KEDIRI, JP Radar Kediri- Tampil menawan sudah menjadi keseharian Wulan. Dia dulunya seorang sales promotion girl (SPG). Namun sekarang dara cantik ini juga dikenal sebagai pengusaha sukses.
Gayanya berpakaian sebenarnya simpel. Dia mengenakan atasan putih ulya. Dipadu dengan rok hilya warna dusty pink. Kombinasi fashion tersebut membuat penampilannya mempesona.
Disamping parasnya yang menawan, kemampuannya mix and match pakaian perlu diacungi jempol. Bahkan, bakat tersebut menjadi ladang bisnis. Ya, pakaian yang dikenakannya itu produknya sendiri.
Brandnya tersebut dikenal dengan nama Landzie. Pemasarannya lewat marketplace dan online shop. Tak hanya secara daring. Dara cantik ini juga memiliki butik di rumahnya Desa Wonorejo, Ngadiluwih.
Meski berada di pedesaan, penjualannya tergolong fantastis. Dalam sehari bisa terjual puluhan hingga ratusan.
“Pembelinya tidak hanya dari Kediri. Setiap hari kurir datang dua kali sehari,” terang dara dengan rambut sedada itu.
Kesuksesannya itu tidak langsung dia dapatkan. Ada perjuangan panjang yang dia lalui hingga bisa mencapai titik ini. Gadis kelahiran 1999 ini mulai mencoba dunia wirausaha sejak sekolah.
Saat duduk di bangku kelas XI SMA PGRI 2 Kediri, dia melihat teman-temannya suka beli sepatu sekolah dengan berbagai model.
Peluang itu coba dimanfaatkannya. Dia mencoba menjadi reseller sepatu. Dari situ kecintaannya terhadap dunia bisnis mulai tumbuh.
“Lumayan jadi dapat pemasukan. Bisa tambah uang jajan dan mengurangi beban orang tua,” terang anak dari pasutri Moh. Sholeh dan Suprihatin itu.
Setelah lulus, dia mencoba hal baru. Wulan mencoba bekerja di sana sini. Mulai menjadi penjaga gerai gadget hingga sales promotion girl (SPG).
Lalu, pada 2021 silam dia bergabung dengan salah satu pabrik rokok besar di Kediri. Wulan menjadi tim humas.
Dari situ, dia mulai mendapatkan banyak tabungan. Itu membuatnya ingin membuka usaha sampingan.
Kebetulan saat itu dia menemukan partner yang bisa diajak kerja sama. Yakni Rizky Lely, salah seorang penjahit asal Desa Cendono, Kandat.
“Awalnya itu saya pesan baju kondangan eh kok cocok dengan hasilnya. Dari situ saya ajak Kerjasama,” kenangnya.
Dari situlah, alumnus Uniska ini mulai menekuni usaha fashion. Dia menjadi pemodal serta konseptor. Sedangkan rekannya tersebut yang menjahit.
Awal mendirikan brand tersebut Wulan harus banyak belajar. Di sela-sela kesibukannya, dia mengembangkan usahanya itu. Walau belum optimal, produknya itu mulai dilirik banyak orang.
Saat mulai berkembang Wulan sekeluarga ditimpa musibah. Hingga membuatnya harus berhenti mengembangkan bisnis.
Lasitin, sang nenek yang sudah tua reta menghilang. Pikirannya kalut. Membuatnya memutuskan untuk berhenti berjualan.
“Beliau adalah orang yang dekat dengan aku. Karena itu ketika hilang membuat aku frustasi. Sampai sekarang juga belum ketemu,” ceritanya dengan mata berkaca-kaca.
Hampir setahun, barulah dia bangkit. Karena banyak klien yang menanyakan produknya. Dari situ, Wulan kembali survive untuk mengembangkan bisnis yang sempat lama vakum.
Awal tahun ini, dia lebih fokus untuk membesarkan brandnya. Wulan keluar dari tempatnya bekerja. Dia memilih fokus memperjuangkan bisnis rintisannya sendiri.
Dan benar saja! Pada Februari lalu pesanannya membeludak. Dari situ dia juga bisa merekrut ibu-ibu sekitar untuk membantunya menjahit baju. “Cari ibu-ibu penjahit sekitar rumah produksi yang ada di Kandat,” jelasnya.
Saat ini dia juga mencoba membuka brand lain lagi untuk mengembangkan usahanya. Selain untuk mencari penghasilan, dia juga meniatkannya untuk memberdayakan masyarakat. “Karena ingin bisa bermanfaat bagi orang lain,” akunya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah