Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Wayang Krucil Kediri: Dari Kayu Mentaos Menjadi Panggung Sejarah Panji

rekian • Sabtu, 25 Oktober 2025 | 19:00 WIB

Dua dalang Wayang Krucil Kediri.
Dua dalang Wayang Krucil Kediri.
KEDIRI, JP Radar Kediri- Kayu mentaos punya peran penting di dunia seni dan kerajinan tradisional. Khususnya di pulau Jawa. Memiliki ilmiah Wrightia pubescens, kayu ini disebut punya nilai historis dan filosofis yang mendalam untuk Wayang Krucil. 

Pohon mentaos ini tumbuh di wilayah tropis seperti di Asia Tenggara. Di Indonesia, pohon ini banyak ditemukan di Jawa Timur seperti Nganjuk, Kediri, dan Malang. Keberadaan pohon ini bisa ditemui di alam liar. Belakangan pohon ini mulai populer sebagai bahan untuk bonsai. 

Namun, pohon mentaos ini paling sering dipakai untuk Wayang Krucil. Alasan perajin menggunakan mentaos sebagai bahan baku wayang krucil, tidak lepas dari karakteristiknya yang menarik. 

Baca Juga: Profil Desa Senden, Kayenkidul, Kabupaten Kediri: Upaya Melestarikan Kesenian Wayang Krucil agar Tidak Punah

Makna dan Filosofi Pohon Mentaos pada Wayang Krucil: 

Pertama: Kayu mentaos memiliki tekstur serat kayu yang halus, padat, dan mudah saat diukir. Karakteristik ini sangat cocok untuk diukir dengan pahat miring. Membuat perajin bisa menciptakan detail-detail tokoh wayang dengan presisi.

Kedua: Kayu Mentaos ini mudah diukir. Kayunya tidak terlalu keras tapi padat membuatnya mudah dipahat perajin. Durasi pembuatan wayang dari kayu ini bisa 3 hari sampai satu minggu per unitnya. 

Baca Juga: Jelajah Desa Unik di Nganjuk: Wayang Krucil dan Kentrung Wajib saat Nyadran

Ketiga: Bentuk wayang yang terbuat dari kayu pipih dengan ketebalan 2-3 cm akan mengarah ke tiga dimensi. Sehingga karakternya lebih ‘bernyawa’ dibandingkan dengan wayang kulit. Ini pula yang membuat Wayang Kruci berbeda dengan wayang kulit. 

Adapun filosofi penggunaan kayu mentaos yang menjadi media utama diyakini para dalang  sebagai keinginan atau harapan dalang kepada penontonnya harus tembus dan bersatu.

Baca Juga: Dalang Wayang Krucil Kini Tersisa Tiga Orang

Ibaratnya sebagai usaha manusia untuk bisa menembuskan harapannya kepada Tuhan atau mencapai tujuan hidup. Kayu yang padat dan kokoh mencerminkan kekuatan pesan moral dan ajaran yang disampaikan melalui lakon wayang, yang diharapkan dapat meresap dan menembus hati para penonton.

Wayang Krucil sebagai Media untuk Dakwah dan Pakem Cerita Panji: 

Makna budaya dan filosofi yang kuat sebagai media untuk dakwah. Sebab, kelahiran Wayang Krucil diyakini muncul pada masa awal masuknya Islam di Nusantara. Bahkan erat dikaitkan dengan dengan Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga sebagai media dakwah. 

Baca Juga: Terus Eksis, Wayang Krucil Menolak Punah

Cerita-ceritanya pun sering diambil dari Hikayat Amir Hamzah (Cerita Menak) atau Cerita Panji. Ini erat kaitannya dengan kebudayaan lokal dan nilai-nilai spiritual.

Dari Cerita Panji itu didapat pelajaran hidup yang lakon utamanya adalah Asmarabangun dan Galuh Candrakirana. Dimaknai sebagai konsep kehidupan dari awal, tengah, dan akhir. Ada cerita tentang pencarian tujuan hidup yang hakiki. 

Baca Juga: Ki Harjito, Dalang Wayang Krucil yang Masih Bertahan di Kediri

Kesederhanaan yang Kaya Makna berkembang di kalangan petani dan masyarakat pegunungan di Jawa Timur. Ini memiliki tampilan yang sederhana. Yakani kelir kain, gamelan sederhana, narasi penuh petuah. Mencerminkan seni rakyat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan sarat dengan nilai-nilai filosofi kehidupan. 

Wayang Krucil: Warisan Lokal dari Pusaran Sejarah Kediri-Jenggala.

Wayang Krucil memiliki ikatan sejarah yang sangat erat dengan peradaban Jawa Timur era klasik. Kesenian wayang dari kayu pipih ini tidak hanya menjadi media tontonan, tetapi juga penutur setia kisah-kisah yang berlatar belakang pusaran kekuasaan antara Kerajaan Kediri dan Jenggala. Yakni dua kerajaan kembar pecahan dari Kerajaan Airlangga. 

