
KEDIRI, JP Radar Kediri - Setiap musim kemarau tiba, layar televisi maupun gadget dipenuhi dengan berita kebakaran. Gambar-gambar yang sudah terlalu familiar untuk dilihat. Langit jingga pekat, kepulan asap tebal yang membumbung tinggi, dan deretan pepohonan yang meranggas terbakar.//
Kebakaran. Kebakaran. Kebakaran. Kata itu selalu ada di layar TV ruang tamu, notifikasi yang menyala di handphone, serta semua platform pemberitaan yang berlomba mengabarkan hal yang sama.
Data pun menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Setiap tahunnya, ratusan ribu hektare lahan terbakar, terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara lokal, tetapi juga lintas daerah bahkan lintas negara.
Ya, kebakaran hutan dan lahan pada 2026 bukan sekadar bencana musiman yang datang bersama kemarau. Melainkan gejala dari masalah yang jauh lebih dalam. Cara manusia Indonesia memahami dirinya, alamnya, ekonominya, dan kekuasaannya.
Ketika hutan terbakar seluas ratusan ribu hektare, yang ada justru masyarakat disuguhi narasi bahwa ini siklus alam. Seolah api punya kesadaran sendiri untuk memilih gambut Riau atau hutan primer Kalimantan Barat.
Seolah El Nino adalah arsitek yang merancang semuanya. Padahal, jika jujur dan kejujuran sering menjadi barang langka di negeri ini api tidak pernah membakar hutan sendirian. Melainkan ada tangan manusia di baliknya. Ada kepentingan yang dijanjikan serta dan uang yang ditawarkan.
Baca Juga: Dituding Sekedar Seremoni, Gubernur Kalteng Tegaskan Pelepasan 2.000 ASN Tangani Karhutla Bukan Kegi
Mirisnya kebakaran hutan dan lahan atau karhutla seolah sudah menjadi agenda tahunan dalam persoalan ekologis Indonesia. Bagi sebagian besar masyarakat yang tinggal di kota-kota besar dan jauh dari kawasan hutan, isu ini sering kali dipandang sebagai bencana daerah yang jaraknya ribuan kilometer. Sebuah tragedi berjarak yang hanya menyentuh lewat empati di layar ponsel.
Namun, kini titik api itu tidak lagi terisolasi di tengah rimba belantara, melainkan sudah merayap ke pemukiman rumah warga. Ini bukan lagi sekadar cerita tentang pohon tumbang di hutan lindung, melainkan tentang ancaman langsung terhadap ruang hidup harian manusia.
Dari sisi kesehatan, dampak kebakaran hutan sangat nyata. Gangguan pernapasan seperti ISPA meningkat, aktivitas belajar mengajar terganggu, dan banyak mahasiswa harus berkuliah dengan masker atau bahkan secara daring karena kondisi udara yang tidak sehat.




