Anjal Gepeng : Potret Kemiskinan Struktural yang Dipelihara? 

Hilda Nurmala Risani • Dipublikasikan Senin, 2 November 2026 | 18:56 WIB
Seorang pria mengemis di Jl Brawijaya Kota Kediri dengan memakai kostum. Bulan ini, ada 10 gepeng yang diamankan Satpol PP Kota Kediri.
Seorang pria mengemis di Jl Brawijaya Kota Kediri dengan memakai kostum. 
 

KEDIRI, JP Radar Kediri - Keberadaan anak jalanan, gelandangan, dan pengemis (anjal gepeng) tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial masyarakat. Ya, fenomena anjal gepeng memang sudah biasa ditemukan apalagi di daerah perkotaan. Salah satunya di Kota Kediri.

Banyak dari mereka yang berada di lampu merah, pusat perbelanjaaan, di bawah kolong jembatan, di pinggir-pinggir ruko, dan berbagai tempat yang sekiranya ramai didatangi atau dilewati masyarakat.

Tentu ada beragam faktor yang melatar belakangi keberadaan mereka. Yang paling utama merupakan masalah perekonomian, susahnya mencari lapangan pekerjaan ditambah dengan semakin hari ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Membuat mereka yang merasa sudah tidak memiliki cara lain terpaksa untuk turun ke jalanan.

Baca Juga: BBM Subsidi dan Dilema Masyarakat Kecil 

Hal ini diperparah dengan banyaknya masyarakat desa yang melakukan urbanisasi tetapi hanya bermodalkan nekat saja. Tanpa memikirkan kemampuan dan soft skill yang harus dimiliki agar dapat bersaing dengan yang lain. Kasus seperti ini justru dapat meningkatkan angka pengangguran di kota-kota.

Seperti hasil razia Satpol PP Kota Kediri pada Jumat (30/10) lalu. Beberapa dari mereka terpaksa turun ke jalan sebagai pengamen, peminta sumbangan, bahkan menjadi badut.

Mereka melakukan hal seperti ini, karena tidak memiliki kemampuan lain untuk dapat bertahan hidup. Gelandangan dan pengemis rata-rata merupakan seorang yang sudah paruh baya yang menganggap dirinya sudah sangat kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang lain selain menunggu belas kasihan dari masyarakat sekitar.

 Baca Juga: Berani Berbuat Tak Berani Bertanggung Jawab

Ada yang hidup sebatang kara dan tidak memiliki tempat tinggal serta biasanya memiliki kecacatan fisik. Tak jarang ditemukan, dalam melakukan kegiatan mengemisnya mereka membawa pasangan (seperti sepasang suami istri) atau membawa anaknya yang berusia balita maupun anak-anak.

Fenomena anak jalanan, gelandangan, dan pengemis yang berada di Kota Kediri sering kali terjaring razia, beberapa dari mereka bahkan terjaring lebih dari satu kali. Ketika terjaring razia mereka mengatakan hanya mendapatkan nasihat dan arahan untuk tidak turun ke jalan lagi karena dapat mengganggu ketertiban dan keindahan kota.

Namun yang sebenarnya mereka harapkan adalah adanya pelatihan-pelatihan meningkatkan kemampuan yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan penghasilan dan diberikan bantuan modal usaha agar tidak perlu lagi turun ke jalanan.

Baca Juga: Polemik Pasar Tradisional yang Tak Kunjung Selesai 

Keberadaan mereka di jalanan disebabkan karena tingkat perekonomiannya yang lemah, ditambah kondisi sekarang ini kehidupannya semakin sulit. Bantuan pemerintah yang dinilai tidak merata dan tidak jelas kapan akan diterima membuat mereka harus tetap turun ke jalanan agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sebenarnya dinas sosial dan dinas terkait sudah memiliki penyelesaian melalui program terbaiknya. Tapi, persoalannya, apakah program tersebut bisa berlangsung secara berkelanjutan sampai mereka dapat beralih "profesi" yang lebih bermartabat. Di sinilah perlu perhatian lebih serius.

Pemerintah daerah dapat saja bekerja sama dengan lembaga-lembaga swasta, perusahaan, perguruan tinggi (PT), dan sejenisnya yang berada di daerah setempat. Sebab, lembaga swasta, perusahaan, PT, dan sejenisnya dapat berkembang dan besar karena ada peran daerah.

 Baca Juga: ‘Mindfullness’ Yang Menuai Perbincangan Publik

Pada akhirnya problem ini tak bisa cukup diselesaikan oleh pemerintah. Perlu ikhtiar mulia untuk meningkatkan martabat warganya. 

Editor : Ayu Ismawati
Sumber : Radar Kediri
anjal gepeng potret kemiskinan struktural dipelihara satpol pp kota kediri