Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Hidup Tenteram, Tak Ada Lagi Konflik

adi nugroho • Kamis, 1 Oktober 2020 | 00:14 WIB
hidup-tenteram-tak-ada-lagi-konflik
hidup-tenteram-tak-ada-lagi-konflik

Dusun Simbar, sebenarnya, hanya empat kilometer dari Jalan Raya Pare-Wates. Namun untuk mencapainya relatif sulit. Melalui jalanan tanah yang berpasir. Debu berterbangan ketika jalan itu tergilas roda.


Kondisi jalan diperparah dengan lalu-lalangnya truk bermuatan pasir. Juga alat berat yang mengolah perkebunan tebu dan nanas di sepanjang jalan.


Dusun Simbar terbagi menjadi dua. Simbar Lor masuk Desa Plosokidul. Sedangkan Simbar Kidul masuk Desa Jarak. Keduanya masih di Kecamatan Plosoklaten.


Untuk menuju ke tempat ini harus melalui jalanan di tepi hutan heterogen. Panjangnya sekitar 300-an meter. Suasananya sejuk. Khas wilayah yang didominasi pohon-pohon besar. Namun, begitu keluar dari jalanan kawasan hutan itu, kita akan langsung berhadapan dengan suasana beda. Panas, pengap, dan ditambah udara berdebu.


Di sepanjang jalur inilah dahulu berdiri rumah-rumah semi permanen. Milik buruh tani dan anggota PKI yang merebut tanah perkebunan pasca peristiwa November 1961. Kata Sumilan, tidak hanya di sekitar jalanan menuju Simbarsaja, tapi di daerah Dusun Dermo, Desa Pranggang ke arah timur juga ada permukiman seperti ini.


“Waktu zaman penyatuan, tentara dari mana-mana hadir untuk pembongkaran rumah di perkebunan itu,” ingat Sumilan.


Saat itu ia juga ikut membantu tentara membongkar gubuk itu. Setelah semua anggota kelompok yang berafiliasi dengan PKI diisolasi ke lokasi lain. Dicarikan tempat di luar perkebunan. “Jadi ya tidak hanya dibongkar saja tapi diganti ke daerah lain,” jelasnya.


Saat ini rumah-rumah itu tak tersisa. Jalanan menuju Dusun Simbar hanya terdapat pohon-pohon mahoni besar di kanan dan kiri jalan. Sebagian ada pohon sirsat. Masyarakat di Simbar kini hidup rukun. Ketika penulis menuju kesana, merasakan keguyuban itu. Penduduk yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani itu ramah. Senyum mereka menyambut kedatangan penulis ke daerah pelosok yang baru beberapa tahun ini teraliri listrik dari negara tersebut.


Di SimbarLor, juga ada kantor cabang Perusahaan Daerah (PD) Perkebunan Margomulyo. Milik Pemerintah Kabupaten Kediri.Di dusun yang tak lebih dari 25 rumah ini ada satu sekolah dasar. Namanya SD Kecil Negeri Simbar Lor. Ada  juga polindes, juga masjid. Tatanan perumahan itu terdiri dari tiga gang. Semua sudah dipaving. Hanya jalan utama saja yang masih tanah.


Sementara Simbar Kidul, lokasinya 1 kilometer dari Dusun Simbar Lor. Dua kampung di tengah perkebunan ini terpisah jalur lahar. Simbar Kidul penduduknya lebih sedikit. Tak lebih dari 15 rumah yang berada pada satu gang kecil dengan jalan tanah. Kedua dusun ini menjadi saksi sejarah peristiwa kelam masa itu. Namun, itu dulu. Sekarang mereka hidup tenteram. Tak ada gejolak konflik lagi. Sebuah kampung di tengah perkebunan yang asri. (din/fud

Editor : adi nugroho
#radarkediri #konflik