Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengurai Problem Pasar Tradisional di Kota Kediri (3) : Fleksibel, Perumda Pasar Bisa Potong Birokra

Hilda Nurmala Risani
LEBIH FLEKSIBEL: Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Eko Lukmono Hadi memberikan penjelasan terkait pengelolaan pasar tradisional di Kota Kediri. (Foto: Wahyu Adji/JPRK)
LEBIH FLEKSIBEL: Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Eko Lukmono Hadi memberikan penjelasan terkait pengelolaan pasar tradisional di Kota Kediri. (Foto: Wahyu Adji/JPRK)

Advertisement

 

KEDIRI, JP Radar Kediri - Mana yang lebih enak, pasar tradisional dikelola langsung oleh pemkot atau di bawah kendali perusahaan daerah semacam Perumda Joyoboyo? Versi pemerintah, perumda bisa lebih fleksibel dan memotong rantai birokrasi. Lalu, bagaimana menurut pedagang?

Premis bahwa pengelolaan pasar tradisional lebih fleksibel bila dipegang perusahaan milik daerah (perumda) disodorkan oleh Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Kota Kediri Eko Lukmono Hadi. Menurutnya, anggapan masyarakat yang menyebut pasar lebih enak dikelola pemkot melalui dinas tidak sepenuhnya tepat. Malah, saat dikelola dinas pengelolaan pasar, birokrasi untuk perbaikan sarana dan prasarana lebih rumit.

Advertisement

“Ambil contoh ketika dikelola oleh pemerintah daerah jika ada sarana dan prasarana rusak maka tidak bisa langsung diperbaiki. Karena ada proses panjang di birokrasi yang harus dilalui,” ujar Eko.

Dia mengambil contoh jika genting pasar rusak misalnya. Perbaikannya tidak bisa langsung. Harus melihat anggaran terlebih dulu. Setelah itu masih meminta persetujuan pimpinan. Belum lagi bila ada mutasi sewaktu-waktu.

Advertisement

“Bila dikelola Perumda Pasar Joyoboyo itu akan lebih profesional. Bisa segera tereksekusi ketika ditemui persoalan terkait apapun yang ada di pasar tradisional,” tandasnya.

Dirutama Perumda Pasar Joyoboyo Djauhari Luthfi menyambung, pihaknya bisa segera membenahi bila ada kerusakan. Dan, itu tak harus menunggu pengajuan anggaran ke pemkot. Melainkan dari tarif jaya pelayanan yang dikutip dari pedagang. Tarif jasa pelayanan itu sepenuhnya digunakan untuk operasional pasar.

“Sehingga ketika ada kerusakan pada pasar bisa segera kami benahi. Termasuk untuk melakukan inovasi agar pasar itu bisa terus maju sesuai dengan perkembangan zaman," ujar pria yang akrab disapa Luthfi.

Luthfi mengambil contoh renovasi Pasar Bawang yang butuh Rp 250 juta. Semuanya berasal dari pendapatan mandiri perumda. Bukan dari pemkot maupun instansi lain.

“Renovasi Pasar Bawang kami targetkan tuntas sebelum akhir tahun ini,” beber pria yang berdomisili di Kecamatan Kota, Kota Kediri ini.

Advertisement
Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri

Artikel Terkait

Mengurai Problem Pasar Tradisional di Kota Kediri (2) : Mintanya Tarif Murah tapi Fasilitas Bagus

Mengurai Problem Pasar Tradisional di Kota Kediri (2) : Mintanya Tarif Murah tapi Fasilitas Bagus

Soal harga sewa kios kerap menjadi sumbu peletup konflik di pasar tradisional. Karena itu, pengelola pasar mengaku tak pernah menaikkan tarif sejak tiga tahun lalu.

Mengurai Problem Pasar Tradisional di Kota Kediri (1) : Value Penting, Karakteristik Jadi Daya Tarik

Mengurai Problem Pasar Tradisional di Kota Kediri (1) : Value Penting, Karakteristik Jadi Daya Tarik

Pasar tradisional adalah urat nadi perekonomian rakyat. Namun, selalu terbelit persoalan nan kompleks. Ada banyak kepentingan yang kerap bermuara pada konflik.

Polemik Pasar Tradisional yang Tak Kunjung Selesai

Polemik Pasar Tradisional yang Tak Kunjung Selesai

Polemik pengelolaan pasar tradisional di Kota Kediri mencuat dalam beberapa bulan terakhir.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer