Lonjakan itu terjadi pada pembibit padi di wilayah Desa Kalibelo, Kecamatan Gampengrejo. Merupakan desa persawahan dengan jumlah penduduknya berprofesi sebagai petani sebanyak 90 persen.
Ahmadi, petani sekaligus pembibit padi Desa Kalibelo mengatakan, jumlah pemesanan padi telah ramai sejak dua bulan sebelumnya. Total pemesan bahkan mencapai lebih dari 50 orang.
"Ramai sekali, kadang sampai nolak-nolak karena lahannya terbatas," ungkapnya.
Ahmadi menyebut usaha pembenihan padi adalah usaha musiman karena hanya ramai di bulan-bulan tertentu. Khususnya saat memasuki musim tanam. Harga bibit miliknya dibanderol Rp 150 ribu per 10 kilogram benih.
Benih dibawa sendiri oleh pemesan, lalu dirawat hingga menjadi bibit, dan saat panen bibit diserahkan kembali ke petani untuk ditanam. Musim tanam membawa keuntungan besar bagi Ahmadi.
Ia menyebut, dalam satu kali masa tanam ia bisa mendapat omzet hingga Rp 5 juta. Sementara jika di luar masa tanam, omzetnya sekitar Rp 2-3 juta.
Adapun Purwoko, pengusaha pembibitan padi yang lain mengatakan, usaha tanam bibit padi itu memberikan keuntungan tambahan di luar pekerjaan petani sehari-hari.
"Ya pesanannya lumayan ramai," jelasnya.
Harga bibit padi milik Purwoko dibanderol dengan harga Rp 13 ribu per gulung, dengan ukuran 90 x 30 cm. Pelaku usaha pembibitan biasanya menyemai benih di pelataran rumah serta area persawahan. Area semai diberikan penutup sehingga aman dari unggas. Benih yang disemai siap dipanen dalam waktu dua minggu.
Purwoko menyebut tantangan terbesar dalam pembibitan adalah saat curah hujan tinggi membuat benih membusuk. Dan tidak bisa tumbuh optimal. Yang lainnya adalah serangan unggas seperti ayam dan burung juga menjadi tantangan saat penyemaian.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian