KABUPATEN, JP Radar Kediri – Empat lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang mengklaim diri sebagai Aliansi Penjaga Garuda Kabupaten Kediri mempersoalkan pelaksanaan Festival Kuno Kini 2026. Mereka menganggap festival yang sukses mendulang omzet tinggi dan melibatkan ratusan UMKM tersebut tak mengakomodasi UMKM lokal.
Hal itu muncul saat aliansi yang berisi empat LSM-PPI, Semesta Alam Lestari, Pusdamasa, dan Barisan Pengamat Kebijakan Publik-meminta DPRD Kabupaten Kediri menggelar rapat dengar pendapat (RDP) Jumat (29/5).
“Yang menjadi masukan dari teman-teman LSM itu terkait pengelolaan Simpang Lima Gumul,” kata Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Kediri M.Zaini usai RDP di gedung dewan.
Salah satu yang dipersoalkan, menurut Zaini, adalah pelaksanaan Festival Kuno Kini 2026. LSM-LSM tersebut sempat bertanya soal sumber dana festival. Ketika dijelaskan bahwa sumber dana tidak dari APBD melainkan murni pihak swasta, para LSM tersebut masih mencoba untuk mengkritisi. Kali ini terkait minimnya pelibatan PKL lokal.
Mereka berdalih ada 1.600 PKL yang setiap hari berjualan di lokasi tersebut. Sementara, versi mereka, hanya sekitar 45 PKL yang mendapat kesempatan terlibat. Kondisi itulah yang menjadi dalih ada ketidakterlibatan pedagang setempat.
“Karena kegiatan ini lokasinya dilaksanakan di pusat keramaian, tempat wong bakul tahunan di situ, akhirnya perasaan kurang mendapatkan kesempatan itu muncul,” terang Zaini, mengungkap alasan para LSM mempertanyakan soal Festival Kuno Kini.
Baca Juga: Bulog Kediri Apresiasi Festival Kuno Kini 2026, Jadi Ruang Edukasi Pangan untuk Masyarakat
Menurut dia, yang jadi masukan aliansi LSM, ke depan apabila kawasan SLG kembali dipilih menjadi lokasi event besar, maka ruang partisipasi bagi PKL lokal harus diprioritaskan terlebih dahulu. Sebelum memasukkan konsep lain.
Zaini menegaskan, seluruh masukan dalam RDP tersebut tidak dimaksudkan untuk menjelekkan pihak tertentu. Namun sebagai evaluasi agar setiap kegiatan yang digelar di kawasan SLG tetap menghormati kearifan lokal dan keberadaan pedagang setempat.
Catatan hasil RDP itu nantinya akan diteruskan kepada OPD terkait. Sebab setiap penyelenggara kegiatan di kawasan SLG pasti akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah.
“Siapapun yang membuat event di Simpang Lima Gumul, maka peluang atau kesempatan untuk kearifan lokal PKL lokal itu seperti apa, ini menjadi pertanyaan yang harus disampaikan oleh seluruh OPD,” tegasnya.
Perwakilan Aliansi Penjaga Garuda Kabupaten Kediri Imam Muhaimin mengatakan, pihaknya menyampaikan sejumlah masukan dan catatan kepada Komisi II DPRD maupun OPD yang hadir dalam RDP tersebut.
Salah satu yang menjadi perhatian yakni tata kelola pasar ikan hias agar sesuai fungsi dan peruntukannya. Selain itu, mereka juga menyoroti pentingnya pengelolaan kawasan yang lebih bersih dan tertata.
“Untuk tata kelola yang lebih bagus, efisien, terkait bersih, terkait keberadaan yang mungkin selama ini masyarakat Kabupaten tahu seperti apa pasar ikan hias tersebut,” ujarnya.
Terkait Festival Kuno Kini, Imam berdalih memiliki sejumlah catatan. Catatan itu, menurutnya, jadi bahan evaluasi apabila kegiatan tersebut akan kembali digelar tahun depan.
Salah satu catatan LSM ini adanya dugaan ‘jual beli’ stand dengan harga fantastis. Selain itu, pihaknya juga mempertanyakan adanya perbedaan antara pelaku UMKM asli dengan reseller dalam pelaksanaan event tersebut.
“Terjadinya jual beli stand di luar harga fantastik dan adanya perbedaan antara UMKM apakah ini reseller atau bukan,” katanya.
Berbeda dengan pandangan aliansi empat LSM itu, pengamat ekonomi Dr Ujang Syahrul Mubarok mengatakan bahwa Festival Kuno-kini menunjukkan bahwa event budaya bisa menjadi mesin penggerak perekonomian.
“Tidak hanya UMKM yang terlibat, tapi juga di situ tentu melibatkan tukang parkir. Kemudian transportasi pedagang-pedagang informal di sekitar yang tidak masuk dalam stand festival ya. Ada juga dekorasi pekerja event, kemudian hotel juga termasuk di situ ya. Artinya event budaya ini bisa menjadi penggerak bagi ratusan UMKM sekitarnya,” ujar Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Kadiri (Uniska) tersebut.
Selain itu, Ujang juga menemukan fenomena menarik. Yaitu Festival Kuno Kini ini dalam teori ekonomi modern atau masyarakat modern, bisa menjadi experience marketing. Jadi konsumen datang bukan sekadar menikmati produk tapi juga pengalaman yang didapatkan di sana.
Seperti suasana yang disajikan, banyak pengunjung membuat konten, merasakan nostalgia budaya, juga bertemu dengan teman lama yang disatukan di event tersebut.
Kemudian, festival Kuno-kini juga bisa menjadi branding baru bagi Kabupaten Kediri.
“Karena selama ini orang datang ke Kediri itu karena bisnis misalkan, karena ada di situ ada Gudang Garam, kemudian ada Kampung Inggris. Nah Festival Kuno Kini ini bisa menjadi magnet baru agar orang itu mau datang ke Kediri,” pungkasnya. (*)
Editor : Mahfud