
Mengapa telur? Karena komoditas ini sempat bikin geger. Terutama telur ayam ras. Harganya anjlok tidak karuan. Padahal, di sisi lain, harga-harga penopang produksinya-seperti pakan dan obat-naik tajam.
Lho? Inilah anehnya. Ketika peternak terjepit di antara harga pakan dan obat-obatan yang mahal, eh, harga jual ternyata tak sepadan. Pasar tak mampu menyerap dengan harga yang tinggi. Jadinya, telur pun tak laku. Sampai-sampai, ada peternak di salah satu kota yang memilih membagi-bagikan telur secara gratis. Bukan untuk tujuan sosial sebenarnya. Melainkan bentuk protes dan keputusasaaan.
Apakah masyarakat sudah jarang mengonsumsi telur? Ah, tidak juga. Hingga saat ini saya yakin telur adalah makanan atau lauk favorit setiap keluarga di Indonesia. Setelah tempe dan tahu, serta kerupuk.
Pasar juga sebenarnya terbuka lebar. Buktinya, banyak ibu-ibu yang berburu telur di market-place. Memborong telur yang harganya sanga gila murahnya! Hanya Rp 16 ribu per kilogram. Padahal di pasar ‘nyata’ harganya masih menyentuh Rp 30 ribu per kilogram! Waduh!
Mengapa ini? Teori apa yang bisa menjelaskan fenomena aneh ini? Soal tata kelola seperti yang ramai diarahkan pada program MBG saat ini?
Mungkin, banyak ekonom yang bisa menjelaskan problematikanya. Namun, yang pasti, tentu ada rantai proses soal telur yang salah. Bila tidak, tak mungkin akan terjadi seperti sekarang ini. Telur banyak tapi tak laku. Ongkos produksi mahal tapi harganya murah. Bikin peternak jadi semaput. Tak peduli dia skala besar, menengah, atau bahkan kecil.
Saya jadi teringat ketika awal program MBG-makan bergizi gratis, bukan maling berkedok gizi seperti yang digaungkan banyak orang lho-digulirkan. Pembuat kebijakan koar-koar bahwa MBG akan menciptakan multiplier effect yang luas di masyarakat. Salah satunya telur. Karena lauk telur yang disiapkan akan dibeli dari peternak lokal.
Buktinya? Ah, pembaca tahu sendiri. Bila teori multiplier effect itu terjadi tentu tak ada cerita peternak bagi-bagi telur gratis sebagai ekspresi keputusasaan.
Lalu, mengapa ini terjadi? Bahkan, sering berulang-ulang bak dejavu. Terjadi lagi, lagi, dan lagi. Setiap kali justru terasa parah tanpa ada upaya serius menanggulanginya.
Akhirnya, bila kita telusuri hingga ke pangkalnya, problemnya adalah bukan soal tata kelola saja. Itu adalah sebagian kecil dari kubangan masalah. Ada lagi ketidakpedulian pada ekonomi rakyat. Serta peta jalan-istilah kerennya road map-yang nihil.



