Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengupas Sejarah Pecel Tumpang Khas Kediri

Shinta Nurma Ababil • Kamis, 14 Mei 2026 | 11:51 WIB
 
Sambel Tumpang berbahan utama Tempe Semangit atau Tempe Bosok (Foto Cookpad)
Sambel Tumpang berbahan utama Tempe Semangit atau Tempe Bosok (Foto Cookpad)

JP Radar Kediri - Jika kita membahas tentang pecel, setiap daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah pasti memiliki versi pecelnya masing-masing. Namun, Kediri memiliki warisan kuliner dimana menjadikan tempe bosok atau fermentasi tempe basi sebagai bahan baku utamanya.

Meski terdengar ekstrem bagi sejumlah orang, olahan fermentasi menjadi sambel tumpang ini merupakan resep kuno kebanggaan masyarakat agraris Jawa yang sudah eksis sejak ratusan taun silam.

Jejak keberadaan masakan tumoang sebenarnya sudah tercatat sejak ratusan tahun lalu. Hidangan khas berbahan tempe semangit ini bahkan disebut dalam Serat Centhini, manuskrip budaya Keraton Surakarta yang disusun pada awal abad ke-19. Catatan tersebut menjadi bukti bahwa resep tumpang telah bertahan lebih dari dua abad dan tetap hidup hingga sekarang.

Baca Juga: Rahasia Kelezatan Wagyu, Daging Sapi Paling Mahal

Awalnya, tumpang lahir dari kebiasaan masyarakat Jawa kuno yang sangat menghargai bahan makanan. Di masa ketika belum ada lemari pendingin, tempe yang terlalu matang tidak dibuang begitu saja. Tempe semangit justru diolah kembali dengan santan dan aneka rempah hingga menghasilkan cita rasa gurih yang khas.

Mengapa Kediri identik dengan tumpang? Jawabannya tak lepas dari sejarah Kediri sebagai wilayah agraris penghasil kedelai, tahu, dan tempe. Melimpahnya bahan baku membuat tradisi mengolah tempe semangit terus diwariskan dari generasi ke generasi. Karakter rasa yang pedas dan gurih ini cocok dengan lidah masyarakat Kediri sehingga hidangan ini semakin melekat sebagai identitas Kediri.

Sekarang, tumpang bukan sekedar makanan tradisional. Deretan penjual nasi pecel tumpang di sepanjang Jalan Dhoho menjadi bagian dari urat nadi wisata malam di Kota Kediri. Sepincuk nasi tumpang yang disantap hangat di malam hari bukan hanya mengeyangkan perut, tetapi juga menghadirkan rasa nostalgia dan jejak sejarah yang tetap terjaga hingga sekarang.

Baca Juga: Pemkab Kediri Segera Kebut Jalan Puncak Kelud, Lanjutkan Pembangunan pada Pertengahan Tahun

Penulis adalah Ragil Arya Kusuma, mahasiswa dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : Shinta Nurma Ababil
#kediri #kuliner #pecel tumpang #tumpang