Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Seperti itulah pepatah yang tepat untuk menggambarkan kiprah Muhammad Fauzan Zakariya. Yang menorehkan prestasi berlevel Internasional selayaknya sang ayah.
EMILIA SUSANTI, Kota, JP Radar Kediri
Mendapat kesempatan bertemu dengan Muhammad Fauzan Zakariya ibarat satu keberuntungan.
Maklum, kesehariannya lebih banyak dihabiskan di Pengalengan, Bandung, Jawa Barat. Mengikuti agenda pemusatan latihan nasional (pelatnas) cabang olahraga atletik.
Bergabung dalam pelatnas atletik jelas menyita waktunya. Termasuk sering meninggalkan bangku belajarnya.
“Saya mengerjakan tugas-tugas sekolah di sana (pelatnas di Bandung, Red),” kata pemuda yang karib disapa Ozo ini.
Memang, demi pelatnas banyak hal yang harus dia korbankan. Tak hanya mengurangi waktu belajar, juga kebersamaannya bersama keluarga.
Selain jauh, dia tak bisa seenaknya meminta izin keluar dari area pelatnas. Harus ada alasan yang jelas. Seperti untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri atau mengikuti satu kejuaraan.
“(Kalau sekarang) ini saya izin untuk persiapan porprov (pekan olahraga provinsi, Red),” ujar remaja yang baru lulus dari SMP Negeri 5 Kota Kediri ini.
Ya, Ozo memang tengah bersiap berlaga di Porprov Jatim. Pengalaman pertama yang akan dia rasakan. Mewakili daerahnya berlomba di ajang olahraga antar-daerah di Jawa Timur ini.
Ada banyak cerita menarik dari atlet yang masih berusia 16 tahun ini. Duduk santai di tribun very important person (VIP) Stadion Brawijaya, Ozo membagikan kisahnya bisa menembus pelatnas atletik.
Bermula saat dirinya gagal meraih juara di Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat provinsi. Ketika dirinya duduk di bangku kelas 2 SMP.
“Habis O2SN saya ikut lari 100 meter gawang di kejurnas (kejuaraan nasional, Red),” lanjut atlet yang kini tercatat sebagai murid baru di SMAN 8 Kota Kediri.
Menariknya, Ozo langsung mendapatkan medali emas pada kejurnas tersebut. Medali emas pertamanya setelah mengikuti berbagai kompetisi sejak sekolah dasar.
Padahal, dia baru turun untuk pertamakalinya di nomor lari 100 meter gawang. Bahkan latihannya hanya seminggu dengan berlatih teknik hanya dua kali.
“Sebelumnya, waktu O2SN itu saya ikutnya lari 800 meter, tolak peluru, sama lompat jauh. Tiga itu,” urainya.
Bermodal prestasi di kejurnas, Ozo pun dipanggil untuk mengikuti pelatnas.
Namun demikian, ada beberapa tes yang harus dijalaninya terlebih dahulu. Setelah berbagai proses, anak sulung dari tiga bersaudara itu lolos. Mendapat kabar itu, tak ada kata untuk berpikir ulang.
Kabar dipanggil pelatnas jelas membanggakan bagi seorang atlet. Apalagi Ozo memang lahir dari keluarga atlet atletik.
Ya, Ozo mewarisi bakat atlet dari sang ayah, Edy Jakariya. Sang ayah adalah pelatih Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kota Kediri.
Dia juga mantan atlet lari gawang 110 meter yang pernah tampil di Olimpiade.
Sejak kecil, dirinya memang sering ikut ayahnya melatih di lapangan. Saat itulah dia mulai ikut latihan walaupun belum rutin.
“Masih kelas 2 SD (sekolah dasar) dulu,” kenangnya disela-sela latihan.
Menjadi atlet membuatnya tak kaget harus tinggal jauh dari orang tua. Toh, dia tetap bisa berkomunikasi melalui video call setiap harinya.
Lebih dari itu, dia mendapatkan banyak pembelajaran dengan bergabung pelatnas. Mulai dari kedisiplinan hingga berlatih bersama atlet-atlet senior lainnya.
Menariknya lagi, Ozo menganggap kemenangan adalah candu. Ketika berhasil meraih juara, dia ingin terus meraihnya lagi dan lagi. Pasalnya, dia pernah merasakan tidak enaknya ketika gagal meraih juara.
“Dulu sering ikut open-open. Tapi ga pernah dapat juara, dapat capeknya aja. Kalau dapat juara itu, capeknya nggak kerasa,” ungkapnya.
Masih duduk di tribun saat menceritakan pengalaman kegagalannya, Ozon menyebutpenyebab dirinya gagal meraih juara adalah karena tidak serius dalam berlatih.
Alias tidak rutin menjalani latihan. Karena lelah itulah, dia memantapkan diri untuk berlatih serius pada saat kelas 2 SMP. Meskipun harus menjalani program latihan berat.
“Saya pernah latihan itu sampai muntah enam kali,” kenangnya.
Sehingga, Ozo mengaku tak akan menyia-nyiakan kesempatannya di pelatnas. Seusai dari porprov, dia akan kembali ke Pengalengan Bandung. Menjalani latihan rutin untuk mengikuti ajang berikutnya.
“Saya selalu diberi pesan sama ayah agar selalu lebih baik (prestasinya) dari ayah,” tandasnya.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira