KEDIRI, JP Radar Kediri - Belakangan ini jagat maya sedang ramai memperbincangkan konten Maudy Ayunda tentang mindfulness. Ya, dalam unggahannya pada 21 Agustus lalu, Maudy membahas tentang mindfullnes in the ages of bad news. Dia membahas betapa beratnya menerima berita buruk yang datang bertubi-tubi dari segala penjuru. Dan menurutnya, kemampuan untuk menghindari berita buruk juga termasuk sebuah privilege.
Di tengah kehidupan yang dipenuhi berbagai informasi, tuntutan, dan berita yang datang setiap hari, menjaga ketenangan pikiran menjadi hal yang tidak selalu mudah. Makanya konsep mindfulness diperlukan. Maudy Ayunda pun pernah membahas konsep ini dalam konteks bagaimana seseorang menghadapi banyaknya berita dan informasi negatif di sekitarnya.
Untuk diketahui, mindfulness adalah kemampuan untuk hadir dan sadar terhadap apa yang sedang kita alami saat ini. Kita belajar memperhatikan pikiran dan perasaan tanpa langsung terbawa oleh emosi tersebut.
Baca Juga: Menyoal Tata Kelola Program MBG
Misalnya, ketika membaca berita yang membuat kita cemas atau marah, kita tidak harus langsung bereaksi. Kita bisa berhenti sejenak, memahami apa yang kita rasakan, kemudian menentukan bagaimana sebaiknya merespons.
Menurut Maudy, mengambil jeda dari informasi yang berlebihan juga dapat menjadi bagian dari menjaga kesehatan diri. Kita dapat mengatur kapan membaca berita, memilih sumber informasi yang terpercaya, dan memberikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat dari berbagai informasi yang terus bermunculan.
Mindfulness bukan berarti kita menjadi tidak peduli atau tidak peka terhadap masalah yang ada di sekitar. Justru, dengan pikiran yang lebih tenang, kita dapat memahami suatu persoalan lebih jernih. Kita juga bisa tetap peduli dan mengambil tindakan dengan lebih bijaksana. Asalkan tidak harus terus-menerus membiarkan diri tenggelam dalam kecemasan.
Baca Juga: Kebakaran Hutan dan Lahan Yang Terus Berulang
Sayangnya, sebagian orang menganggap saran tersebut kurang membumi karena tidak semua orang punya kemewahan untuk menjauh sejenak dari berita. Bagi sebagian masyarakat, kabar buruk bukan sekadar informasi. Melainkan terjadi dalam kesehariannya. Karhutla, bencana, krisis BBM, kehilangan pekerjaan, dan berbagai persoalan rumit lainnya.
Bagi mereka yang hidupnya pas-pasan, terkena asap tiap hari, hingga yang kehilangan pekerjaan, kabar buruk bukan sekadar informasi. Tapi, keadaan yang benar-benar buruk.
Mungkin, dari latar belakang itulah konten tersebut dihujat. Mindfulness dianggap sebagai suatu kemewahan. Sebab kalau urusan hidup saja masih berantakan, bagaimana bisa menenangkan batin? Perut belum kenyang, pekerjaan belum aman, asap masih mengepul. Boro-boro mindfulness, untuk mendapatkan sekadar rasa tenang saja sudah jadi sebuah kemewahan.
Baca Juga: ‘Ruang Aman’ Yang Semakin Kehilangan Kepercayaan
Pada akhirnya, tidak perlu menentukan apakah Maudy Ayunda benar atau salah. Sebab ada yang jauh lebih penting untuk ditanyakan yaitu apakah terus-menerus terpapar penderitaan sebagai satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa kita peduli?
Jika ucapan Maudy dipahami sebagai "jangan pedulikan berita buruk agar mental tetap sehat", tentu kritik yang diajukan netizen sangat berdasar. Namun sebaliknya jika maksudnya adalah mengatur cara kita menyerap kabar buruk agar kepedulian tidak berubah menjadi kelelahan, rasanya pendapat itu jauh lebih masuk akal.
Karena mindfulness tidak selalu membutuhkan kita untuk meninggalkan kenyataan. Terkadang hanya membutuhkan sedikit ruang di antara apa yang terjadi dan apa yang kita lakukan setelahnya.
Editor : Shinta Nurma Ababil
Sumber : Radar Kediri