Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Nestapa Peternak Rakyat (2): Aturan HAP Telur Baru Tunggu Kementan, Pemkab Kediri Percepat Realisasi Jagung SPHP

Ayu Ismawati • Sabtu, 11 Juli 2026 | 06:30 WIB
(Ilustrator: Afrizal)
(Ilustrator: Afrizal)

Jeritan peternak ayam petelur karena harga yang semakin anjlok akhirnya didengar pemerintah. Pasca-rembuk perunggasan yang digelar Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Senin (6/6) lalu, pemerintah memutuskan penetapan harga baru. 
Di antaranya, harga telur ayam ras di tingkat peternak Rp 24 ribu per kg.

“Tugas kita bersama memastikan harga ini berjalan (berlaku mulai 15 Juli 2026) sehingga peternak semakin sejahtera, sementara harga di tingkat konsumen tetap sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dikutip dari Antara.

Baca Juga: Harga Telur dan Daging Ayam Anjlok, Picu Deflasi di Kota Kediri!

Menyikapi kebijakan baru itu, belum ada arahan resmi maupun sosialisasi kepada peternak di Kabupaten Kediri.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih mengatakan, pihaknya masih menunggu aturan resmi dari Kementan. 

“Kami masih menunggu aturan resminya. Saat ini acuannya masih pakai Perbadanas 6 Tahun 2024,” katanya.

Sesuai aturan itu, harga acuan pembelian di produsen untuk telur ayam ras ditetapkan Rp 26.500 per kg. Sedangkan di tingkat konsumen ditetapkan Rp 30 ribu per kg.

Meski belum menindaklanjuti penetapan harga baru, menurut Tutik pemkab sudah mengupayakan langkah intervensi menyikapi anjloknya harga di tingkat peternak.

Baca Juga: Telur

Di antaranya dengan mempercepat realisasi usulan jagung stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP). Program itu bertujuan mengantisipasi fluktuasi harga jagung di tingkat peternak yang kerap melebihi Harga Acuan Penjualan (HAP) Rp 5.800 per kg. 

“Kami juga memberi ruang peternak untuk jualan langsung ke masyarakat dan sedang menyiapkan imbauan ASN beli telur dengan harga HAP,” ungkap Tutik.

Terpisah, Pengamat Ekonomi Subagyo menilai anjloknya harga telur bukan hanya karena produksi yang berlebih. Melainkan juga karena pasar yang sedang lesu.

“Masalah utamanya bukan hanya produksi yang berlebih, tetapi daya serap pasar yang melemah sehingga surplus tersebut tidak terserap dengan baik,” tuturnya.

Subagyo menyebut, harga telur sempat tinggi pada momen Natal dan tahun baru (Nataru). Demikian pula saat Ramadan dan Idul Fitri karena permintaan meningkat.

Baca Juga: Permintaan Telur Melonjak Tajam di Kediri, Dipicu Konsumsi dan Program MBG

Namun setelah periode itu, konsumsi kembali turun hingga berdampak pada harga di tingkat peternak.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai turut membantu menyerap produksi telur. Namun kontribusinya masih belum mampu mengimbangi besarnya pasokan yang tersedia di pasar.

“MBG memang berpengaruh, tetapi produksinya masih terlalu besar. Apalagi saat ini ada beberapa dapur yang berhenti beroperasi sehingga penyerapannya belum maksimal,” jelasnya.

Fenomena penjualan telur murah dengan harga di bawah pasaran, bahkan mencapai Rp 16 ribu per kilogram, juga disebut sebagai dampak dari melimpahnya stok di tingkat peternak. Sebab, telur merupakan komoditas yang tidak dapat disimpan dalam waktu lama.

Baca Juga: Kerek Keuntungan, Bupati Kediri Dhito Sarankan Peternak Jual Produk Olahan

Di sisi lain, peternak juga menghadapi kenaikan biaya produksi, mulai dari pakan hingga obat-obatan ternak. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan membuat sebagian peternak mengurangi jumlah produksi pada periode berikutnya.

Subagyo menilai, pemerintah perlu mengambil langkah untuk menjaga stabilitas harga. Salah satunya melalui peningkatan penyerapan telur.

“Telur merupakan sumber protein yang relatif murah dibandingkan daging. Ini bisa dimanfaatkan untuk program-program pemerintah,” ungkapnya.

Baca Juga: Liputan Eksklusif : Peternak Sapi Perah di Kediri Berusaha Bertahan di Tengah Derasnya Arus Susu Impor di Tanah Air 

Selain itu, dosen dari Universitas Nusantara PGRI itu juga mendorong adanya edukasi dan pengembangan hilirisasi produk telur. Menurutnya, telur tidak harus dijual dalam bentuk segar.

Melainkan bisa diolah jadi produk bernilai tambah. Seperti telur cair maupun tepung telur sehingga memiliki masa simpan lebih panjang dan membantu menjaga stabilitas pasar. (ayu isma/diana yunita sari/ut)

Editor : Ayu Ismawati
#telur ayam ras #telur ayam #jagung #kementan #dkpp kabupaten kediri