Belajar Tak Harus Selalu dari Buku, Mengapa Materi Perlu Dikaitkan dengan Kehidupan Sehari-hari?

Isna Febriani Nur Habibah • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 13:00 WIB
Ilustrasi guru menjelaskan (magnific)
Ilustrasi guru menjelaskan (magnific)

JP Radar Kediri – Pernah bertanya kepada siswa, “Materi ini buat apa?” Pertanyaan tersebut bisa muncul ketika pelajaran terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

Siswa mungkin dapat menghafal konsep, tetapi belum tentu memahami bagaimana pengetahuan tersebut digunakan di luar kelas.

Karena itu, mengaitkan materi pelajaran dengan situasi nyata menjadi salah satu pendekatan yang dapat membuat pembelajaran terasa lebih relevan.

Dalam pendidikan, pendekatan ini dikenal sebagai Contextual Teaching and Learning (CTL). Pembelajaran kontekstual menghubungkan materi dengan kondisi atau pengalaman yang dekat dengan kehidupan siswa sehingga mereka tidak hanya mempelajari konsep, tetapi juga melihat penggunaannya.

Baca Juga: Bukan Cuma Belajar Materi, Siswa Juga Perlu Tahu Cara Belajar yang Efektif

Ketika Materi Terasa Lebih Relevan

Relevansi dapat memengaruhi bagaimana siswa memandang aktivitas belajar. Sebuah penelitian pada mahasiswa bidang STEM menemukan bahwa tugas yang dibuat lebih relevan dengan kehidupan dan kebutuhan mahasiswa dapat meningkatkan bentuk motivasi yang lebih mandiri, usaha, serta rasa berenergi selama belajar.

Artinya, ketika siswa memahami hubungan antara materi dan kehidupan mereka, muncul alasan yang lebih jelas untuk mempelajarinya.

Contohnya, matematika tidak hanya dipelajari melalui rumus di buku. Konsep persentase dapat dikaitkan dengan diskon, bunga tabungan, atau perbandingan harga. Pelajaran bahasa dapat menggunakan contoh percakapan di media sosial atau situasi komunikasi sehari-hari.

Materinya tetap sama, tetapi konteksnya dibuat lebih dekat.

Baca Juga: Anak Bisa Berhitung Belum Tentu Cakap Numerasi, Apa Bedanya?

Bukan Berarti Semua Materi Harus Praktik

Pembelajaran kontekstual bukan berarti setiap pelajaran harus selalu dilakukan di luar kelas atau menggunakan pengalaman nyata.

Yang lebih penting adalah membantu siswa memahami hubungan antara konsep dan penggunaannya.

Guru dapat menggunakan contoh, studi kasus, simulasi, permasalahan sehari-hari, atau pertanyaan yang mengajak siswa menerapkan konsep. Dengan begitu, siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mencoba menggunakannya untuk memahami suatu situasi.

Namun, konteks yang terlalu spesifik juga memiliki keterbatasan. Sebuah penelitian menemukan bahwa contoh yang sangat konkret dan kaya konteks dapat membantu ketertarikan serta pemrosesan awal, tetapi dalam kondisi tertentu justru dapat membuat siswa lebih sulit menerapkan pengetahuan pada situasi baru.

Karena itu, pembelajaran tidak cukup berhenti pada satu contoh kehidupan nyata.

Baca Juga: Niat Istirahat Lima Menit, Malah Satu Jam: Kenapa Kita Sulit Berhenti Scrolling?

Dari Tahu Menjadi Bisa Menggunakan

Tujuan akhirnya adalah transfer pengetahuan, yaitu kemampuan menggunakan apa yang telah dipelajari dalam situasi lain.

Misalnya, siswa tidak hanya mengetahui cara menghitung persentase karena mampu mengerjakan soal di buku. Mereka juga dapat menggunakan konsep tersebut ketika menghitung potongan harga atau membandingkan harga suatu produk.

Pengetahuan menjadi lebih bermakna ketika siswa dapat melihat prinsip yang sama dalam situasi yang berbeda.

Pendekatan CTL juga telah digunakan dalam berbagai penelitian di sekolah Indonesia. Salah satu penelitian pada pembelajaran matematika SMP menemukan peningkatan motivasi setelah penerapan pembelajaran kontekstual.

Baca Juga: Harga BBM Pertamina Terbaru 1 September 2026 untuk Wilayah Jawa Timur

Pada akhirnya, mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari bukan berarti membuat pembelajaran menjadi lebih mudah dengan menghilangkan konsep yang sulit. Justru, konteks dapat menjadi jembatan agar siswa memahami mengapa sebuah konsep perlu dipelajari dan bagaimana konsep tersebut dapat digunakan.

Belajar dari buku tetap penting. Namun, ketika pengetahuan di dalam buku dapat ditemukan kembali dalam kehidupan nyata, siswa memiliki kesempatan untuk melihat bahwa pelajaran di kelas bukan sekadar materi untuk menghadapi ujian, melainkan pengetahuan yang dapat digunakan untuk memahami dan menyelesaikan persoalan di sekitarnya.

Editor : Shinta Nurma Ababil
contextual learning belajar siswa pembelajaran