Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika Gang-Gang Kecil Jadi Padat Kendaraan akibat Pembangunan Jembatan Kaliombo I, Bocah Cilik pun Ikut Terlibat

Hilda Nurmala Risani • Kamis, 9 Juli 2026 | 21:40 WIB
JALUR BARU : Salah seorang warga mengatur lalu lintas di depan Gang Labirin yang mendadak ramai karena jadi jalur alternatif setelah Jl Urip Sumoharjo ditutup. (HILDA NURMALA/JPRK)
JALUR BARU : Salah seorang warga mengatur lalu lintas di depan Gang Labirin yang mendadak ramai karena jadi jalur alternatif setelah Jl Urip Sumoharjo ditutup. (HILDA NURMALA/JPRK)

 

KEDIRI, JP Radar Kediri - Gang-gang kecil ini berisi jalan-jalan labirin, sempit dan bercabang-cabang. Kini, jalan itu jadi tumpuan pengendara kendaraan yang ingin mencari jalan pintas tercepat. Tentu saja mengorbankan ‘ketenangan’ warga gang.

HILDA NURMALA RISANI, Kota, JP Radar Kediri

Sudah satu bulan lebih Jembatan Kaliombo I dibongkar, diperbaiki. Imbasnya, Jalan Urip Sumoharjo tutup total. Padahal, jalan ini merupakan jalan nasional. Yang sehari-hari padat lalu lintas. Termasuk pula kendaraan-kendaraan besar semacam bus maupun truk.

Baca Juga: Woro Puspita dan Teknik Opak yang Jadi Karakteristik Lukisannya, Seperti Diary, Apa yang Dipikirkan Bisa Jadi Luksan!

Bagi para pengendara sepeda motor, tutupnya jalur itu membuat mereka harus melewati jalan memutar. Tentu, bakal memakan waktu dan biaya tambahan pula. Nah, yang terjadi adalah para pengendara roda dua ini berusaha mencari jalan pintas. Jalan tercepat hingga mencapai seberang proyek.

Pilihannya adalah melewati jalan labirin di gang-gang kecil di dekat proyek. Kebetulan, di dekat lokasi ada dua gang. Gang Durian dan Jerukmanis, keduanya masuk wilayah Kelurahan Kaliombo. Akhirnya, jalan kecil dan berkelok-kelok itupun jadi rute baru pengendara motor.

“Awal mulanya ketika jembatan tutup total, dua hari itu karut-marut arusnya (lalu lintas, Red). Jalur alternatif macet begitupun gang-gang yang penuh sesak,” ujar Widodo. ketua koordinator pengaturan lalu lintas sekitar Kaliombo.

Melihat kondisi yang sedemikian rupa, dia pun berinisiatif untuk mengajak warga sekitar membantu mengatur arus lalu lintas. Agar lebih tertata dan enak dipandang.

Baca Juga: Bisnis Ecoprint Pensiunan Guru SD Ini Terjual hingga Negeri Kanguru, Ini Awal Mulanya!

Inisiatif inipun disampaikan kepada pihak kontraktor yang menggarap jembatan tersebut. Beruntungnya, pihak tersebut menyetujui dan mau memberikan support. Di antaranya yaitu bantuan rompi, tongkat pengatur lalu lintas, water barrier, dan penerangan darurat.

Termasuk dengan memberikan kompensasi kepada warga yang berjaga di lima titik yang telah disediakan. Yaitu Jalan Kaliombo Raya Barat dan Timur. Kemudian Jalan Corekan Raya Barat dan Timur serta simpang tiga Bumi Asri.

“Kompensasi yang diberikan satu titik Rp 1 juta. Jadi untuk lima titik itu Rp 5 juta. Itu diberikan setiap bulannya,” imbuhnya.

Setiap titik dijaga jumlah orang yang berbeda-beda. Ada yang tiga orang, dua orang, dan satu orang. Artinya kompensasi yang diberikan Rp 1 juta akan dibagi sesuai dengan jumlah orang yang berjaga.

Baca Juga: Belajar Itungan Jawa bersama Prastowo Budi Purnama, Gen Z yang Ahli Pawukon, Bukan Ramalan, Hanya Baca Karakter dari Ini!

Lalu ke manakah uang itu masuk? Ya, uang itu akan masuk ke kantong pribadi mereka masing- masing. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya mengingat beberapa dari mereka pekerjaannya juga terdampak. 

“Yang berjaga (mengatur lalin, Red) latar belakangnya beragam. Ada yang jadi kuli, pengambil gerobak sampah, juga berjualan nasi. Dengan adanya kompensasi sangat membantu mereka menyambung hidup,” tutur laki-laki yang berdomisili di Kelurahan Kaliombo itu.

