Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Dimeriahkan Pentas Kesenian Jaranan, Jamasan Arca Totok Kerot Sedot Minat Ratusan Warga

Diana Yunita Sari • Jumat, 10 Juli 2026 | 23:03 WIB
LESTARIKAN BUDAYA: Salah seorang turis asal Jepang mengikuti prosesi jamasan Arca Totok Kerot di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu kemarin sore. (Foto: Wahyu Adji)
LESTARIKAN BUDAYA: Salah seorang turis asal Jepang mengikuti prosesi jamasan Arca Totok Kerot di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu kemarin sore. (Foto: Wahyu Adji)
 
JP Radar Kediri – Arca legendaris Totok Kerot kembali menjadi pusat perhatian masyarakat. Kamis (9/7), Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri bersama para Juru Pelihara (Jupel) Cagar Budaya menggelar prosesi jamasan atau pembersihan arca.

Kegiatan yang memasuki tahun kedua ini merupakan inisiatif para jupel sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian warisan sejarah. Prosesi digelar bertepatan dengan Bulan Sura atau tahun baru Islam.

“Momentum bulan Sura ini kami maknai sebagai bentuk rasa syukur menyambut tahun baru Jawa sekaligus memohon keselamatan dan kelancaran di tahun yang akan datang,” ujar Kabid Sejarah dan Purbakala Disparbud Kabupaten Kediri Eko Priatno Triwarso

Baca Juga: Jaranan Pegon Kediri Meriahkan Gerebek Sura di Kawasan Goa Selomangleng

Dia mengatakan, jamasan itu merupakan bagian dari kegiatan merawat sekaligus menjaga kelestarian situs bersejarah.

Rangkaian kegiatan diawali dengan selamatan dan kenduri. Lalu dilanjutkan pembacaan legenda Totok Kerot.

Hingga puncaknya prosesi pembersihan arca secara simbolis. Masyarakat juga diperbolehkan ikut serta membersihkan arca bersama-sama.

Tak hanya itu, pengunjung yang hadir juga dimanjakan dengan penampilan kesenian jaranan. Eko menegaskan, proses pembersihan dilakukan sesuai kaidah pelestarian cagar budaya. Arca hanya dibersihkan menggunakan air dan sikat ijuk tanpa bahan kimia apa pun.

“Tidak boleh menggunakan sabun atau cairan pembersih lainnya. Hanya air dan sikat ijuk agar tidak merusak permukaan batu,” jelasnya.

Baca Juga: Tradisi Mendem Golekan di Kandangan Kediri, Ritual Tolak Bala Sambut Bulan Sura

Air yang digunakan dalam prosesi jamasan diambil dari tujuh sumber mata air. Meliputi Sumber Bendo, Sumber Tengger atau Kemanten Wonorejo, Menang Kendung, Sumberejo, dan Sendang Tirtokamandanu. Angka tujuh dipilih karena melambangkan pitulungan atau pertolongan.

Selain memiliki nilai pelestarian, jamasan juga menjadi sarana refleksi untuk mengenang ajaran luhur para leluhur. Menurut Eko, masyarakat tidak hanya diajak menjaga fisik cagar budaya. Tetapi juga meneladani nilai-nilai gotong royong dan kebaikan yang diwariskan generasi terdahulu.

Tahun ini acara Jemasan Totok Kerot juga menarik perhatian pegiat budaya asal Jepang dan diikuti ratusan warga.

Arca Totok Kerot sendiri diperkirakan berasal dari masa akhir Kerajaan Kediri sekitar abad ke-13 dan dikenal luas melalui legenda putri yang dikutuk menjadi batu karena mengejar cinta Sri Aji Jayabaya.

Baca Juga: Sambut Bulan Sura, Ritual Larung Sesaji di Gunung Kelud Kediri Digelar Terbatas untuk Tokoh Desa

Editor : Andhika Attar Anindita
#jemasan #kabupaten kediri #juru pelihara candi #totok kerot #tradisi suroan