
KEDIRI, JP Radar Kediri - Kasus sodomi yang terjadi di salah satu pondok pesantren yang ada di Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri membuat banyak orang merasa sedih dan kecewa. Tempat yang seharusnya menjadi ruang belajar agama dan membentuk akhlak baik justru menjadi lokasi yang membuat santri trauma dan ketakutan.
Ya, beberapa hari terakhir ini warga Kediri Raya dihebohkan dengan pemberitaan yang memilukan hati para orang tua khususnya ibu. Bagaimana tidak anak yang dirawat dari kecil hingga remaja dengan hati-hati justru dirusak oleh orang lain di tempat yang dianggap aman.
Yang membuat lebih miris lagi korban merupakan anak tunggal dan yatim. Dia tinggal dengan sang ibu karena ayahnya sudah berpulang sejak dia duduk di bangku kelas 1 SD/MI.
Niat hati ingin memberikan pendidikan terbaik kepada anaknya dengan mengirimkannya ke pondok pesantren. Nahas, bukan pembelajaran baik yang diperoleh. Justru penganiayaan hingga tindakan asusila yang diterima hingga sang anak trauma.
Sebenarnya kasus seperti ini tidak kali pertama terjadi. Di beberapa daerah juga pernah terjadi. Namun pola dan tindakan yang dilakukan oleh pelaku satu dengan yang lainnya hampir sama.
Lalu apa yang melatarbelakangi munculnya tindakan asusila ini? Tentu tidak tahu pasti apa penyebabnya. Apakah karena adanya ketimpangan kekuasaan atau yang lainnnya. Yang jelas perilaku seperti ini dilakukan oleh oknum. Entah karena mereka salah pergaulan atau memang memiliki trauma serupa yang membuatnya ketrigger untuk melakukan kepada orang lain.
Tentu perbuatan ini tergolong sangat keji dan tidak bisa dibenarkan. Apalagi dilakukan di lingkungan pesantren yang seharusnya menjadi tempat mengajarkan kebaikan.
Tak heran jika kasus ini membuat masyarakat marah dan meminta keadilan bagi korban. Mengingat yang dialami korban bukan hanya luka fisik, melainkan juga perasaan dan mental.
Mereka berharap pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal. Tak peduli anak siapa dan darimana asalnya. Sebab jika tindakan seperti ini tidak diberi efek jera maka jangan heran jika akan terus muncul dan masyarakat semakin tidak percaya dengan lembaga keagamaan tersebut.


