Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Juned, Penjual Pentol Yang Kuliahkan Anaknya hingga S2

adi nugroho • Senin, 20 Mei 2019 | 21:20 WIB
kisah-juned-penjual-pentol-yang-kuliahkan-anaknya-hingga-s2
kisah-juned-penjual-pentol-yang-kuliahkan-anaknya-hingga-s2

Di desanya nama Moh. Jupriono termasuk ‘melegenda’. Dia adalah penjual pentol yang sudah 22 tahun malang-melintang di desa tersebut. Tak hanya langganannya yang tak terhitung, hasil jualan pentolnya juga membuatnya bangga. Membuat buah hatinya bersekolah hingga jenjang S2.


 


Kala itu 8 Juni 1997. Harinya Minggu. Menjadi tanggal yang tak bisa terhapus dari benak Mohammad Jupriono. Di hari itulah warga Desa Pranggang, Plosoklaten, Kabupaten Kediri itu mengawali pekerjaan yang dia tekuni sampai saat ini. Pekerjaan yang ‘sepele’ namun punya arti besar bagi perjalanan  hidupnya.


Ya, itulah kali pertama lelaki bernama panggilan Juned itu berjualan pentol. Menjajakan dengan cara berkeliling. “Saat itu putri saya masih (bersekolah) TK,” kenang Juned, mengenang awal mula dia berjualan pentol.


Pada masa itu, pentol yang dia jual harganya masih Rp 25. Itu untuk satu butir pentol yang terbikin dari campuran daging dan tepung tapioka itu. Juned menjajakannya dengan cara berkeliling. Pergi dari satu desa ke desa lain. Mulai pagi hingga siang hari. Singgah di sekolah-sekolah.


Ketika hari beranjak gelap, Juned masih melanjutkan kerjanya. Kali ini berjualan dari kampung ke kampung. “Setiap hari keliling. Dulu sampai Desa Sidomulyo, Ringinbagus, juga Sepawon,” ceritanya, menggambarkan rute yang selalu dia tempuh saat itu.


Dua desa yang dia sebut awal itu berada di kecamatan yang berbeda dengan tempatnya tinggal, Plosoklaten. Dua desa itu berada di Kecamatan Puncu. Jaraknya mencapai tiga sampai lima kilometer dari rumahnya. Berada di lereng Gunung Kelud dengan track naik turun. Dan, itu dilaluinya dengan mengayuh sepeda onthel!


Belum lagi, hari yang dilalui Juned tak selalu mulus. Banyak diwarnai hambatan dan ketidaklancaran. Pentol yang dia jajakan kerap tak habis. Terpaksa dia bawa pulang kembali. Suatu saat, desa yang dia tuju ternyata tak sesuai pengharapannya. Sepi. Nyaris tak ada pembeli yang menginginkan pentolnya.


Bukan Juned namanya bila mudah menyerah dan terbanting keadaan. Sebaliknya, lelaki ini memutar otak agar dagangannya semakin dilirik orang. Termasuk membuat olahan pentol yang ‘lain dari yang lain’.


“Saya buat variasi lain. Termasuk menambah siomay. Biar pembeli tidak bosan,” bebernya kepada Minggu Inspiratif Jawa Pos Radar Kediri


Perjuangan Juned selama ini benar-benar dijalaninya dengan istiqomah. Keringat yang ia keluarkan pun tidak sia-sia. Dibantu sang istri, Mujiati, Juned pun bersyukur atas apa yang diberikan kepada keluarganya.


Karena yang paling membanggakan bagi Juned dan Mujiati adalah ketika putrinya yang bernama Ervi Anisatul bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bahkan kini sedang menempuh pendidikan S2 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). “Alhamdulillah dulu putri saya bisa lulus SMA sudah sangat bersyukur,” ujarnya.


Pendidikan tinggi itu memang menjadi motivasi Juned dalam bekerja. Ia menyisihkan hasil jualan pentol untuk kebutuhan sehari-hari dan sebagai cadangan biaya kuliah putrinya. Memang Juned sangat ingin putrinya bisa mengenyam pendidikan tinggi. Berbekal tekad tersebut Juned berjuang hingga bisa menguliahkan putrinya.


Keinginannya itu juga tak lepas dari ibunda Gombloh, sang penyanyi legendaries, yang bisa menguliahkan anaknya dari jualan pecel. “Karena ibunya yang menjadi penjual pecel bisa menguliahkan anaknya, itu menjadi pancatan saya,” tukasnya.

Editor : adi nugroho
#pendidikan #minggu inspiratif #penjual pentol #sekolah #inspirasi