JP Radar Kediri – Dandhy Dwi Laksono kembali menjadi sorotan lewat karya dokumenter terbarunya berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (2026). Film yang ia garap bersama Cypri Paju Dale itu disebut menyoroti dampak proyek strategis nasional di Papua Selatan dan memicu diskusi publik di sejumlah kanal media serta pemutaran komunitas.
Dandhy dikenal sebagai jurnalis investigatif dan sineas dokumenter yang konsisten mengangkat isu sosial, lingkungan, agraria, dan hak asasi manusia. Melalui sejumlah karya, ia kerap memilih jalur distribusi independen, termasuk pemutaran komunitas dan rilis digital, alih-alih bergantung pada sirkuit bioskop arus utama.
Latar Belakang
Dandhy Dwi Laksono lahir di Lumajang, Jawa Timur, pada 29 Juni 1976. Ia menempuh pendidikan Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran, Bandung, serta mengikuti program nonformal di Ohio University, Amerika Serikat, pada 2007 dan British Council, London, pada 2008.
Karier jurnalistiknya dimulai sejak 1990, dan pada 1998 ia tercatat bekerja di tabloid Kapital dan majalah Warta Ekonomi. Ia kemudian berkiprah di radio seperti Pas FM, Smart FM, dan Ramako, sebelum masuk ke televisi sebagai produser berita di Liputan 6 SCTV dan Kepala Seksi Peliputan di RCTI.
Baca Juga: Film Pesta Babi Tentang Apa? Ini Isu yang Diangkat Hingga Viral Acara Nobar Dibubarkan
Ia juga pernah memimpin acehkita.com, media alternatif yang hadir pada masa pemberlakuan darurat militer di Aceh pada 2003–2005. Dalam perjalanannya, Dandhy dikenal konsisten mempertahankan jurnalisme investigatif dan kerja-kerja media independen.
Atas kontribusinya dalam jurnalisme investigatif dan dokumenter, Dandhy menerima Ramon Magsaysay Award 2021 pada kategori Emergent Leadership. Penghargaan itu menegaskan pengaruhnya sebagai salah satu figur penting dalam jurnalisme independen di Asia.
Karya Dokumenter
Nama Dandhy luas dikenal melalui sejumlah film dokumenter yang banyak membahas isu publik. Beberapa karya yang tercatat antara lain Samin vs Semen (2015), Sexy Killers (2019), The Bajau (2020), Pulau Plastik: Perjalanan dan Catatan untuk Masa Depan (2021), The Endgame (2021), Barang Panas (2023), Dirty Vote (2024), dan Dirty Vote II O3 (2025).
Karya-karya tersebut memperlihatkan gaya khas Dandhy: investigatif, kritis, dan dekat dengan isu ketimpangan sosial maupun lingkungan. Melalui Pesta Babi, pendekatan itu kembali berlanjut dengan fokus pada Papua dan relasi kuasa di balik pembangunan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Mahfud