JP Radar Kediri - “Kami mengedepankan budaya yang belum banyak dikenal masyarakat sehingga bisa dikenal dan laku,” tutur Heri Setiawan sebagai owner Batik Lochatara.
Motif yang digunakan adalah candi-candi yang berada di Kabupaten Kediri. Mulai Candi Tondowongso, Candi Adan-Adan, atau relief yang terukir pada Candi Surowo, dan Candi Tegowangi. Tidak hanya itu saja. Motif lainnya ada jaranan, simpang lima Gumul, dan buah nanas.
“Batik lochatara menyediakan pernak-pernik, mulai dari busana batik pria maupun wanita,” tuturnya.
Batik Lochatara tidak hanya menyediakan pakaian. Juga ada produk lain. Mulai dari sepatu, bros, syal, tas, dan masih banyak lagi. Tak hanya cocok untuk orang dewasa. Tetapi juga generasi muda bahkan anak-anak.
Batik Lochatara juga menerima pesanan batik seragam dengan logo instansi terkait. Juga menyediakan peralatan membatik dan menerima kursus membatik baik warna alam maupun sintetis.
Untuk perawatan, batik tidak bisa dicuci dengan deterjen yang lebih bersifat keras. Alangkah lebih baik menggunakan lerak. Bahkan lerak sekarang sudah diproduksi dalam bentuk cair dan mudah didapatkan di toko.
“Caranya mudah, cukup dicelupkan dan di angin-anginkan ditempat teduh. Dan usahakan dihindari pemakaian mesin cuci,” ungkap Heri. Terkait harga jangan khawatir, karena Batik Lochatara bervariasi mulai dari harga Rp 100 ribu hingga Rp 600 ribu.
Sehari Bisa Produksi Ratusan Kilogram Ketela Jadi Tape
“Tape disini terkenal karena teksturnya lembut,” ujar Pujianto, pengusaha tape. Dalam sehari dia bisa mengolah 300 kilogram ketela menjadi tape. Itupun jika hari biasa. Sedangkan saat hari raya dia mengaku bisa menjual sekitar 500 kilogram.
Dalam kesehariannya, Pujianto tidak hanya mengurusi produksi. Dia juga memasarkannya sendiri. Tape buatannya tersebut dijual ke pasar-pasar. “Saya sudah punya beberapa pelanggan tetap di pasar,” ucapnya.
Tidak hanya memanfaatkan ketela di desanya. Dia juga mendatangkan dari luar daerah. Bahkan sampai kawasan Blitar. Mengingat kebutuhan bahan baku sangat banyak.
Dalam produksi dia masih menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya. Tak hanya itu, tungkunya juga masih terbuat dari tanah. Dengan dua lubang besar di atasnya sebagai tempat panci.
Setiap kali memasak, dia menggunakan panci besar yang cukup untuk 10 kilogram ketela. Ketela direbus dengan api besar selama 20 menit. Kemudian ditiriskan hingga dingin. Setelah itu ditaburi ragi halus. Terakhir, 25 kilogram ketela yang telah diberi ragi dibungkus rapat dengan daun pisang selama dua hari.
“Lamanya proses pembuatan disebabkan terbatasnya tungku dan menunggu hingga ketela dingin,” ungkap Pujianto.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah