Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengenal KITSUNE, Film Animasi Buatan AI Pertama yang Menyentuh Perasaan Kesepian Lewat Visual yang Memukau

Internship Radar Kediri • Selasa, 6 Mei 2025 | 10:30 WIB

Anime
Anime

JP Radar Kediri – Di tengah perkembangan teknologi yang sangat besar dan cepat, inovasi seperti kecerdasan buatan yang mengubah cara kita bekerja, belajar, dan berkreasi, dunia seni visual kini melangkah ke fase baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Industri kreatif, yang selama ini banyak bergantung pada keterampilan manual dan perangkat lunak konvensional, kini menyaksikan munculnya era kolaborasi antara manusia dan mesin. 

Salah satu hal penting dalam perjalanan ini hadir dalam bentuk KITSUNE, sebuah film pendek animasi pertama yang sepenuhnya dibuat oleh kecerdasan buatan.

Namun KITSUE bukan sekadar pertunjukan teknologi. Ia adalah sebuah kisah yang menyentuh, yang menjelajahi emosi manusiawi terdalam kesepian.

Film ini menggambarkan dua jiwa yang terpisah oleh jarak, waktu, dan keadaan, namun tetap terhubung oleh perasaan sepi yang mereka bagi. Narasi yang sederhana ini justru menjadikan KITSUNE begitu kuat, ia berbicara dalam bahasa perasaan, bukan hanya teknologi.

Baca Juga: Tak Sekadar Hiburan, Ini Pengaruh Anime terhadap Sikap dan Karakter Pelajar Indonesia

Di balik karya ini, Henry Daubrez (@henry.daubrez), seorang kreator visual yang berani menembus batas konvensi. Dengan menggunakan Google Veo 2, sebuah alat text-to-video berbasis AI dari Google, Henry menghidupkan dunia fiksi yang selama ini hanya ada dalam pikirannya. 

Veo 2 memungkinkan pengguna menciptakan video hanya dengan memasukkan deskripsi teks, ini membuat sebuah terobosan luar biasa yang membuka peluang baru bagi siapa saja untuk bercerita melalui visual.

Namun proses kreatif dibalik KITSUNE tidak semulus jalan tol. Henry harus berhadapan dengan banyak batasan teknis dari tool yang ia gunakan. Meskipun AI mampu memproses dan menghasilkan ribuan adegan secara otomatis, tidak semua hasilnya sesuai dengan apa yang ia bayangkan. 

Dari lebih dari 5.000 sekuens yang dihasilkan, hanya sekitar 1.700 yang layak untuk dimasukkan ke versi final. Ini adalah bukti bahwa kreativitas manusia tetap menjadi pusat kendali, bahkan saat AI mengambil peran dalam proses produksi.

Apa yang membuat perjalanan Henry makin inspiratif adalah latar belakangnya. Ia bukanlah seorang yang berlatar belakang teknologi atau insinyur perangkat lunak. Ia tidak datang dengan keahlian teknis mendalam seperti yang biasa dimiliki pembuat konten AI. 

Baca Juga: 5 Anime Isekai dengan Plot yang Unik dan Anti-Mainstream

Namun, ia memiliki sesuatu yang jauh lebih penting kepekaan rasa, ketajaman visi, dan keyakinan terhadap selera pribadinya. Menurut Henry, AI bukanlah sihir yang bisa bekerja sendiri. “Jika kamu menyukai film ini, itu bukan karena AI melakukan sihir. 

Itu karena kamu tahu ke mana harus mengarahkan kapal ini,” tuturnya. Pernyataan ini menggarisbawahi fakta bahwa AI hanyalah alat; dan tanpa arahan yang jelas dari manusia, alat itu hanyalah mesin kosong.

KITSUNE kemudian menjadi lebih dari sekadar film pendek ia adalah simbol evolusi dalam cara manusia berkarya. Teknologi yang dulunya terasa kompleks dan tidak terjangkau kini menjadi jembatan bagi mereka yang memiliki ide besar tapi tidak punya keterampilan teknis.

Dalam film ini, kita tidak hanya menyaksikan kemampuan AI dalam menciptakan visual, tetapi juga menyaksikan bagaimana emosi, intuisi, dan cerita manusia tetap menjadi bahan utama dalam setiap karya seni besar.

Melalui KITSUNE, Henry membuktikan bahwa masa depan industri kreatif bukanlah tentang manusia melawan mesin, melainkan tentang berkolaborasi dengannya. 

Baca Juga: Wajib Tonton! Ini 7 Film Anime Terbaik yang Tak Boleh Kamu Lewatkan

AI bukan pengganti, tapi partner. Dan ketika dikombinasikan dengan imajinasi yang hidup, alat seperti Veo 2 mampu melahirkan keajaiban visual yang belum pernah kita lihat sebelumnya.(vyn)

Penulis: Muhammad Alvin Riandi Zahra.

 

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#anime #ai #vidio #Fillm