JP Radar Kediri – Belajar sering kali dianggap sederhana: membaca buku, mencatat materi, kemudian mengulanginya sebelum ujian. Padahal, mengetahui materi saja belum cukup. Siswa juga perlu memahami bagaimana cara belajar yang membuat informasi lebih mudah dipahami dan bertahan lebih lama.
Dalam psikologi pendidikan, kemampuan mengatur proses belajar dikenal sebagai metakognisi. Sederhananya, siswa belajar menyadari apa yang sudah mereka pahami, apa yang belum dikuasai, serta strategi apa yang perlu digunakan.
Education Endowment Foundation (EEF) menyebut pendekatan metakognisi dan self-regulated learning sebagai strategi dengan dampak tinggi terhadap pembelajaran. Siswa didorong untuk merencanakan, memantau, dan mengevaluasi proses belajarnya sendiri.
Baca Juga: Study Burnout, Ketika Belajar Terus-Menerus Justru Membuat Lelah
Tidak Semua Cara Belajar Sama Efektif
Salah satu persoalan dalam belajar adalah siswa sering menggunakan cara yang terasa mudah, tetapi belum tentu efektif.
Penelitian yang dirangkum psikolog pendidikan John Dunlosky dan rekan-rekannya menempatkan practice testing atau latihan mengingat kembali serta distributed practice atau belajar dengan jeda sebagai teknik yang memiliki manfaat kuat. Sebaliknya, sekadar membaca ulang materi tidak selalu memberikan hasil yang sama.
Artinya, belajar tidak harus dilakukan dengan membaca materi berulang-ulang selama berjam-jam.
Baca Juga: Belajar Lewat Komik, Visual dan Cerita Bisa Bantu Memahami Materi
Coba Retrieval Practice
Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah retrieval practice. Setelah mempelajari materi, siswa mencoba mengingat kembali informasi tersebut tanpa melihat catatan.
Caranya sederhana. Tutup buku, kemudian coba jawab pertanyaan seperti, “Apa tiga konsep utama yang baru dipelajari?” atau “Bagaimana proses ini terjadi?”
Latihan semacam ini membuat siswa mengetahui bagian mana yang benar-benar sudah dipahami dan bagian mana yang masih perlu dipelajari.
Penelitian mengenai retrieval practice menunjukkan bahwa strategi ini dapat membantu proses belajar dalam berbagai bidang dan kondisi pembelajaran.
Jangan Menumpuk Belajar dalam Satu Malam
Strategi berikutnya adalah spacing, yaitu membagi waktu belajar dalam beberapa sesi yang terpisah.
Daripada mempelajari satu materi selama tiga jam sekaligus sehari sebelum ujian, siswa dapat membaginya menjadi beberapa sesi yang lebih pendek selama beberapa hari.
Baca Juga: Bukan Sistem Kebut Semalam, Ini Cara Belajar dengan Spaced Practice
Tinjauan penelitian tentang spacing dan retrieval practice menunjukkan bahwa kedua strategi tersebut dapat membantu meningkatkan pembelajaran dan retensi informasi.
Cara ini juga membuat siswa memiliki kesempatan untuk mengetahui bagian materi yang masih belum dikuasai sebelum ujian tiba.
Belajar Cara Belajar
Pada akhirnya, kemampuan belajar bukan hanya soal berapa lama siswa duduk di depan buku. Siswa juga perlu memahami strategi yang digunakan dan mengevaluasi apakah strategi tersebut benar-benar membantu.
Metakognisi mendorong siswa untuk bertanya kepada dirinya sendiri: Apa yang sudah saya pahami? Apa yang belum saya pahami? Strategi apa yang paling membantu saya?
Baca Juga: Pelajaran Mudah Lupa, Cerita Justru Menempel: Apa Rahasianya?
EEF merekomendasikan agar kemampuan tersebut diajarkan secara langsung dan diterapkan dalam materi pelajaran, bukan sekadar menjadi teori tentang “cara belajar”.
Dengan demikian, sekolah tidak hanya perlu mengajarkan apa yang harus dipelajari, tetapi juga membantu siswa memahami bagaimana cara mempelajarinya.
Sebab, menjadi siswa yang baik bukan berarti selalu belajar paling lama. Yang lebih penting adalah mampu mengetahui cara belajar yang tepat, menggunakannya secara konsisten, lalu mengevaluasi hasilnya.
Editor : Shinta Nurma Ababil