Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pemdes Kebonrejo, Kepung, Kabupaten Kediri Bangun Embung untuk Atasi Tantangan Pertanian di Lereng Pegunungan

Habibaham Anisa Muktiara • Rabu, 4 September 2024 | 05:40 WIB
BERMANFAAT: Embung Desa Kebonrejo memiliki manfaat besar bagi petani di sana.
BERMANFAAT: Embung Desa Kebonrejo memiliki manfaat besar bagi petani di sana.

KEDIRI, JP Radar Kediri- Pemdes Kebonrejo memiliki cara mengatasi permasalahan pengairan. Yakni dengan membuat embung desa. Dengan begitu aktivitas pertanian warga tidak terganggu.

Lahan pertanian di Desa Kebonrejo memiliki tingkat kemiringan beragam. Itu karena kontur pegunungan.

Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri. Pasalnya, saat kemarau rawan terjadi kekeringan. Sedangkan saat penghujan rawan terjadi banjir dan pengikisan lahan.

Menyikapi hal itu pemdes akhirnya membangun sebuah embung. Ini menjadi solusi jitu untuk mengatasi tantangan tersebut.

Air yang mengalir dari atas akhirnya dapat tertampung. Totalnya mencapai 6 ribu kubik air. Simpanan air tersebut juga digunakan untuk pengairan saat kemarau.

Selain membangun embung, pemdes juga membuat saluran irigasi dari pipa. Aliran tersebut lantas didistribusikan ke lahan pertanian warga.

Pipanisasi tersebut mampu mengaliri lahan persawahan seluas 30 hektare. “Petani yang memanfaatkan air dari embung sementara ada 40 orang,” sebut Kades Kebonrejo Yoni Widarto.

Mereka merupakan petani yang ada di lereng atas. Sedangkan para petani yang ada di lereng bawah cukup memanfaatkan sistem tadah hujan.

Dengan adanya perhatian tersebut aktivitas pertanian warga berjalan dengan lancar. Tidak tergantung musim.

Keberagaman Budaya dan Agama Tak Pernah Jadi Masalah

Desa Kebonrejo lebih dari empat ribu jiwa. Mayoritas beragama Islam. Namun, sekitar 50 orang memeluk agama Hindu.

Keberagaman budaya dan agama ini berlangsung lama. Bukan menjadi masalah. Justru keunikan tersebut menambah kekayaan budaya mereka.

“Mayoritas (yang beragama Hindu) tinggal di Dusun Pagungsari. Hanya satu warga yang tinggal di Dusun Tambaksari,” terang Misto, pemuka agama Hindu.

Pada 1986 silam, warga membangun Pura sebagai tempat peribadatan. Namun masih berbentuk seadanya.

Lalu, pada 1996 Pura tersebut direnovasi total oleh dua kampus terkenal di Surabaya. Hingga bentuknya seperti sekarang.

Lengkap dengan gapura dan bangunan joglo beratap genteng yang digunakan untuk beragam aktivitas. Lantai untuk sembahyang juga full semen.

Keberadaan Pura tersebut tidak pernah dipermasalahkan warga lainnya. Justru sebaliknya, semua saling menjaga dan menghargai.

Dengan begitu kerukunan dan persatuan terus terjaga. “Intinya saling menghormati dan menghargai,” tandasnya.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #radar #pegunungan #kediri #pertanian #kepung #kebonrejo #air #desa #jawa pos #embung