Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

‎ Warung Madura Buka 25 Jam‎‎

Kurniawan Muhammad
Penulis: Kurniawan Muhammad❯
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Advertisement

Sekitar dua tahun lalu saya pernah menulis di rubrik ini tentang Warung Madura. Kali ini, saya ingin mengulas kembali tentang Warung Madura yang keberadaannya semakin marak akhir-akhir ini. Mengutip data dari “Paguyuban Warung Sembako Madura” bisnis Warung Madura dalam dua tahun terakhir mengalami pertumbuhan sangat signifikan. Saat ini jumlah anggota dalam organisasi itu  mencapai hampir 5.000 orang. 

Rata-rata para pemilik Warung Madura di organisasi tersebut memiliki setidaknya 3-5 warung. Sehingga diperkirakan saat ini ada sekitar 15.000 - 25.000 Warung Madura yang tersebar di seluruh Indonesia. Mayoritas tersebar di Pulau Jawa. Jumlah ini belum termasuk warung yang tidak tergabung dalam paguyuban. 

Merujuk data hasil survei dari Inventure 2024, menunjukkan bahwa 71 persen kelas menengah, pernah berbelanja di Warung Madura. Ketika ditanya alasannya, mayoritas menjawab karena lokasinya yang strategis. Alasan lain karena harga lebih murah (61 persen) dan bisa beli eceran (52 persen). 

Advertisement

Cara berpromosi Warung Madura, melalui tulisan yang dipasang di warung-warung mereka, menurut saya cukup menarik perhatian dan menghibur. Misalnya, di salah satu Warung Madura yang pernah saya jumpai ada tulisan begini: “Buka 24 Jam. Tutup Kalau Sudah Kiamat (tapi masih buka setengah hari)”.   Lalu ada juga Warung Madura yang memajang tulisan ini:  “Warung Madura, Buka 25 Jam”. 

Tulisan “Buka 24 Jam. Tutup Kalau Sudah Kiamat (tapi masih buka setengah hari)”. “Buka 25 Jam”. Memang terkesan hiperbolik. Tetapi, sesungguhnya itu adalah pesan yang ingin disampaikan oleh Warung Madura bahwa mereka buka lebih lama dari yang lain, bahkan saat semua sudah tutup. 

Advertisement

Warung Madura adalah contoh bisnis kecil yang mampu menembus batas waktu, berani bersaing dengan ritel modern, dan menjadi simbol marketing yang kontekstual. Bagaimana hal ini dapat dijelaskan? 

Warung Madura tidak menjual konsep yang rumit. Mereka menjual satu hal sederhana: ketersediaan tanpa batas waktu. Mereka menangkap pasar yang tidak dilayani oleh toko lain, yaitu tengah malam hingga subuh. Dalam perspektif marketing modern, ini adalah implementasi kongkret dari konsep “Be where your customer needs you”. 

Ketika minimarket modern tutup pukul 22.00 - 23.00, Warung Madura justeru baru mulai panen. Ini adalah contoh nyata dari penerapan strategi “Blue Ocean Mikro”, yaitu mengambil pasar yang diabaikan. Jadi, Warung Madura tidak bersaing secara langsung dengan ritel modern dalam layout toko, kenyamanan ruang dan teknologi. Tetapi mereka menciptakan “samudera baru” yaitu menjadi tempat untuk: kebutuhan darurat, akses malam hari dan kedekatan lokasi. Warung Madura tidak melawan minimarket, tetapi mereka bermain di waktu yang berbeda. 

Yang juga khas dari keberadaan Warung Madura adalah, mereka tidak sekadar bertransaksi. Tapi mereka juga membangun relasi sosial. Makanya, kebanyakan Warung Madura berada di tengah pemukiman. Mereka kebanyakan mengenal pelanggannya secara personal. Selain itu juga fleksibel dalam pelayanan. Di Warung Madura, bisa melayani pembelian eceran, dan juga pembeli bisa ngutang. Kekhasan ini lah yang tidak bisa ditemui di ritel modern. Dan ini yang disebut dengan “customer intimacy”. 

Ada buku menarik yang bisa dijadikan pijakan untuk menjelaskan fenomena Warung Madura. Judulnya: “The Discipline of Market Leaders”, dan ditulis oleh Michael Treacy dan Fred Wiersema, dua pakar strategi bisnis dan marketing. 

Advertisement

Artikel Terkait

Raffi Ahmad dan Ujian RANS 

Raffi Ahmad dan Ujian RANS 

Dalam dunia bisnis, kita harus semakin menyadari satu hal tentang perilaku konsumen. Bahwa mereka itu tidak selalu bertindak berdasarkan pertimbangan ekonomis.

Belajar dari Strategi TikTok

Belajar dari Strategi TikTok

Awalnya dia adalah salah seorang pimpinan di Tokopedia. Tapi karena Tokopedia sudah dibeli TikTok, maka dia saat ini juga menjadi bagian dari TikTok.

SEO, AI dan GEO 

SEO, AI dan GEO 

Bahwa, saat ini mulai terjadi perubahan pada penggunaan AI (Artificial Intelligence) dalam konteks marketing. AI yang semula digunakan sebagai mesin penjawab

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer