Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sosok Mysha Anjani Anindya Fauzi, Bocah Tujuh Tahun Peraih Medali Emas Kompetisi BMX

Ayu Ismawati • Jumat, 19 Juli 2024 | 17:02 WIB
BERPRESTASI: Mysha Anjani Anindya menunjukkan medali emas yang didapatnya dari Kejurnas BMX Racing 2024.
BERPRESTASI: Mysha Anjani Anindya menunjukkan medali emas yang didapatnya dari Kejurnas BMX Racing 2024.

JP Radar Kediri - Mysha duduk berhadapan dengan sang ibu, Ayu Sarwendah, di ruang tamu rumahnya di Desa Selodono, Kecamatan Ringinrejo. Sikapnya malu-malu, tak banyak bicara. Perhatiannya justru lebih tertuju pada gawai pintar milik ibunya, yang awalnya tergeletak di meja, di hadapannya.

“Aslinya cerewet juga sebenarnya. Cuma memang kalau sama orang baru suka tiba-tiba diam,” ujar Ayu, mengomentari sikap si anak yang bernama lengkap Mysha Anjani Andindya Fauzi itu.

Bocah perempuan yang baru saja masuk di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 9 Blitar itu memang agak berbeda dengan sebayanya. Tak seperti laiknya anak perempuan seusianya yang cenderung tertarik boneka atau mainan lucu lainnya, dia justru menyukai hobi ekstrem. Lebih memilih menggeluti olahraga outdoor nan menantang seperti balap sepeda BMX.

Ayu meneruskan ceritanya, mengatakan hobi sang anak itu tak serta-merta langsung timbul dari Misya sendiri. Dia dan suaminya yang mengenalkan putrinya dengan berbagai aktivitas, baik olahraga maupun seni. Mulai dari berenang, sepeda, hingga mewarnai.

“Ternyata sukanya di olahraga dan sepeda BMX,” lanjutnya.

Tak tanggung-tanggung, sepeda BMX jadi pilihannya. Sejak masih berusia lima tahun, Mysha mulai menggeluti olahraga ekstrem itu. Tak seperti penggemar sepeda seusianya yang cenderung mulai belajar dari push bike dulu sebelum upgrade ke tingkatan yang lebih sulit.

“Dari usia tiga tahun sudah bisa naik sepeda. Dulu langsung saya kasih sepeda yang roda empat, awalnya,” urainya.

Kegemarannya dengan BMX, agaknya, juga menurun dari orangtua. Sang ayah, Ahmad Fauzi, dulunya merupakan atlet sepak bola klub Persik Kediri dan Persedikab. “Kalau anaknya laki-laki mau diikutkan sepak bola. Tapi karena perempuan, akhirnya cari olahraga lain karena sepak bola wanita masih belum banyak di sini,” kelakarnya.

Agaknya, hobinya itu juga selaras dengan karakternya. Gadis cilik itu berperawakan tomboi. Kaos jersei sepeda dan celana jeans panjang menjadi pelengkap penampilannya yang ‘garang’. Rambut bondolnya menambah kesan tomboi dari sulung dua bersaudara itu.

“Kemarin waktu libur sekolah dia minta diwarnai rambutnya. Katanya biar mirip sama idolanya yang waktu itu juga ikut kejurnas,” terangnya soal rambut putrinya yang pendek berwarna cokelat di beberapa sisi.

Menggeluti olahraga ekstrem itu awalnya tak selalu berjalan lancar. Ayu sendiri lahir dari keluarga guru. Perempuan yang kini mengajar di SMKN 2 Kota Kediri itu sempat ditentang keluarga saat mengarahkan anaknya di olahraga balap sepeda BMX.

“Bagi saya, sekarang belajar saja nggak cukup. Anak tetap harus punya keterampilan. Syukurnya, Mysha juga semangat mengikuti ini,” katanya.

Pasalnya, untuk latihan saja harus rutin dilakukan setiap sore. Tak hanya berlatih BMX racing, melainkan juga olahraga fisik selayaknya atlet lainnya. Tak jarang, putrinya merajuk jika tak mendapat ‘hadiah’ dari kerja kerasnya selama berlatih.

“Tetap ada ‘pajak’-nya Mbak. Biasanya kalau habis latihan, selalu beli jajan kesukaannya dia. Dia sekarang lagi sukanya susu rasa pisang,” katanya diikuti tawa.

Belum lagi, menggeluti balap sepeda juga erat dengan risiko cedera. Jatuh saat berlatih atau saat bertanding sudah menjadi keniscayaan. Rasa takut dan waswas tentu selalu menghinggapi keluarga asal Kecamatan Ringinrejo itu.

“Pernah waktu bertanding itu jatuh langsung (terpelanting) ke belakang. Itu semua yang nonton juga langsung teriak,” kenangnya pada insiden yang pernah menimpa putrinya itu.

Perlengkapan keselamatan seperti helm tentu menjadi barang wajib. Selain doa dan dukungan yang selalu dia panjatkan. Menjamin anaknya selalu mengenakan pelindung diri selama bertanding maupun latihan juga jadi siasatnya mengikis rasa khawatir.

Dapat oleh-oleh memar di kaki setiap pulang latihan maupun bertanding pun sudah hal wajar bagi Mysha. Ditanya apakah dia kapok, gadis cilik itu pun spontan menjawab dengan gelengan kepala.

“Anaknya sendiri juga untungnya semangat. Terkadang kalau saya masih repot gitu, dia yang ngajak berangkat latihan,” pungkasnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #kediri #sosok inspiratif #kompetisi #bmx #peraih medali emas #jawa pos