Marketing Nabi Muhammad SAW 

Kurniawan Muhammad • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 08:50 WIB
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Sebuah pesan masuk ke email saya, minta agar kolom rutin di hari Rabu, yang kali ini berdekatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, membahas  tentang Strategi Marketing yang diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau berbisnis atau berdagang. Maka, ijinkan saya membahasnya pada tulisan kali ini. 

Merujuk pada Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Ibnu Hisyam, disebutkan bahwa ketika memimpin armada dagang milik Khadijah RA ke Syam bersama Maysarah, Rasulullah SAW sukses menghasilkan keuntungan berlipat ganda (ribhan mudha’afan) melebihi rata-rata pedagang lain. 

Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-bidayah wan Nihayah mencatat, mahar pernikahan Rasulullah SAW kepada Khadijah RA adalah 20 ekor unta betina muda yang berkualitas tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa posisi finansial Rasulullah SAW yang sangat kuat sebagai pengusaha sukses pada usianya yang baru 25 tahun. 

Baca Juga: Quo Vadis Influencer?

Lantas, strategi bisnis atau strategi marketing seperti apa yang dijalankan oleh Rasulullah SAW? 

Jauh sebelum Philip Kotler merumuskan pergeseran paradigma dari “product-centric” menuju “human-centric marketing”, Rasulullah SAW telah mendemonstrasikan praktik bisnis yang melampaui zamannya. Berbagai riwayat menuliskan, selama lebih dari dua dekade mengarungi rute perdagangan dari Semenanjung Arabia hingga Syam, Rasulullah SAW membangun legitimasi bisnisnya bukan berbasis manipulasi pasar. Melainkan reputasi etis yang tak tergoyahkan. 

Dari berbagai riwayat hadits, dapat dijelaskan bahwa prinsip marketing yang dijalankan oleh Rasulullah SAW berporos pada empat pilar utama: Siddiq (kejujuran), Amanah (kepercayaan), Tabligh (transparansi komunikasi) dan Fathanah (kecerdasan strategis). Rasulullah SAW secara tegas melarang praktik “tadlis” dan “najasy”. “Tadlis” adalah menyembunyikan cacat barang dari konsumen. Sedangkan “najasy” adalah menciptakan permintaan palsu untuk menaikkan harga secara artifisial. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: “Pedagang yang jujur dan terpercaya akan berada bersama para Nabi, orang-orang yang jujur dan para syuhada” (HR Tirmidzi). Larangan Rasulullah SAW tersebut, saat ini cukup relevan untuk mengoreksi semakin maraknya berbagai praktik dalam iklan deseptif, terutama di media sosial.

Iklan deseptif (deceptive advertising) adalah bentuk periklanan yang menyesatkan, memanipulasi, atau menyembunyikan fakta penting, sehingga memicu pemahaman yang salah pada calon pembeli mengenai kualitas, harga atau manfaat produk. Karakteristik iklan seperti ini mengandung kebohongan (misleading claims), klaim berlebihan (overclaiming), atau sengaja menyembunyikan cacat barang (tadlis). Misalnya yang marak di medsos adalah penggunaan foto produk yang sangat berbeda dari wujud aslinya, klaim kesehatan tanpa bukti ilmiah, atau menyembunyikan biaya tersembunyi dalam tulisan kecil (fine print). 

Baca Juga: Ketika Segmen Well-Literate Menggeliat 

Prinsip dan strategi marketing yang dijalankan oleh Rasulullah sangat relevan dengan teori marketing modern. Hal ini dapat dilihat pada evolusi Marketing 3.0 hingga Marketing 5.0 yang ditulis oleh Philip Kotler. Dunia bisnis hari ini menyadari bahwa konsumen tidak lagi sekadar membeli fungsi produk (Marketing 1.0). Melainkan mencari nilai (value), etika, dan otentisitas dari sebuah brand. Rasulullah SAW telah menerapkan apa yang saat ini disebut “value-based marketing” sejak 14 abad yang lalu. Yaitu ketika Rasulullah SAW menunjukkan cacat gandum yang basah kena air hujan kepada pembeli di pasar, sebelum mereka bertanya. Saat itu, Rasulullah sedang membangun bentuk dari “brand equity” tertinggi, yakni: integritas absolut.  

Dalam berdagang, Rasulullah SAW tidak pernah mengandalkan apa yang saat ini disebut dengan “coercive selling” atau tekanan emosional. Sebaliknya, beliau menerapkan prinsip transaksi berbasis kerelaan (‘an taradin), dimana kepuasan dan keadilan bagi kedua belah pihak menjadi tolok ukur utama. Dalam istilah marketing kontemporer, ini adalah bentuk transparansi yang radikal, dimana dapat menciptakan “customer lifetime value” dan loyalitas organik. Pelanggan bertransaksi bukan karena iming-iming promosi semu, melainkan karena kepastian rasa aman.  

Wal akhir, keberhasilan Rasulullah SAW dalam menjalankan bisnisnya hingga menjadi pengusaha terpandang, membuktikan bahwa etika bukan lah penghambat profitabilitas. Tapi, menjaga etika adalah sebuah keunggulan kompetitif yang paling berkelanjutan (sustainable competitive advantage). Di tengah lanskap marketing modern yang kerap terjebak pada algoritma dan manipulasi psikologis, merefleksikan kembali strategi Marketing yang diterapkan Rasulullah SAW, seperti memberikan kompas moral yang fundamental, bahwa marketing sejati bukan lah seni mengelabui mata. Melainkan seni memenangkan kepercayaan hati. Sollu ‘alan Nabi Muhammad SAW. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
strategi marketing Maulid Nabi Muhamad SAW