Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Gigih Tularkan Virus Cinta Budaya, Perkenalkan! Inilah Komunitas Perempuan Bersanggul di Kediri

Anwar Bahar Basalamah • Kamis, 24 Agustus 2023 | 17:01 WIB

 

BUDAYA JAWA: Belasan anggota komunitas Perempuan Bersanggul mengikuti ritual 1 Sura di petilasan sendang Tirta Kamandanu.
BUDAYA JAWA: Belasan anggota komunitas Perempuan Bersanggul mengikuti ritual 1 Sura di petilasan sendang Tirta Kamandanu.

Memakai sanggul dan berkebaya bukan sekadar pilihan gaya. Komunitas Perempuan Bersanggul menjadikannya sebagai cara untuk melestarikan budaya. Selain cara berpakaian, komunitas ini juga aktif menularkan kecintaan akan tari Jawa dan tembang.

Alunan gamelan mengiringi sejumlah perempuan saat menyanyikan lagu Hari Merdeka di salah satu sanggar di Desa Sukorejo, Ngasem, Kabupaten Kediri. Dalam video berdurasi satu menit itu, belasan perempuan yang memakai kebaya berwarna merah dan bersanggul, terlihat bersemangat latihan saat berlatih menyanyikan lagu yang memang banyak dinyanyikan saat perayaan HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus lalu.

Mengikuti arahan pelatih pria di bagian depan yang memakai baju lurik, sesekali emak-emak itu menyesuaikan tempo nyanyiannya. Setelah memastikan lagu yang dinyanyikan padu, mereka ganti berlatih menari.

Aktivitas yang dilakukan di sanggar Jl Erlangga, Katang bukanlah yang pertama. Melainkan, merupakan aktivitas rutin dari anggota komunitas Perempuan Bersanggul Korwil Kediri. “Di Kediri anggotanya sekitar 20 orang,” kata Koordinator Wanita Bersanggul Indonesia Wilayah Kediri Emi Srisujiati.

Baca Juga: Sumber Gotheh di Kras Kabupaten Kediri, Sumbernya Berada di Pekarangan Rumah Warga

Puluhan anggota Wanita Bersanggul di Kediri adalah para ibu rumah tangga, orang kantoran, hingga pensiunan pegawai. Sebagai bagian dari komunitas yang tersebar di 15 Kota di Jatim itu, Emi dan teman-teman memiliki semangat yang sama: melestarikan budaya bersanggul dan berkebaya.

Niat perempuan berusia 49 tahun itu bergabung di komunitas itu berawal dari keresahannya. Yakni, semakin pudarnya budaya bersanggul dan berkebaya di masyarakat. “Sekarang dalam acara pernikahan saja sudah jarang ada yang mengenakan sanggul dan kebaya,” lanjutnya memberi contoh.

Melihat fenomena itu, muncul tekad dalam benak Emi untuk menghidupkan kembali budaya peninggalan leluhur itu. Tak hanya budaya bersanggul dan berkebaya, komunitas ini juga berusaha melestarikan gending-gending Jawa dan tari tradisional. “Jangan sampai punah,” tuturnya.

Di era modern seperti sekarang, diakui Emi tidak sedikit orang yang mengganggap bersanggul sebagai hal yang kuno. Terlihat lebih tua. Anggapan ini juga berusaha ditepis oleh Perempuan Bersanggul. Caranya, anggota komunitas tampil modis dan cantik meski memakai kebaya dan sanggul.

Baca Juga: Sering Diejek, Siswa SMPN 8 Kota Kediri Ini Malah Kian Mantap Tekuni Pedalangan

Untuk menarik minat masyarakat agar tertarik ikut melestarikan budaya yang adiluhung itu, Emi dan teman-temannya juga memakai kebaya dan sanggul dalam aktivitas sehari-hari. “Setiap ada kegiatan, kami menggunakan kebaya dan sanggul untuk memopulerkan,” jelas perempuan yang juga pemilik sanggar seni di Jl Erlangga itu.

Tidak hanya memakai kebaya dan sanggul, mereka juga mengenalkan seni dan budaya Jawa kepada masyarakat. Terutama tari Gambyong. Tarian lembut dan lemah gemulai itu dikuasai oleh semua anggota komunitas. Seminggu sekali mereka berusaha berkumpul untuk berlatih di sanggar.

Meski tidak lagi muda, belasan anggota komunitas bisa menari Gambyong dengan apik. Gerakan-gerakannya luwes. Tak ubahnya tarian yang dilakukan oleh remaja kebanyakan. “Kami saling tukar ilmu. Anggota yang lebih menguasai mengajari anggota lainnya,” tutur Emi tentang pola pembelajaran yang dilakoni.

Jika belasan anggota sudah terampil menari, mereka menularkan “virus” cinta seni tradisional itu ke masyarakat luas. “Jadi biar seni dan budaya kita dicintai oleh lebih banyak masyarakat,” paparnya.

Baca Juga: Mengenal Band Snapburn yang Baru Saja Merilis Single Damai

Cara menularkan virus cinta budaya Jawa yang dilakukan oleh Perempuan Bersanggul agaknya efektif. Setidaknya, Anik Supatmi, salah satu anggota komunitas tertarik bergabung karena menyukai kegiatan mereka di bidang budaya.

Perempuan berusia 45 tahun itu bersedia menjadi bagian dari motor pelestarian. Tujuannya sama. Yakni, agar budaya tidak punah. Setidaknya, generasi muda ke depan bisa menyukai cara berpakaian nenek moyangnya. “Kalau semua melakukan ini, adat Jawa dari leluhur ini akan lestari,” jelas perempuan yang juga juru pelihara prasasti cagar budaya di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri itu.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#komunitas #budaya #cinta #sanggul