Baca Juga: Wayang Timplong Bercerita: Dari Panji ke Semangat Anak Negeri

Keterikatan inilah yang menjadikannya sebuah warisan budaya yang sangat lokal, terutama bagi masyarakat di kawasan eks-Karesidenan Kediri dan sekitarnya. Ciri khas utama yang menegaskan keterkaitan Wayang Krucil dengan sejarah lokal Kediri-Jenggala adalah lakon utama yang dipentaskan. Berbeda dengan Wayang Kulit Purwa yang bersumber dari epos India Mahabharata dan Ramayana, Wayang Krucil secara spesifik dan dominan membawakan kisah Cerita Panji.

Cerita Panji adalah karya sastra asli Indonesia yang lahir dan berkembang pada masa Kerajaan Kediri sekitar abad ke-12 Masehi. Cerita ini mengisahkan tentang kepahlawanan dan cinta antara Raden Panji Inu Kertapati (Panji Asmarabangun), putra mahkota dari Kerajaan Jenggala (sering disebut Kuripan). Dan Dewi Sekartaji (Galuh Candrakirana), putri mahkota dari Kerajaan Kediri (sering disebut Daha atau Panjalu).

Baca Juga: Museum Exibition Mulai Besok! Wayang Jemblung Siap Hibur Pengunjung

Kisah ini berpusat pada pencarian, petualangan, dan penyatuan kembali kedua tokoh yang saling bertukar identitas, yang secara historis merefleksikan konflik dan penyatuan kembali antara dua kerajaan bersaudara. Yakni Jenggala dan Panjalu (Kediri) yang diwariskan dari Raja Airlangga. Dengan demikian, Wayang Krucil secara langsung merayakan dan melestarikan mitologi pendiri yang menjadi identitas kebudayaan wilayah tersebut.

Selain Cerita Panji, Wayang Krucil juga kerap mengangkat lakon yang bersetting periode setelahnya, termasuk kisah tentang Damarwulan dan Menakjingga. Itu adalah Legenda dari era Kerajaan Majapahit.

Baca Juga: Pasar Murah di Polsek Plemahan, Kapolsek AKP Bowo Main Wayang Golek Hibur Warga yang Antre

Kemudian Babad Tanah Jawi. Yakni kisah-kisah yang mencakup peralihan kekuasaan di Jawa Timur. Di Kediri sendiri, wayang krucil sering membawakan kisah seperti "Mapanji Sri Aji Jayabaya Muksa,". Yakni setting era Kerajaan Kediri dan mengisahkan peralihan kekuasaan.

Secara geografis, Wayang Krucil tersebar dan berkembang di sepanjang daerah aliran Sungai Brantas. Merupakan jalur kehidupan utama Kerajaan Kediri dan Jenggala pada masa lalu. Wilayah penyebaran utamanya meliputi, Kediri, Nganjuk (Desa Sonoageng, Prambon) dan Malang (wayang Krucil Malangan). Dan Tulungagung. 

Baca Juga: Jaga Indonesia dari Ancaman Perang Dunia, Wayang Mbah Gandrung Kediri Dikirab dari Semen ke Wates

Pola penyebaran tersebut menunjukkan Wayang Krucil merupakan produk seni rakyat yang tumbuh subur di lingkungan agraris yang dekat dengan sungai. Sangat kental dengan budaya masyarakat wetan (timur) Jawa, dan dijadikan media penting dalam acara-acara ritual komunal seperti Nyadran.

Wayang Krucil menjadi warisan lokal yang unik karena menjadi simbol akulturasi dan warisan lokal. Wayang Krucil ini dianggap sebagai salah satu bentuk akulturasi antara Wayang Kulit Purwa (era Hindu-Buddha) dengan kebudayaan Islam. Sosok tokohnya menyerupai wayang kulit, namun terbuat dari kayu pipih, dan ceritanya bergeser dari epos India ke kisah lokal seperti Panji, yang kemudian juga disisipi pesan-pesan dakwah dan nilai-nilai moral.

Baca Juga: Ini Pesan Spiritual dalam Pagelaran Wayang Kulit Bersih Desa Tegowangi

Lakon Panji merupakan identitas kultural Kediri. Merupakan kisah pendiri peradaban pasca-Airlangga yang telah dinobatkan oleh UNESCO sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World). Fokus utama pada kisah ini, Wayang Krucil secara otomatis berfungsi sebagai penjaga dan penutur ingatan kolektif masyarakat Kediri dan Jenggala mengenai asal-usul, kepahlawanan, dan filosofi hidup mereka.

Oleh karena itu, Wayang Krucil lebih dari sekadar tontonan. Kelahirannya menjadi identitas kultural yang merekam memori sejarah Kerajaan Kediri dan Jenggala. Menjadikannya sebuah masterpiece seni pertunjukan yang benar-benar berakar pada tanah tempat ia dilahirkan.

Baca Juga: Wayang Rakus Mangan Bumi

Perbedaan Visual Wayang Krucil: Gaya Klithik dan Karakteristik Kediri

Wayang Krucil atau akrab disebut Wayang Klithik adalah salah satu jenis kesenian wayang tertua di Jawa. Wayang ini memiliki ciri khas visual sangat unik. Karena berada di dua karakter wayang yakni antara Wayang Kulit dan Wayang Golek. Penamaan klithik sendiri merujuk pada bunyi "klithik-klithik" yang dihasilkan oleh wayang kayu ini saat dimainkan. Itu menambah unsur keriangan dan kesederhanaan dalam pertunjukannya.

Fokus utama penyebaran Wayang Krucil adalah di wilayah Jawa Timur, khususnya sekitar eks-Karesidenan Kediri, Nganjuk, dan Malang. Gaya visual Wayang Krucil dari Kediri memiliki kekhasan yang jelas saat dibandingkan dengan Wayang Kulit Purwa, maupun dengan Wayang Klithik dari daerah lain seperti Jawa Tengah.

Baca Juga: Mengenal Jek Dong, Wayang Kulit Gaya Jawa Timuran yang Memiliki Keunikan Tersendiri

Perbedaan paling mendasar antara Wayang Krucil Kediri dengan Wayang Kulit Purwa (yang mengangkat lakon Mahabharata dan Ramayana) terletak pada materi dan dimensi bentuknya. 

Wayang Kulit terbuat dari kulit kerbau atau sapi yang ditatah tipis dan lentur. Wayang Krucil, sebaliknya, dibuat dari kayu pipih dari mentaos (ada pula yang menggunakan pule atau kemiri) karena ketebalan yang signifikan. Bagian tubuh utama diukir dari kayu, sementara hanya lengannya terbuat dari kulit agar tetap fleksibel saat digerakkan. Dimensi kayu yang pipih namun tebal ini memberikan kesan dua dimensi yang mengarah ke tiga dimensi. Yakni memberikan karakter tokoh yang lebih ‘bernyawa’ dibandingkan wayang kulit yang mengandalkan bayangan.

Baca Juga: Mengenal Jek Dong, Wayang Kulit Gaya Jawa Timuran yang Memiliki Keunikan Tersendiri

Kemudian secara fisik, Wayang Krucil memiliki ukuran jauh lebih kecil (sekitar 30 cm), sesuai dengan makna kata krucil yang berarti anak kecil. Selain itu, pementasannya pun berbeda drastis. Wayang Kulit dimainkan di balik layar putih (kelir) dengan lampu (blencong) untuk menghasilkan bayangan (wayangan). Sementara Wayang Krucil dimainkan secara langsung, tanpa kelir. Wayang ditancapkan pada kayu atau bambu berlubang (slanggan), menjadikan wujud fisiknya yang terbuat dari kayu menjadi pusat perhatian, bukan bayangannya.

Meskipun secara umum sama-sama disebut Wayang Klithik atau Wayang Krucil, terdapat perbedaan visual yang dipengaruhi oleh tradisi lokal. Wayang Krucil di Jawa Timur, termasuk Kediri, sangat erat dengan Cerita Panji (Panji Asmarabangun dan Galuh Candrakirana), yang berlatar belakang sejarah Kediri-Jenggala. Secara visual, tokoh-tokoh raja dan bangsawan di Kediri sering digambarkan bermahkota dan menggunakan praba (hiasan punggung) layaknya tokoh-tokoh dalam Wayang Kulit Purwa.

Baca Juga: Lestarikan Warisan Budaya Nusantara, BRI Gelar Nonton Wayang Rayakan HUT ke-129

Sebaliknya, Wayang Klithik di tempat lain seperti Blora, umumnya mengangkat lakon Serat Damarwulan dan memiliki gaya visual yang lebih menyerupai Wayang Gedog. Figur raja dan tokoh utama sering digambarkan dengan penutup kepala khas, seperti gelung Keling atau Garuda Mungkur, bukan mahkota lengkap.

Di Kediri, Raden Panji Asmarabangun sering digambarkan sebagai satria dengan wajah berwarna putih atau kuning dan mengenakan tekes (topi khas). Sementara itu, tokoh satria lainnya mungkin menggunakan topi yang lebih sederhana.

Baca Juga: 7 November Diperingati sebagai Hari Wayang Nasional, Yuk Kenali Jenis-Jenis Wayang di Indonesia!

Di tempat lain, tokoh-tokoh satria umumnya mengenakan busana yang lebih spesifik, seperti dodot rapekan (motif kain khusus) dan sering digambarkan membawa keris, serta mengenakan topi tekes yang bentuknya mungkin berbeda dengan gaya Jawa Timur.

Secara keseluruhan, Wayang Krucil Kediri menunjukkan perpaduan visual yang unik. Yakni mempertahankan kedalaman wujud Wayang Golek melalui material kayu, menyederhanakan bentuk Wayang Kulit menjadi pipih, dan secara tegas memilih lakon Panji, yang lantas dicerminkan dalam detail busana khas kerajaan Jawa Timur, menjadikannya warisan visual yang sangat kental dengan identitas Kediri-Jenggala.

Untuk mendapatkan berita- berita terkini  Jawa Pos  Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#kayu mentaos #kediri #Mentaos #wayang kulit #Sejarah Panji #kayu #wayang krucil #cerita panji #sejarah #kesenian