Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Nestapa Peternak Rakyat (1): Pakan Melonjak, Harga Telur Anjlok, buat Peternak Kesulitan Modal

Ayu Ismawati • Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:30 WIB

 

Ilustrasi peternak ayam petelur yang dilema dengan anjloknya harga. (Ilustrator: Afrizal)
Ilustrasi peternak ayam petelur yang dilema dengan anjloknya harga. (Ilustrator: Afrizal)

Jeritan peternak ayam petelur imbas anjloknya harga kian lantang terdengar di berbagai daerah. Tak terkecuali di Kediri. Meski keluhan itu tak disampaikan terang-terangan seperti daerah lainnya, bukan berarti mereka baik-baik saja.

 

Seperti hari-hari biasanya, tiap pagi pekerja di peternakan Desa Nambaan, Kecamatan Kras itu mengumpulkan telur-telur ayam di kandang. Meski jumlahnya tak menentu, tiap hari memang selalu ada telur yang bisa dipanen.

Telur-telur fresh itu lantas ditata di krat atau egg tray. Kemudian disusun di gerobak. Sebagian dibawa ke depan rumah, tempat pemilik peternakan menjajakan sendiri hasil panennya. Sebagian lagi menunggu diambil oleh distributor.

Sudah sejak 2016 lalu, Dian Afikasari dan keluarganya menjalankan usaha itu. Naik-turun usaha ini pun sudah dia lalui. Termasuk beberapa bulan terakhir saat harga telur kian merosot. 

Baca Juga: Harga Telur dan Daging Ayam Anjlok, Picu Deflasi di Kota Kediri!

Pekan lalu, harga penjualan dari kandang hanya Rp 19 ribu per kilogram (kg). Sempat naik sedikit dibanding beberapa hari sebelumnya yang hanya mencapai Rp 17 ribu per kg.

“Kondisi harga saat ini, istilahnya itu kami masih bisa ngasih pakan ayam dan membayar pekerja. Tapi ya nggak ada lebihnya,” kata peternak asal Desa Nambaan, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri itu.

Hal itu tak lepas karena hantaman yang dialami peternak bukan hanya dari harga jual yang anjlok. Melainkan, di saat yang sama harga pakan juga naik. 

Baca Juga: Telur

Budidaya ayam petelur itu membutuhkan pakan yang terdiri dari jagung, konsentrat, dan katul. Dan, hampir seluruh komponen pakan itu mengalami kenaikan harga. 

“Komposisi terbanyak itu sebenarnya jagung. Tapi jagung itu pun harganya juga di atas rata-rata. Sudah 6,5 (Rp 6.500 per kg). Sedangkan konsentratnya naik Rp 45 ribu dari awal Rp 365 ribu jadi Rp 410 ribu,” bebernya.

Berdasar pengalamannya, saat tidak ada acara hajatan atau musim libur sekolah, biasanya harga telur memang turun. Namun, Dian tak menduga jika penurunan kali ini sangat signifikan.

Dia menduga, populasi ayam petelur yang semakin banyak turut memengaruhi anjloknya harga.

Adanya program massal seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu persepsi bahwa serapan telur akan meningkat pesat. Akibatnya, pemodal besar terpancing untuk meningkatkan kapasitas produksi dengan menambah populasi dan fasilitas kandang.

Baca Juga: Permintaan Telur Melonjak Tajam di Kediri, Dipicu Konsumsi dan Program MBG

Di sisi lain, juga semakin banyak bermunculan peternak-peternak baru dari kemudahan beternak yang dihadirkan. 

“Orang-orang jadi berbondong-bondong beternak sendiri. Kebanyakan di rumah-rumah. Karena sekarang lagi ngetren itu ternak-ternak rumahan yang cuma 10 ekor,” ungkap Dian.

Dia mencontohkan, sekarang sangat mudah ditemui di media sosial paket berternak ayam peterlur. Kandang ayam itu ditawarkan dengan paket komplit, lengkap dengan atap, pakan, hingga bibit ayam yang siap dibesarkan.

Dengan konsep kandang susun, paket ‘beternak’ itupun tidak membutuhkan lahan yang luas. 

“Otomatis jadi tambah banyak populasinya. Dan ini perkiraan saya, akhir-akhir ini pada keluar semua (pasokan telur, Red). Akhirnya over. Makanya harga jagung juga naik karena kebutuhannya juga banyak sekali,” urainya.

Baca Juga: Peternak Telur Puyuh Kediri Banjir Pesanan MBG, Sampai Ratusan kg Perhari

Merosotnya harga telur saat ini juga mengingatkannya pada masa pandemi Covid-19. Saat harga telur di tingkat peternak jatuh hingga Rp 14 ribu per kg. Rupanya, bangkitnya harga usai pandemi itu tak bertahan lama.

Dengan kondisi seperti sekarang, harga jual dari kandang di rentang Rp 20 ribu per kg itu jadi harga minimal yang masih bisa ditoleransi. Lebih rendah dari itu, peternak akan sangat kesulitan mengembalikan modal.

“Segitu harusnya sudah minimal. Harga segitu pun kami nggak dapat apa-apa, akibatnya nggak bisa peremajaan. Karena kayak gini nantinya dua tahun afkir kan, kalau habis ya sudah. Nggak punya modal untuk nambah (populasi baru, Red) lagi karena habis uangnya,” keluhnya.

Dian berharap, pemerintah segera mengambil langkah konkret mengatasi kondisi itu. Salah satunya dengan menstabilkan harga pakan agar bisa sedikit mengurangi beban peternak lokal.

Sebab diakuinya jika membatasi populasi akan cenderung lebih sulit dilakukan. 

Baca Juga: Tingkatkan Produktivitas, Polsek Ringinrejo Polres Kediri Dampingi Peternak Kambing Dukung Ketahanan Pangan

“Mungkin harga konsentrat dan jagung bisa distabilkan. Seperti membuka kran impor jagung karena ini kan seolah-olah (pemerintah) masih nutut (mencapai target) swasembada jagung. Padahal kenyataannya di petani pun sulit mencari jagung,” ungkap Dian.

Dwi Rinsawati, peternak ayam petelur lainnya di Kabupaten Kediri menambahkan, penurunan harga telur juga sangat dirasakannya. Hingga kemarin (10/7) saja harganya masih Rp 18 ribu per kg. 

Penurunan signifikan itu mulai dia rasakan sejak akhir Mei lalu. Senada dengan Dian, semakin banyaknya pemodal yang membuka peternakan sendiri diduga jadi salah satu pemicunya. 

“Sekarang harga pakan semuanya juga naik, berhubung BBM (bahan bakar minyak) juga naik. Terus kemungkinan besar sekarang seperti pabrik-pabrik pakan kan juga punya ternak. Dan itu nggak kecil peternakannya,” kata perempuan yang akrab disapa Rinsa itu.

Baca Juga: Kisah Eko Wahyuda, Peternak Gen-Z Kediri Pemilik Sapi Raksasa Seberat 1.214 Kilogram

Akibatnya, peternak kecil seperti dia ikut terdampak. Mereka paling berpotensi kalah begitu bersaing di pasar. Sudah menjalankan usaha peternakan sejak belasan tahun lalu pun tak bisa jadi jaminan.

“Seingat saya zaman dulu waktu masih ibu (peternakan dikelola ibu, Red) itu, pabrik pakan, pabrik obat, dan sebagainya nggak boleh sambil ternak. Jadi ya yang peternak ya beternak, pabrik pakan ya menyediakan pakan. Itu seingat saya,” tandasnya.

Yang dimaksud Rinsa barangkali soal potensi monopoli pasar yang bisa terbentuk dari pola industri seperti itu. Jika pasar dikuasai korporasi besar, persaingan usaha tidak sehat pun kemungkinan besar terjadi.

Para peternak rakyat ini akan semakin sulit menembus pasar yang telah dimonopoli dari hulu sampai hilir oleh segelintir orang saja. 

Baca Juga: Kementan dan GAPKI Lepaskan Serangga Penyerbuk Baru, Solusi Produktivitas Kelapa Sawit

Terlepas dari itu, dia berharap kondisi ini tak berlarut-larut. Harapan itu juga datang dari rencana Kementerian Pertanian (Kementan) RI menetapkan harga telur ayam ras Rp 24 ribu per kg di tingkat peternak.

Ketentuan itu akan berlaku mulai 15 Juli 2026.

“Mudah-mudahan saja itu benar. Karena kadang-kadang di mana pun tetap sama. Meskipun harusnya harganya sekian, tapi kalau pasar nggak kuat, pembelinya nggak kuat, kan ya tetap nggak jalan,” tandas peternak asal Desa Wonorejo, Kecamatan Wates itu. (ayu isma/ut)

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#telur ayam ras #ayam petelur #peternak ayam #harga telur #kementan