Penyembah Berhala
Karya:Dita Hasibuan
Dibalik dinding gereja yang megah,
Ia bersimpuh.
Mengangkat tangan untuk menyembah
Malafalkan doa doa yang indah
Wajahnya teduh bagai purnama yang tak pernah gerhana,
matanya berbinar, penuh kerendahan.
namun di balik senyum yang dijaga rapi itu,
tersimpan nafsu yang lebih liar dari api neraka sendiri.
Keluar dari pintu suci itu,
ia lupa jalan pulang menuju doa yang baru saja ia ucap,
langkahnya ringan seringan kapas,
hatinya berat seberat batu nisan yang menanti diisi.
Dosa-dosa kecil pun dirayakan,
seolah surga punya diskon untuk pelanggan setia.
Ia bebas, ia merdeka,
dari belenggu moral yang ia ciptakan sendiri lalu ia lupakan sendiri,
di jalan raya, ia menjadi raja tanpa mahkota,
di rumah, ia menjadi tuan yang lebih kejam dari algojo tanpa nurani.
Ketamakan adalah santapannya,
keserakahan adalah anggur yang tak pernah habis ia teguk,
di hadapan altar, ia bersujud serendah-rendahnya,
namun di dunia, ia menyembah dirinya sendiri setinggi menara Babel.
Oh, penyembah berhala yang tersembunyi rapi,
di balik jubah suci yang kau kenakan bagai zirah kebohongan,
kau kira Tuhan buta, kau kira surga tuli,
padahal Ia membaca hatimu lebih jelas dari huruf di kitab suci yang kau hafal tapi tak pernah
kau jalani.
Di saat kau merasa paling suci,
di situlah kau paling jauh dari-Nya,
sebab kesucian bukan soal berapa lama kau berlutut,
melainkan seberapa jujur kau saat tak ada yang menonton.
BIODATA PENULIS
Dita Hasibuan adalah seorang mahasiswi yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Negeri Medan. Sejak masa remaja, ia memiliki ketertarikan mendalam pada dunia sastra, terutama dalam menulis dan membaca puisi. Kegemarannya terhadap kata-katabermula dari kebiasaannya mengoleksi dan membaca antologi puisi karya penyair Indonesia, yang kemudian menumbuhkan keinginannya untuk turut menuangkan gagasan dan perenungan pribadi ke dalam bentuk puisi. Bagi Dita, menulis puisi bukan sekadar menyusun kata indah, melainkan cara untuk menyampaikan kegelisahan, kejujuran, dan pandangan kritis terhadap fenomena di sekitarnya. Ia berharap karya-karyanya dapat menjadi cerminan bagi pembaca untuk merenungkan kembali makna ketulusan dan kesucian yang sesungguhnya, bukan yang hanya dipertontonkan.
Tentang Mimpi yang Tetap Menyala
Pagi kembali mengetuk jendela,
membawa cahaya yang perlahan tumbuh.
Aku membuka mata dengan harapan,
meski semalam masih menyimpan
banyak pertanyaan yang belum utuh.
Di hadapanku terbentang jalan,
panjang, berliku, dan penuh persimpangan.
Ada langkah yang terasa ringan,
ada pula yang hampir kuhentikan
karena takut pada kegagalan.
Pernah aku melihat langit
dengan hati yang dipenuhi keraguan.
Aku bertanya kepada diriku sendiri,
apakah mimpi akan tetap menanti
ketika waktu berjalan begitu perlahan?
Namun angin mengajarkanku
bahwa tidak semua perjalanan harus cepat.
Pohon tumbuh melalui musim,
sungai mengalir melewati batu,
dan bunga mekar pada waktunya yang tepat.
Maka aku belajar menerima
hari-hari yang belum sesuai harapan.
Kegagalan bukan akhir cerita,
melainkan bagian dari perjalanan
yang mengajarkanku arti keteguhan.
Jika hari ini aku belum sampai,
bukan berarti aku telah kalah.
Selama masih ada kemauan,
masih ada doa yang kupanjatkan,
dan masih ada keberanian untuk melangkah.
Aku tidak ingin lagi membandingkan
langkahku dengan perjalanan orang lain.
Sebab setiap hati memiliki waktunya,
setiap mimpi memiliki jalannya,
dan setiap usaha menyimpan maknanya sendiri.
Ketika lelah datang menghampiri,
akan kuberi diriku waktu untuk berhenti.
Bukan untuk meninggalkan impian,
tetapi untuk menguatkan kembali keyakinan
bahwa aku masih mampu berdiri.
Suatu hari nanti, ketika aku tiba,
aku ingin menoleh ke belakang.
Kepada diriku yang pernah ragu,
akan kukatakan dengan penuh haru,
“Terima kasih karena tidak menyerah.”
Untuk sekarang, biarlah aku berjalan,
membawa mimpi dan doa dalam genggaman.
Tidak harus sempurna, tidak harus tergesa,
sebab setiap langkah yang kulakukan
sedang mendekatkanku pada tujuan.
Dan jika malam kembali sunyi,
akan kuingat satu hal dalam hati:
selama harapan masih menyala,
selama aku masih mau berusaha,
perjalanan ini belum berhenti.
Tentang Penulis
Inez Christy Saragih lahir pada 22 Maret 2006. Saat ini merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan. Ia menulis puisi berjudul “Tentang Mimpi yang Tetap Menyala”, yang menceritakan tentang perjalanan seseorang dalam menghadapi keraguan, kegagalan, dan ketidakpastian, serta tetap mempertahankan harapan dan semangat untuk mencapai impian.
Editor : Shinta Nurma Ababil