Pilihan mendapatkan cashflow ketika butuh uang kini semakin banyak. Ada banyak rumah gadai bermunculan bersanding dengan milik pemerintah, PT Pegadaian. Cermin kondisi ekonomi yang semakin terpuruk?
Papan reklame bertuliskan jasa gadai semakin menjamur di Kota Kediri. Berdekatan dan nyaris berderet.
Tampil dengan warna yang mencolok mata. Seakan berebut perhatian dari mereka yang melintas. Kemudian menggodanya agar menghampiri.
Contohnya di sepanjang Jalan KH Wachid Hasyim. Wilayah yang masuk Kelurahan Bandarlor, Kecamatan Mojoroto itu setidaknya ada lima reklame seperti itu.
Lokasinya pun berdekatan. Beberapa bahkan hanya dipisahkan dua bangunan saja.
“Karena di sini calon customer tinggi,” aku Sa.
Sa adalah karyawan PT Surya Gadai Prima. Lokasinya di antara Pasar Bandar dan kampus sekolah kesehatan ternama di Kediri.
Persis di depan Rumah Sakit Kilisuci, rumah sakit milik Pemkot Kediri.
Pemilihan tempat bukan tanpa sebab. Menurut Sa, perusahaannya memilihnya karena tingginya konsumen gadai di daerah itu.
Terbukti, dalam amatan Jawa Pos Radar Kediri, hanya berkisar 10 menitan sudah ada tiga orang yang datang bergantian.
Konsumen pegadaian swasta yang sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini memang bertumpu dari pasar dan kampus.
Pedagang yang butuh modal atau mahasiswa yang memerlukan biaya hidup atau kuliah.
“Kalau pasar biasanya ibu-ibu jualan butuh modal. Kalau kampus, mahasiswa biasanya untuk bayar UKT atau kebutuhan kuliah lainnya,” jelas Sa.
Menurut sang pegawai, sehari setidaknya sepuluh sampai 15 konsumen yang datang. Paling apes, tiga nasabah.
Itupun dalam kondisi yang paling sepi. Kebanyakan langsung deal sekali datang. Khususnya pelanggan lama yang sudah tahu prosedurnya.
“Dari jumlah itu, 70 persen adalah warga biasa, termasuk pedagang pasar. Sisanya mahasiswa,” tambah perempuan 21 tahun itu.
Tingginya permintaan rumah gadai terlihat dari cabang yang dimiliki PT Surya Gadai Prima.
Mereka punya tiga di Kediri Raya. Selain di Bandar itu ada juga yang dekat Pasar Pahing dan di Pare.
“Memang dipilih di titik ekonomi. Yang banyak aktivitas dan pergerakan orang,” imbuh El karyawan lainnya.
Maraknya rumah gadai saat ini tak lepas dari kebijakan pemerintah yang lebih terbuka. Tidak lagi membatasi pegadaian harus milik negara.
“Yang penting sesuai syarat dan aturan,” kata Manager Bisnis PT Pegadaian Kantor Cabang Kediri Jen Supriono.
Selain faktor regulasi, tingginya pertumbuhan bisnis gadai menjadi daya tarik tersendiri.
Perkembangan sektor ini sangat menjanjikan. Masyarakat yang membutuhkan gadai relatif banyak.
Dia mencontohkan, di PT Pegadaian, out standing loan-nilai pinjaman-naik hingga 20 persen di akhir April. Mencerminkan tingginya aktivitas pemanfaatan layanan gadai.
“Makanya banyak yang menjadikannya peluang,” jelas pria asal Kecamatan Pesantren ini.
Apakah kehadiran pegadaian swasta mereduksi konsumen pegadaian plat merah?
Jen mengakui, sebagian nasabah memang beralih ke swasta. Tapi, umumnya, mereka memang tidak bisa dilayani oleh PT Pegadaian.
“Biasanya yang ke swasta itu karena di sini tidak diterima. Bukan karena kami selektif, tapi kami mempertimbangkan risiko. Banyak yang barangnya kurang baik ketika jatuh tempo lebih memilih dilepas,” jelasnya.
Momentum tertentu juga memengaruhi lonjakan kebutuhan gadai. Seperti menjelang hari raya, setelah masa liburan, hingga menjelang tahun ajaran baru sekolah maupun perkuliahan.
Tidak sedikit mahasiswa yang memanfaatkan gadai sebagai tempat penitipan barang sementara.
“Ada juga mahasiswa yang pulang kampung, barangnya digadaikan sekalian untuk biaya. Nanti balik kuliah ditebus lagi,” tambahnya.
Soal lokasi, pola penempatan pegadaian BUMN pun tidak jauh berbeda dengan swasta.
Seluruhnya cenderung berada di pusat aktivitas ekonomi. Keberadaan pegadaian di titik-titik tersebut bertujuan untuk memudahkan masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil, dalam mengakses pembiayaan cepat.
Yon, mahasiswa semester akhir di salah satu perguruan tinggi Islam di Kediri mengatakan, gadai menjadi salah satu solusi ketika kebutuhan mendesak datang.
“Biasanya untuk keperluan kuliah sama biaya hidup. Dengan adanya pegadaian sangat membantu karena bisa dapat uang cepat,” kata mahasiswa yang pernah menggadaikan motornya untuk kebutuhan kuliah itu.
Banyak mahasiswa yang memilih gadai barang saat menghadapi kebutuhan mendesak. Terutama ketika kiriman belum datang atau pengeluaran tak terduga muncul.
Barang seperti laptop atau gawai terpaksa ‘disekolahkan’-istilah lain digadaikan-bila ada kebutuhan mendesak.
“Saya gadai laptop untuk keperluan berbisnis,” aku Sam, mahasiswa jurusan ekonomi di salah satu kampus di Kediri.
Menurutnya, gadai bukan selalu menjadi kebiasaan. Melainkan lebih sebagai pilihan solusi. Bergantung kondisi masing-masing mahasiswa.
“Belum tentu jadi kebiasaan. Tiap mahasiswa punya cara sendiri menyelesaikan masalah keuangan. Tapi yang paling umum memang untuk kebutuhan kuliah atau mencukupi kebutuhan sehari-hari,” kilahnya.
Editor : Andhika Attar Anindita