub maupun partai voli.
OsoBaca Juga: Sosok Inspiratif Mubarok Ainul, Orang Kediri Pertama yang Raih Gelar Doktor Ushul Fikih dari Ummul Qura Makkah
“Rasanya seperti jalan-jalan. Naik pesawat, hotel, makan semua ditanggung. Tinggal main voli saja,” katanya.
Dari penghasilan bermain voli pula, Galuh berhasil berangkat umrah. Termasuk jalan-jalan ke Korea juga berhasil dia wujudkan berkat ketekunannya bermain voli.
Bahkan, Galuh juga pernah bermain untuk negara luar. Pada 2024 lalu, perempuan berjilbab itu mendapat kontrak sebagai pemain asing di Liga Voli Timor Leste.
Di sana, dia membela klub SLB dan sukses membawa timnya menjadi juara. “Dulu impiannya pengen umrah sama jalan-jalan ke luar negeri. Alhamdulillah semua bisa terwujud karena voli,” ungkapnya.
Perjalanan menuju titik itu tentu tidak selalu mulus. Saat kariernya tengah menanjak, ia justru mengalami cedera bahu yang cukup serius.
Akibatnya, ia harus berhenti bermain selama berbulan-bulan. Dia bahkan sempat trauma kembali mengangkat tangan dan melakukan smash.
Selama masa pemulihan, ia hanya bisa melihat video-video pertandingan lamanya sambil berharap dapat kembali ke lapangan.
“Sempat takut. Rasanya jangan-jangan sudah enggak bisa main lagi,” kenangnya getir.
Berkat dukungan pelatih, orang tua, dan teman-temannya, ia perlahan bangkit.
Galuh kembali berlatih hingga akhirnya berani tampil lagi dalam berbagai turnamen.
“Gara-gara cedera itu harus menolak berbagai kontrak. Termasuk kontrak bermain di Malaysia,” sesal Galuh.
Kini, selain aktif sebagai atlet, Galuh juga mulai membangun usaha perlengkapan olahraga dengan merek Ge Sport.
Produk seperti manset, legging, hingga perlengkapan olahraga dipasarkan secara daring hingga tembus pasar berbagai daerah di Indonesia.
Berkat voli pula, Galuh mampu menuntaskan pendidikan tanpa membebani orang tua. Selama sekolah hingga kuliah di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, ia mendapat beasiswa dari jalur prestasi olahraga.
Penghasilan dari bermain voli juga menjadi bekal uang saku sekaligus membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Hobi yang dulu cuma buat senang-senang, ternyata sekarang jadi pekerjaan. Dari voli, banyak mimpi lama yang akhirnya bisa terwujud,” pungkasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita