Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengenal Kasatlantas Polres Kediri I Made Jata Wiranegara, Ingin Jadi Polisi karena Tinggal di Dekat Tangsi TNI

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 18 April 2025 | 05:13 WIB
I Made Jata Wiranegara. Pria asal Bali yang kini menjadi polisi. Bertugas di Kepolisian Resor (Polres) Kediri.
I Made Jata Wiranegara. Pria asal Bali yang kini menjadi polisi. Bertugas di Kepolisian Resor (Polres) Kediri.

Rumahnya di dekat barak tentara. Tiap pagi, bersama sebayanya, selalu mengekor peleton yang latihan fisik dengan berlari dan bernyanyi. Lama-lama, keinginan mengabdi pada negeri pun tumbuh.

ASAD M. S., Kabupaten, JP Radar Kediri

"Namanya anak kecil, yang awalnya sering lihat (tentara latihan) dan merasa keren. Dari situ jadi ingin. Tidak sekadar karena kerennya, juga untuk mengabdi pada negara."

Kutipan kata-kata itu keluar dari mulut I Made Jata Wiranegara. Pria asal Bali yang kini menjadi polisi. Bertugas di Kepolisian Resor (Polres) Kediri. Pangkatnya pun relatif tinggi, sudah perwira. Ditandai dengan tiga balok emas di Pundak.

Ya, pria kelahiran Tabanan tersebut berpangkat ajun komisaris polisi (AKP). Posisinya sebagai kepala satuan lalu lintas (satlantas).

Siapa sangka, jalan hidupnya menjadi seorang polisi tersebut diawali dari masa kecilnya yang tinggal di dekat tangsi militer, barak Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tepatnya markas Resimen Induk Komando Daerah Militer (Rindam) IX Udayana.

Karena dekat dengan markas militer, setiap hari depan rumahnya dilewati pasukan loreng yang sedang berlatih. Kumpulan orang gagah yang berlari membuatnya tertarik. Apalagi ketika berbaris dan berlari itu mereka selalu menyanyikan lagu-lagu pembakar semangat. 

"Wajar kan anak-anak mudah penasaran dan tertarik," kilah laki-laki kelahiran 1993 ini.

Tak hanya tertarik, Jata-demikian perwira ini biasa disapa-kecil pun melakukan hal yang dikerjakan para tentara itu. Bersama sebaya sekampungnya, dia mengekor barisan. Ikut berlari sambil menirukan nyanyian yang dikumandangkan.

"Ya senang, ngikut di belakang. Sambil ikut nyanyi-nyanyi. Walau tak hafal sama liriknya yang penting ikut nyanyi. Kan keren, jadi senang," kenangnya.

Kebiasaan itu terus dia lakukan. Sepulang sekolah atau les yang dia ikuti. Hal itu baru tidak dia lakukan bila sedang bermain sepak bola atau mainan kesukaan lain. Kebiasaan yang terus berlangsung hingga Jata beranjak dewasa.

Tanpa sadar, kebiasaan itu memupuk tekad besar di hatinya. Ingin menjadi seorang abdi negara. Melihat keseharian tentara muncul hasrat bisa mengabdi pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hingga akhirnya keinginan itu diketahui oleh kedua orang tuanya. Dan, ayah serta ibunya sangat mendukung. Kemudian menceritakan pada seorang perwira TNI bernama Wayan Merte, yang juga seorang instruktur di Rindam.

Sang perwira TNI itu merespon hasrat pemuda Jata. Yang segera melatih tanpa kendor.

"Ketika pagi belum bangun gitu, digedor-gedor. Jadi saat SMA itu ketika pagi pukul lima diajak lari pagi dulu sebelum sekolah. Sama latihan fisik," kenangnya.

Kali ini berlari-lari Jata berbeda dengan masa kecil. Dulu hanya mengekor dan sekadar bermain-main. Kini, porsinya ditentukan oleh sang perwira. Tentu saja lebih berat. Karena sudah ada tekat pada benaknya, Jata muda tetap semangat dan tanpa lelah.

"Capek tentu saja. Tapi namanya sudah punya tekad. Ya terus dikejar. Apalagi ada temannya juga. Dari situ juga tahu bagaimana kebiasaannya ketika menempuh pendidikan di kedinasan," akunya.

Berikutnya, setelah lulus SMA, dia pun memutuskan mendaftar di Akademi Kepolisian (Akpol). Memang berat dan tidak mudah seleksinya. Namun berkat keuletan dan tekatnya, serta dukungan keluarga dan orang terdekat, anak bungsu dari dua bersaudara itu berhasil lolos. Berikutnya Jata lulus Akpol pada 2015.

Dari situ pula, pengalamannya menjadi polisi sudah banyak. Beberapa posisi telah dia isi.

Di antaranya kepala Unit Pengaturan, Penjagaan, Pengawalan, dan Patroli (kanit Turjawali) Polres Madiun, kepala bagian operasional (KBO) Satlantas Polres Madiun, Kasat Reskrim Polres Kutai Timur Polda Kalimantan Timur, Paur Subbagdiapers Bagdalpers Biro SDM Polda Jawa Timur, hingga Kasat Lantas Polres Kediri saat ini.

Jabatannya itu tentu saja membuatnya sibuk. Namun, kebiasaan berlari seperti saat kecil hingga remaja tidak dia tinggalkan. Tak hanya berlari setiap pagi, setidaknya sejauh lima kilometer, Jata juga rajin mengikuti berbagai kejuaraan lari seperti maraton.

" Selain untuk cari keringat, itu juga jadi momen instrospeksi diri. Pagi-pagi lari kan segar ya. Selain itu saat lari bisa buat sambil mikir," terangnya.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #I Made #polres kediri #polisi #Kasatlantas