KEDIRI, JP Radar Kediri-Nama lengkapnya Souraiya Farina Alhaddar. Tapi cukup dipanggil dengan nama tengah, Farina.
Perannya di dunia sepak bola Indonesia sangat besar. Menjadi direktur salah satu klub besar di Liga 1, Persik Kediri.
Tapi, posisinya di sepak bola nasional tak hanya itu saja. Wanita berusia 43 tahun ini juga aktif di sepak bola wanita.
Menjadi sekretaris jenderal (sekjen) Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI).
Maka, jangan heran bila kesibukannya sangat tinggi. Aktivitasnya juga sangat padat.
Saat wawancara dengan Jawa Pos Radar Kediri pun harus dilakukan di sela-sela pertemuan dengan kolega.
“Sepak bola itu hidup saya,” ucap Farina di awal percakapan.
Perkataan itu memang singkat. Namun, punya makna mendalam. Yang berujung pada cerita menarik dari keterlibatannya di dunia sepak bola.
Menginspirasi banyak wanita lain. Khususnya yang ingin bergelut dengan olahraga yang dikenal sebagai olahraganya laki-laki ini.
Momentum kecintaannya pada sepak bola terjadi pada 1994. Ketika berlangsung Piala Dunia di Amerika Serikat.
Dari layar televisi, Farina menyaksikan pertandingan final antara dua negara besar sepak bola, Italia dan Brasil. Paling dia kenang adalah ketika Roberto Baggio, pemain Italia, gagal mengeksekusi penalti.
Tapi, yang membuat tertarik Farina bukan soal penalti tersebut. Melainkan aura kuat di stadion tempat pertandingan berlangsung.
“Saya tertarik itu lihat penontonnya, banyak banget,” kenangnya.
Nah, berawal dari ketertarikannya pada crowd itu, dia berusaha mencari tahu segala hal tentang sepak bola.
Salah satunya terkait dengan Roberto Baggio. Ujung-ujungnya, dia menjadi Juventini, fans klub Juventus, yang diperkuat Baggio waktu itu.
Tak hanya kepo dengan pemainnya saja, Farina berusaha mencari tahu segala hal yang terkait sepak bola. Termasuk organisasi induknya, Federation
Internationale de Football Association (FIFA).
“Saya belajar behind the scene-nya. Karena penasaran dengan crowd-nya. Bagaimana bisa mendatangkan orang sekian banyaknya,” katanya saat ditemui di salah satu kafe di Kota Kediri.
Sejak saat itulah Farina tidak pernah berhenti mencintai sepak bola. Namun demikian, setelah lulus kuliah, dia tidak langsung berkarir di dunia sepak bola.
Farina sempat menjajal profesi sebagai dosen selama 10 tahun.
“Saya mengajar ekonomi pembangunan,” aku wanita lulusan Universitas Nasional (Unas) ini.
Namun demikian, Farina masih memiliki keinginan kuat untuk menyelami dunia sepak bola.
Hingga akhirnya, dia melihat lowongan pekerjaan di Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada 2006. Kala itu, Farina mengaku sangat semangat.
“Dream come true,” katanya.
Impian Farina memang sudah tercapai saat ini. Selain menjabat sebagai Direktur Persik, ibu satu anak ini juga merupakan sekjen di Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI). Baginya, sepak bola adalah segalanya.
“Wanita di sepak bola. Itu salah satu cara untuk bersuara, salah satu cara untuk menunjukkan kita bisa.
Sepak bola itu juga bisa jadi jalan keluar ketika kita mengalami kepenatan, kekerasan. Melalui olahraga ini kita bisa,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah