Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Belajar dari BYD dan Tesla 

Kurniawan Muhammad
Penulis: Kurniawan Muhammad❯
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Advertisement

Dalam perjalanan mudik ke luar kota lebaran tahun ini, saya sering menjumpai mobil-mobil listrik BYD. Baik di jalan tol maupun di rest area. Ketika berkunjung ke rumah saudara di Lamongan, salah satu mobilnya adalah BYD. Apakah ini pertanda bahwa mobil-mobil listrik produksi BYD sedang merajai pasar mobil listrik di Indonesia? 

Ternyata, merujuk pada data global dari CnEVPost disebutkan bahwa  penjualan mobil listrik BYD terus meningkat cukup signifikan dalam empat tahun terakhir (2022 - 2025). Tahun 2022: laku 1,86 juta unit. Tahun 2023: lebih dari 3 juta unit. Tahun 2024: sekitar 4 juta unit. Tahun 2025 peningkatannya cenderung landai.  

Masih menurut data tersebut, saat ini BYD sudah beroperasi di 70 negara dan di 6 benua. Dengan demikian, BYD mulai bergeser, dari “China-Centric” menuju ke “Global Manufacturing and Distribution Model”. 

Advertisement

Lantas, bagaimana positioning BYD dibandingkan dengan Tesla? Seberapa Tesla terancam dengan semakin menggeliatnya BYD? 

Dalam konteks marketing, rivalitas antara BYD dan Tesla bisa dijadikan studi kasus yang menarik. Bahkan, bisa disebut sebagai “laboratorium hidup” untuk memahami bagaimana “diferensiasi produk”, “validasi pasar” dan “kaidah marketing” bekerja secara nyata. 

Advertisement

Saya akan mencoba mengulasnya satu persatu: Pertama, tentang “diferensiasi produk”. Secara konseptual, diferensiasi produk adalah jantung dari strategi marketing. Philip Kotler menyebut bahwa diferensiasi bukan sekadar “berbeda”, tetapi harus memberikan nilai yang dirasakan signifikan oleh konsumen. 

Dalam hal diferensiasi produk, BYD memilih madzhab “breadth differentiation” (diferensiasi luas). Mereka punya banyak varian. Teknologinya dibikin fleksibel. Dan lebih fokus pada efisiensi dan harga. 

Sedangkan Tesla memilih madzhab “depth differentiation” (diferensiasi mendalam). Makanya, produknya dibikin terbatas, tapi sangat kuat secara identitas. Fokus pada software, AI, dan autonomous driving. Desainnya dibikin minimalis, sebagai simbol futurisme. 

Di titik ini lah, kita melihat dua filosofi besar antara BYD dan Tesla. Jika BYD lebih memilih membangun diferensiasi berbasis aksesibilitas. Dan Tesla membangun diferensiasi berbasis aspirasi. Mana kah yang paling benar? Keduanya benar. Tetapi, masalahnya, tidak selalu keduanya relevan di semua pasar. 

Kedua, tentang “validasi pasar”. Dalam praktik marketing modern, tidak ada strategi yang benar, sebelum divalidasi oleh pasar. Konsep ini sejalan dengan pendekatan “market-driven strategy” yang menempatkan konsumen sebagai pusat keputusan. Artinya, konsumen lah yang menjadi juri sekaligus hakim yang menentukan. 

Advertisement

Artikel Terkait

Pabrik Mobil Listrik BYD di Subang Diresmikan, Nilai Investasi Tembus Rp11,6 Triliun

Pabrik Mobil Listrik BYD di Subang Diresmikan, Nilai Investasi Tembus Rp11,6 Triliun

Produsen kendaraan listrik asal China, BYD, resmi meresmikan fasilitas produksinya di Subang Smartpolitan Industrial Park, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026).

Canggihnya Proses Kontrol Kualitas Kia, Libatkan Robot dan Kecerdasan Buatan

Canggihnya Proses Kontrol Kualitas Kia, Libatkan Robot dan Kecerdasan Buatan

Kerapian panel, presisi pintu, kenyamanan kabin, hingga minimnya getaran pada sebuah mobil ternyata melewati proses pengukuran yang sangat detail sebelum kendaraan.

Deretan Mobil Baru yang Siap Meluncur di Indonesia, Ada yang Sudah Lama Dinanti Pecinta Otomotif

Deretan Mobil Baru yang Siap Meluncur di Indonesia, Ada yang Sudah Lama Dinanti Pecinta Otomotif

Sejumlah mobil baru siap meluncur di Indonesia, mulai dari SUV, hybrid, hingga mobil listrik. Simak daftar dan tren terbarunya.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer