Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Fomo atau Bukan? Pasar Dadakan ala CFD Menjamur di Pelosok Kediri, Ada JLS yang Beromzet Rp 45 Juta Setiap Minggu Pagi

Ayu Ismawati • Kamis, 19 Februari 2026 | 04:06 WIB

PADAT MERAYAP: Suasana CFD JLS Rempi Pesantren yang selalu ramai pengunjung setiap Minggu pagi.
PADAT MERAYAP: Suasana CFD JLS Rempi Pesantren yang selalu ramai pengunjung setiap Minggu pagi.

Tempat-tempat ini dulunya sepi. Sekarang menjadi ramai mirip aktivitas car free day di perkotaan. Pertanyaannya, mampukah fenomena ini bertahan lama, tidak sekadar numpang tenar sesaat?

Ruas jalan itu, Jalan Sumber Rempi, membelah kawasan persawahan di Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Panjangnya sekitar 500 meter. Di kanan dan kirinya berderet puluhan gerobak. Lengkap dengan payung warna-warni di atasnya.

Gerobak-gerobak itu menjual aneka makanan. Milik warga sekitar, yang menjadi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Setiap hari, ada puluhan gerobak yang beroperasi. Jumlahnya meningkat pesat pada Minggu pagi, bisa ratusan pelaku UMKM.

Maklum, di setiap Minggu pagi, mulai pukul 06.00 hingga pukul 09.00 berlangsung event bernama car free day Jalur Lintas Sumber (CFD JLS) Rempi.

Baca Juga: Meriah Tanpa Sound Horeg, Begini Suasana Lomba Agustusan di Area CFD Jalan Dhoho Kota Kediri

Car free day JLS Rempi bukan satu-satunya acara tematik yang biasanya ada di pusat kota. Ada pula Ngronggo Sport Art Center di Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota. Atau, berpindah ke wilayah Kabupaten Kediri, ada CFD Balongjeruk di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang.

Lalu, CFD di Jalan Kembari di Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan. Juga, masih ada yang lain, yang memiliki getaran serupa. Berkumpulnya warga di satu lokasi yang dipenuhi para pedagang atau lapak UMKM.

Yang layak diapresiasi, keramaian itu murni diinisiasi akar rumput, masyarakat. Kemudian dampaknya adalah perputaran ekonomi. Warga sekitar mendapat ruang mencari penghasilan dengan cara menjadi pedagang 'dadakan'.

Di JLS Rempi misalnya, setiap Minggu ada 300 pedagang yang berjualan. Setengahnya adalah warga setempat. Omzet mereka setiap berjualan antara Rp 150 ribu hingga Rp 900 ribu. Artinya, bila dipukul rata omzet pedagang Rp 150 ribu saja, setiap kali CFD ada Rp 45 juta uang yang berputar di lokasi tersebut.

Baca Juga: Upacara Virtual di CFD Gumul, Ini Respon Masyarakat

“Sebenarnya tak hanya waktu CFD saja, setiap hari pun tetap ramai meskipun pedagangnya tak sebanyak di Minggu pagi. Makanya berencana selama bulan puasa kami mengadakan bazar takjil, setiap sore,” kata Ridwan, ketua Paguyuban JLS Rempi.

Ridwan menjelaskan, CFD JLS Rempi masih baru. Minggu (15/2) itu baru yang keempat kali. Inisiasi kegiatan adalah pedagang, melihat fenomena jalan diaspal baru yang ramai untuk nongkrong anak muda.

“Awalnya pedagang dan beberapa anak muda itu muncul sendiri. Karena semakin ramai, akhirnya dibentuklah paguyuban untuk mengelolanya,” ungkap Ridwan.

Keberadaan JLS Rempi sangat berpengaruh terhadap perekonomian warga sekitar, terutama di RT 19 RW 8. Separo dari jumlah pedagang adalah warga sekitar.

“Perekonomian jadi menggeliat dan akhirnya perekonomian warga sekitar sini juga ikut terdampak,” kata Ridwan ketika ditemui di lokasi CFD JLS Rempi.

Baca Juga: Strategi Bisnis KitKat: Rahasia Bertahan dan Bertumbuh Puluhan Tahun di Pasar Global

Sedikit berbeda dengan acara Jangkepan di Kelurahan Ngronggo. Embrio kegiatan yang berlangsung di Ngronggo Sport Center ini adalah keinginan mengembangkan ekonomi kreatif berbasis komunitas.

“Kami menggali potensi dan karakter Kelurahan Ngronggo yang memiliki banyak UMKM,” terang Kepala Kelurahan Ngronggo Ahmad Toharuddin.

Singkat cerita, tim Ekonomi Kreatif Kecamatan Kota, bersama dengan Karang Taruna Kelurahan Ngronggo menginisiasi acara ini. Namanya Jangkepan, akronim dari Jajanan Ngangeni Akhir Pekan. Berlangsung pertama kali 7 Februari lalu. Tergetnya, akan berlangsung setiap Sabtu malam.

Siapa para pengisinya? Ada 15 pelaku UMKM dari sembilan RW di Kelurahan Ngronggo yang bisa memanfaatkan acara ini. Mereka diseleksi dari puluhan pendaftar. Setelah itu ada lima tamu tamu. Setiap penyewa dikenai biaya Rp 25 ribu.

“Pembatasan karena keterbatasan lokasi.Sekaligus menjaga kualitas produk yang dijual,” ucap Ahmad memberi alasan.

Baca Juga: Komoditas Pasar di Kota Kediri Rentan Melambung Jelang Ramadhan, Disperdagin dan Polres Gelar Sidak

Para penjaja menyediakan makanan gabungan tradisional dan modern. Cucur, getuk, wajik, jadah, hingga roti cokelat dan kentang goreng yang menjadi ciri khas jajanan kekinian. Temanya pun berbeda-beda. Seperti pertama kali buka mengusung tema Nusantara. Kemudian 14 Februari lalu bertema Valentine.

Pengelola Jangkepan juga berusaha berkreasi. Tak hanya menyediakan jajanan saja, juga acara semacam fashion show. Intinya, mereka mengutamakan kuliner dan hiburan.

Bagaimana hasilnya? Saat gelaran perdana, animo pengunjung luar biasa. Meskipun sempat hujan, malam hari lokasi Jangkepan dibanjiri pengunjung. Tak hanya dari Ngronggo, juga masyarakat kelurahan lain.

Pedagang pun bisa tersenyum. Yanik misalnya. Warga RW 9 Kelurahan Ngronggo ini menjadi salah satu pedagang. “Ada hiburan, lumayan banyak pembeli,” ucapnya sambil menyebut angka Rp 1,7 juta menjadi omzetnya malam itu.

Hani, warga RW 3, juga mengatakan serupa. Di malam pembukaan dia mendapatkan Rp 950 ribu dari penjualan kentang goreng.

Baca Juga: Bangun Pilot Project Gerai Koperasi Merah Putih di Ngronggo Kediri, Begini Kondisinya

Setiap Sabtu sore pula ada Kampoeng Kuliner Kaliombo. Inisiatornya adalah karang taruna bersama pemangku wilayah. Isinya, ada 30 pelaku UMKM yang dikumpulkan di Taman Kaliombo.

“Rata-rata omzet harian itu sekitar Rp 8 – 9 juta. Dampaknya bagi warga Kelurahan Kaliombo alhamdulillah mereka punya tempat untuk berdagang dalam wadah tematik Kaliombo Kampoeng Kuliner, jadi temanya bermacam-macam,” kata Ketua Kaliombo Kampoeng Kuliner Rendy Agung Santoso.

Bergeser ke wilayah Kabupaten Kediri, ada CFD Balongjeruk yang berawal dari viralnya patung macan putih garapan warga. Melihat patung menjadi fenomena dan selalu menarik pengunjung, maka muncullah ide CFD di setiap Minggu pagi. Tak sekadar jualan, juga ada hiburan di tempat ini.

Kemudian, ada CFD di Jalan Kembar Bulusari. Event ini muncul secara spontan. Dari para pedagang yang memanfaatkan momentum munculnya keramaian baru.

“Awalnya ada yang membuka jualan ketan bubuk. Lama-lama, kini, ada seratusan pedagang,” terang Yono, salah seorang pedagang yang berasal dari Desa Wonosari.

Baca Juga: Sidak Pasar Pahing, Wali Kota Vinanda Temukan Takaran Minyakita Curang dan Harga Pangan Melejit

Setiap kali CFD, di Minggu pagi, Yono mengaku bisa beromzet hingga Rp 1 juta. Cerita serupa juga disampaikan Fitri, 30, pedagang asal Desa Cerme, Kecamatan Grogol.

“Dalam sehari bisa Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu. Kalau libur panjang bisa tembus di atas Rp 1 juta,” kata Fitri.

Bila dibanding berjualan di rumah, pendapatan mereka jelas lebih banyak. Apalagi ketika berdagang di rumah mereka hanya bisa meraup Rp 50 ribu per hari.

Dewi Wirnasari, sekretaris Desa Bulusari, mengakui bila keramaian bermula dari keberadaan pedagang luar desa. Hingga kini juga mengangkat perekonomian warga setempat.

Persoalannya, jalan kembar itu berstatus milik swasta, milik pengelola bandara. Oleh karena itu, pihak pemerintah desa hanya bisa membantu mengirimkan surat izin ke pihak bandara.

“Pihak bandara memberikan izin jalan digunakan UMKM, namun berpesan untuk menjaga kebersihan,” jelas Dewi.

Meski begitu, masih ada kekhawatiran di kalangan pedagang. Mereka belum mengetahui sampai kapan CFD tersebut bisa berlangsung. Pasalnya, jika bandara beroperasi penuh, jalan tersebut kemungkinan akan difungsikan sebagaimana mestinya.

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#JLS #Jalan Lintas Sumber #car free day #cfd #Pasar Tematik #Perkotaan #ekonomi kreatif