Mereka yang berjaga mengatur lalu lintas itu standby selama 24 jam. Hanya saja dibagi menjadi tiga shift. Dengan estimasi waktu per shift adalah enam jam.

Baca Juga: Dyah Pornawati, Perempuan Pelukis yang Hadir dengan Karya-Karya Idealis, Coretan Pensilnya Jadi Pelampiasan Keresahan

Khusus mereka yang mendapatkan kompensasi ini dilarang untuk memungut sumbangan dengan menarik uang atau menyediakan kardus donasi. Tetapi apabila ada pengendara yang melintas dan sukarela memberikan tetap dilayani dan diterima dengan baik.

“Dikasih alhamdulillah, tidak pun tidak apa-apa. Tetap dilayani dengan baik,” tandasnya.

Bagaimana dengan mereka yang berjaga di gang labirin? Widodo menyebut jika mereka yang berjaga di sana memang tidak mendapat kompensasi. Sehingga menyediakan kardus untuk pengendara yang ingin memberi secara sukarela. Mengingat waktu dan kenyamanan mereka juga terganggu.

Ya, awalnya, mereka resah dengan keberadaan pengendara yang lalu lalang di gang sempitnya. Selain itu, beberapa pengendara yang melintas juga tidak bisa mengatur kecepatannya sehingga membahayakan warga sekitar.

Baca Juga: Setelah Enam Dekade, Radio ‘Humor’ Itupun Berhenti Mengudara, Ini Kata Pendengar Setia RWS!

“Gang labirin itu juga luar biasa setiap harinya yang melintas. Kalau tidak ada mereka (mengatur lalin, Red) bisa saling tubrukan satu sama lain. Apalagi gangnya ukurannya sempit,” bebernya.

Pantauan wartawan Jawa Pos Radar Kediri, gang Durian dan gang Jeruk Manis menjadi titik tumpuan pengendara sepeda motor yang ingin mencari jalur alternatif terdekat. Tak heran setiap harinya gang itu tidak pernah sepi pengendara. Juga selalu ada warga yang berjaga di setiap sudutnya sembari meletakkan kardus di sebelahnya.

Menariknya, terkadang yang berjaga adalah anak-anak kecil. Suara dan tubuhnya yang kecil itu harus berjibaku dengan kendaraan dan orang-orang dewasa yang berangkat dan pulang kerja.

Tak jarang mereka harus berteriak agar pengendara tidak bandel. Sebab meskipun sudah diatur beberapa pengendara juga tetap nekat menerabas dengan alasan terburu-buru.

Baca Juga: Sosok AKP Achmad Elyasarif Martadinata, Kasatreskrim Polres Kediri Kota Yang Terbiasa Bertugas di Daerah Konflik

“Sebenarnya sama orang tua tidak boleh. Tapi lihat teman-teman membantu saya jadi ikut-ikutan. Soalnya kalau dapat uang bisa dibuat beli jajan. Tetap ada pemasukan meskipun libur sekolah,” terang Den, 15, warga Kelurahan Kaliombo, Kecamatan Kota itu.

Menurutnya, partisipasinya bersama teman-temannya untuk mengatur lalu lintas sebatas seru-seruan saja. Bukan menjadi beban pekerjaan. Karena terkadang juga ada pengendara yang sukarela memberikan jajan dan es teh.

“Paling berjaga 3 jam. Kalau capek bergantian sama yang lain,” tuturnya

Tak hanya Den, Ris juga merasakan hal serupa. Dia merasa senang ketika berjaga mendapatkan uang. Karena saat liburan sekolah dia tidak mendapatkan pemasukan dari orang tuanya.

“Nanti kalau berjaga satu jam sampai dua jam dapat uang kami belikan jajan,” terangnya dengan melempar senyum.

Baca Juga: Lipsus Proyek Jembatan Kaliombo 2 : Lakukan Percepatan, Minta Warga Bersabar Sampai Oktober, Ini Yang Akan Dilakukan BPPJN!

Gadis 13 tahun itu tampak semangat membantu orang-orang dewasa di sekitarnya. Meskipun badannya kecil suaranya cukup lantang untuk meneriaki pengendara agar mematuhi.

“Kiri..kiri.. tunggu dulu. Hati-hati di jalan,” ujarnya dengan suara yang khas.

Meskipun mereka terlihat sukarela membantu, jauh di lubuk hatinya ada harapan agar proyek segera selesai. Mereka ingin bisa kembali hidup sebagaimana mestinya. Tenang dan nyaman, tidak bising dengan suara kendaraan sepeda motor.

Baca Juga: Lipsus Proyek Jembatan Kaliombo 1 : Ubah Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat, Labirin Gang Durian pun Jadi Jalan Utama!

“Ya semoga cepat selesai. Biar semua aktivitas kembali berjalan normal,” pungkasnya.

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#jembatan kaliombo #macet #kota kediri